Opini

Teori: Pahami Jangan Dihafal

Manajemen pertunjukan, ya matakuliah ini bisa dibilang sebagai matakuliah paling dasyat dari perkuliahan saya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen Satya Wacana beberapa waktu yang lalu. Kok bisa jadi dasyat? Bisa karena salah satu dosen senior Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi pernah bilang bahwa matakuliah manajemen pertunjukan ini sengaja dibuka di akhir perkuliahan untuk mengaplikasikan hasil perkuliahan terhadap praktek langsung di lapangan.

Sepintas, terdengar sepele memang, karena sebagai mahasiswa yang mengambil matakuliah tersebut, kita hanya dihadapkan untuk dapat menerapkan hasil perkuliahan kita selama ini pada matakuliah manajemen pertunjukan.

Semudah itukah? Oh tentu tidak. Dasyatnya ini terbukti ketika saya mengambil matakuliah manajemen pertunjukan tersebut. Pertemuan pertama masih dengan penjabaran silabus, pertemuan kedua mulai dibentuk kelompok-kelompok manajemen pertunjukan, pertemuan ketiga kita mulai dilepas untuk merencanakan apa yang akan kita pertunjukan kepada masyarakat dan hubungan dengan dosen pengampu pun hanya sebatas konsultasi semata, pertemuan selanjutnya mulailah pencarian konsep pertunjukan dan disitulah dinamika kelompok yang sesungguhnya terjadi.

Nah pemahaman akan teori yang kita dapat di bangku perkuliahan mulai diuji disini, dengan berbagai tuntutan pula, katakanlah sebagai seorang komunikator, kita dituntut untuk menghadapi keberagaman kepribadian dan pola pikir dalam suatu kelompok, bagaimana kita menangkap tren apa yang sedang berkembang di masyarakat, bagaimana kita merancang dan mengemas suatu pertunjukan dengan baik, bagaimana mencari sponsor untuk turut mensukseskan pertunjukan tersebut, dan bagaimana mengkomunikasikan pertunjukan tersebut kepada masyarakat sebagai komunikan. Tidak semua praktik semudah memahami teori, tetapi sebaliknya praktik menjadi mudah jika kita memahami teori.

Jadi jika selama perkuliahan kita hanya menghafal teori demi teori untuk mencapai nilai yang fantastis, akan terlihat jelas ketika dihadapkan dengan permasalahan yang nyata kita tidak bisa menyelesaikannya. Berbeda dengan jika kita memahami teori yang ada, kita hanya tinggal menerapkannya sesuai dengan permasalahan yang ada dan permasalahan itupun akan selesai.

Satu contoh permasalahan dari kelompok manajemen pertunjukan yang kebetulan saat itu saya ketuai yaitu SenthirArt Production adalah mengenai masalah perijinan tempat dengan birokrasi yang berbelit-belit dan panjang dengan pihak pengamanan dan pemerintah setempat pada satu minggu menjelang hari pelaksanaan. Masalahnya sebenarnya hanya satu, perijinan saja, akan tetapi berimbas kepada bagian promosi dari kelompok manajemen pertunjukan ini, promosi untuk pertunjukan tidak dapat dijalankan kalau belum ada tempat dimana pertunjukan itu akan diadakan. Semua cara formal sudah dijalankan oleh teman-teman dari seksi perlengkapan, dari mulai meminta surat pengantar dari fakultas sampai kepada mencari orang dalam untuk mengurus perijinan tersebut, tapi nihil, dan berujung kepada keadaan emosi anggota dalam kelompok manajemen pertunjukan tersebut yang semakin meledak-ledak dan puluhan konfirmasi dari sponsor yang mengeluh belum adanya imbal balik promosi terhadap bentuk sponsor yang telah diberikan kepada SenthirArt Production.

Disaat hanya tinggal beberapa hari lagi menuju pertunjukan dan dengan kondisi yang semakin emosional, hanya satu strategi yang berhasil dijalankan, yaitu pendekatan personal. Ya cara berinteraksi dengan lawan komunikasi dengan cara ini cukup ampuh untuk meredam emosi masing-masing anggota, melakukan negosiasi dengan pihak sponsor dan juga untuk meloloskan perijinan dari birokrasi yang berbelit-belit dan panjang. Lantas darimana strategi ini? Dari psikologi komunikasi inilah muncul strategi ini, karena dari matakuliah inilah kita bisa tau bagaimana cara kita melakukan pendekatan terhadap lawan komunikasi kita dari membaca sisi psikologis seseorang untuk menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif.

Nah, dari contoh permasalahan tersebut kita bisa mengetahui bahwa tidak semua praktik semudah memahami teori, tetapi sebaliknya praktik menjadi mudah jika kita memahami teori. Jadi jangan sia-siakan waktu kuliah kita hanya utuk menghafal teori saja, pahami, dan suatu saat pasti akan ada manfaat yang berarti yang akan kita petik.

Hanna Carissa

Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi

Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s