Forum

Memahami Konflik Sampit

Sebagaimana kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak sekali suku bangsa dan etnis. Menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa. Ini adalah angka yang sangat besar untuk menunjukkan jumlah suku bangsa yang terdapat dalam suatu negara.

Angka yang amat besar itu juga menyatakan dengan gamblang bahwa Indonesia sangatlah majemuk. Dengan kemajemukan ini, bangsa kita tentu saja tidak bisa menghindari konflik yang memang sudah wajar terjadi di manapun. Tingkat sensitifitas akan etnis di Indonesia sangtalah besar, jika dilihat dari kemajemukan yang dimiliki.

Dalam bukunya yang berjudul “Ethnic Conflict A Global Perspective”, Stefan Wolff mendeskripsikan konflik sebagai situasi dimana dua aktor atau lebih mewujudkan tujuan yang bertentangan. Konflik etnis adalah salah satu bentuk konflik tertentu yang tujuan, dari setidaknya satu pihak konflik, didefinisikan dalam bentuk etnis.

Dalam tulisan ini saya akan membawa kasus kerusuhan di Sampit, Kalimantan Tengah. Kasus ini bisa dibilang sebagai konflik etnis karena melibatkan dua etnis yang berada di Sampit pada waktu itu yaitu etnis Dayak dan etnis Madura. Konflik ini juga merupakan salah satu konflik kekerasan yang paling berdarah pada saat itu.

Tragedi ini terjadi dengan menyisakan duka yang mendalam atas kasus konflik etnis. Bukan hanya etnis saja yang menjadi sumber permasalahan disini, melainkan juga ada factor mendasar lainnya. Seperti ekonomi dan politik.

Tradisi Memenggal Kepala
Terdapat sekitar 3 juta orang yang bisa diklasifikasikan sebagai orang Dayak di Pulau Kalimantan. Mayoritas suku Dayak adalah orang-orang yang bertani. Namun mereka juga melakukan perburuan dan mengumpulkan hasil hutan untuk dapat diperjualbelikan dan dapat menjadi sesuatu kekuatan ekonomi di sana.

Suku Dayak Iban memiliki kebudayaan untuk memenggal kepala. Karena mereka percaya dengan mengambil kepala (memenggal kepala) adalah mengambil kekuatan si korban. Kegiatan memenggal kepala ini disebut mengayau. Mengayau sendiri berasal dari dasar kata “kayau” yang berarti memotong kepala musuh.

Kegiatan ini merupakan tradisi untuk menunjukkan keberanian, melindungi warga suku, memperluas wilayah, dan salah satu cara untuk bertahan hidup. Tradisi ini dilakukan saat berperang yang menandakan mereka adalah pemenang dari peperangan. Suatu kebanggan utnuk dapat membawa banyak kepala musuh ketika pulang dari berperang, karena hal tersebut menandakan semakin luasnya kekuasaan mereka. Hal ini menyebabkan banyak wanita pada saaat itu menjadi janda karena meninggalnya suami mereka akibat tradisi ini. Alfred Russel Wallace (1986) mengartikan tradisi mengayau sebagai “a custom originating in the petty wars of village with village and tribe with tribe.” Namun tradisi ini bertahan sampai agama Kristen secara luas dikenalkan di Kalimantan. Tradisi ini berakhir sampai abad 19 dan 20.

Datangnya Madura
Pemerintah kolonial Belanda pertama kali membawa orang-orang Madura ke Kalimantan untuk membangun jalan pada tahun 1930-an. Hal ini berlangsung hingga tahun 1990-an, ketika buruh-buruh Madura membangun akses jalan trans-kalimantan melewati Kalimantan Tengah.

Banyak petani tak bertanah dari Jawa dan pulau Madura pindah ke Kalimantan Barat sebagai bagian dari program transmigrasi pemerintah yang menawarkan lahan gratis, perumahan dan bantuan pangan.

Orang-orang Madura di Kalimantan memiliki asosiasi etnis mereka, bernama Ikama dan diketuai oleh Marlinggi. Populasi orang Madura di Kalimantan Tengah hanya sektiar 6-7 persen (Internasional Crisis Group 2001a:1), sedangkan poulasi Dayak mencapai 41 persen menurut sensus tahun 2000.

Kedatangan komunitas Madura ini bukan hanya mendatangkan sejumlah orang, namun juga kebudayaan dan kebiasaan hidup yang biasa mereka jalani sebagaimana yang mereka lakukan disaat mereka masih di tanah kelahiran mereka. Hal ini secara jelas telah membentuk suatu pengotakkan akibat adanya kebiasaan hidup dan kebudayaan yang berbeda. Mulai dari situlah terbentuk suatu identitas bahwa ‘saya adalah orang Madura’ dan ‘saya adalah orang Dayak’.

Konflik di Kalimantan Barat
Di Kalimantan Barat sudah terjadi dua peristiwa kekerasan yang amat besar, yaitu pada tahun 1997 dan pada tahun 1999. Konflik pada tahun 1997 menewaskan 500 korban jiwa dan 20.000 orang Madura bermigrasi ke tempat lain, sedangkan pada tahun 1999 konflik serupa menwaskan lebih sedikit korban jiwa namun malah mengungsikan sekitar 35.000 warga Madura. Dan angka para pengungsi ini semakin membengkak menjadi 60.000 jiwa pada konflik di tahun selanjutnya (tahun 2000).

Konflik-konflik tersebut memiliki target yang sama, yaitu imigran Madura. Dengan cara membakar rumah, pembunuhan massal dengan pemenggalan kepala, serta pengusiran besar-besaran. Dan pergerakkan bersenjata itu mendeskripsikan diri mereka sebagai budaya asli yang memprotes akan kehadiran imigran.

Konflik-konflik yang terjadi pada tahun 1997 dan 1999 menyebabkan arus migrasi yang besar. Namun migrasi ini tidak difasilitasi oleh pemerintah, sehingga berita tentang pengunsian ini seakan tidak begitu terkenal.

Kerangka Teori
Etnis menurut Anthony D. Smith adalah “a community characterized by a common collective name, shared myth of common descent, shared historical memories, one or more elements of common culture, an association with a specific territory, and a sense of solidarity.” Sense of Solidarity yang diartikan oleh Smith adalah perasaan yang dalam atas komitmen sebuah grup dan diekspresikan di dalam nilai-nilai dan tindakan yang altruistik.

Lambang Trijono dalam bukunya yang berjudul “The Making of Ethnic and Religious Conflict in Southeast Asia”, mengatakan bahwa konflik etnis didasari oleh identitas budaya atau bisa dibilang sebagai konflik identitas. Dalam pandangan ini konflik identitas terjadi disaat komunitas budaya dalam suatu negara ataupun komunitas budaya antar negara tidak bisa saling berbagi identitas mereka bersama-sama, atau saling bertentangan satu sama lain.

Identitas budaya adalah hal yang sangat rumit, karena sesorang tidak hanya mempunyai satu identitas, melainkan multidimensi identitas. Ada dua macam identitas yang bisa diidentifikasi dalam sisi seseorang, yaitu identitas yang sejak awal sudah didapat sejak lahir dan tidak dapat dipungkiri (yang berkaitan dengan suku, ras, tempat lahir, etnis, agama), dan identitas yang didapat karena pilihan ataupun usaha (kelas ekonomi, kewarganegaraan, profesi, posisi politik, status sosial).

Ada tiga pandangan berbeda dalam melihat bagaimana identitas terbentuk, berubah, atau hilang sehingga dapat mempengaruhi konflik etnis, yaitu pandangan primodialis, pandangan instrumentalis, dan pandangan konstruktif atau bisa dibilang realis.
Pandangan primordialis melihat identitas budaya adalah stabil, fixed, tidak berubah, dan bila berubah itu hanya terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama.

Sedangkan pandangan instrumentalis memahami identitas budaya sebagai produk dari manipulasi dan mobilisasi dari elit politik untuk tujuan politik mereka. Dalam pandangan ini nilai-nilai budaya dan terapan dari suatu grup etnis menjadi sumber politik bagi elit untuk bisa berkompetisi dalam politik dan kekuatan ekonom.

Dan pandangan yang terakhir, yaitu pandangan konstruktisionis, menyatakan bahwa anggota komunitas dan elit politik bekerja sama dalam membuat konflik etnis.

Mitos, sejarah, tradisi, lokalitas dan simbol budaya membentuk suatu identitas yang mana identitas itu akan digunakan oleh para elit untuk menciptakan atau bahkan rekonstruksi suatu identitas komunal baru yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Ada tiga lingkup konflik etnis dan agama : (1) konflik etnis dalam konteks interrelasi antar grup etnis; (2) konflik etnis dalam relasinya akan isu-isu dari hubungan antar etnis dan negara; (3) konflik etnis dalam relasinya akan isu-isu tentang hubungan antara entis dan globalisasi.

Michele Lamont dalam buku yang berjudul “Handbook of Sosiological Theories”, meyakinkan bahwa terjadi ketidaksamaan (inequality) karena adanya kesadaran atas identitas (ras, suku, agama, status sosial, tingkat eknomi, dan sebagainya). Ia juga menjelaskan bahwa konsep pembatasam adalah yang utama dalam pembelajaran tentang ras dan etnis.

Pemahaman Konflik Sampit
Ketika membahas tentang konflik Sampit pasti langsung terbayang bahwa ini adalah salah satu kasus konflik etnis. Hanya etnislah yang meneyebabkan dan memicu konflik ini hingga dapat terjadi pembunuhan massal. Namun saya yakin tidak hanyalah etnis yang menyebabkan konflik Sampit bisa terjadi hingga sebegini massalnya.

Menurut saya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik di Sampit ini. Yaitu adanya faktor ekonomi dan identitas etnis.

Faktor Ekonomi
Pada pemerintahan Orde Baru, kebijakan-kebijakan yang dibuat didasari oleh paradigma yang tidak tepat. Yaitu paradigma yang semata-mata menekankan pada pertumbuhan ekonomi semata dan kestabilan semu yang dirumuskan dari atas-bawah (top-down policy) dan sangat sentralistis. Kebijakan pembangunan yang dibuat cenderung sangat mengandung unsur kapitalistis sempit dan keserakahan, sehingga sangat mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan.

Baru pada tahun 1999, kewenangan mengelola SDA dilimpahkan kepada daerah melalui kebijakan desentralisasi. Namun, baru berjalan 5 tahun kebijakan tersebut dicabut oleh pemerintah pusat. Kembalilah hutan dirusak, alam hancur akibat kerakusan pemerintah pusat. Hal ini membuat masyarakat asli dan pedalaman menjadi termajinalkan.

Selain itu masyarakat pedalaman dan perhuluan (Dayak dan Melayu) menjadi semakin terdesak utnuk dapat mencari mata pencaharian dan lapangan kerja. Karena pengambilalihan hak atas tanah untuk lahan HPH, pengekploitasian hutan secara besar-besaran, dan pengalihan fungsi hutan.

Adanya fakta-fakta yang sudah dipaparkan di atas, menurut saya turut campur andil dalam pembentukan karakter masyarakat. Kelakuan pemerintah yang begitu egois sangat menekan penduduk asli. Hilangnya sumber daya, tempat mereka tinggal, serta semakin sulitnya mencari lapangan pekerjaan menyebabkan ekonomi masyarakat asli khususnya Dayak.

Apalagi ditambah dengan masuknya orang asing ke tempat mereka, yaitu orang-orang Madura. Orang-orang Madura yang datang akibat diadakannya program migrasi oleh pemerintah tentu saja membutuhkan pekerjaan. Lalu mereka bekerja di lahan yang awalnya hanya untuk orang-orang asli Kalimantan.

Masyarakat Dayak yang ekonominya sudah dihimpit oleh pemerintah sekarang ditambah oleh hadirnya orang-orang Madura yang sudah mulai menguasai hamper semua lapangan pekerjaan. Tentu saja tingkat kebringasan mereka meningkat. Dan mereka mengambil objek orang-orang Madura, orang asing yang tiba-tiba datang dan mengambil pekerjaan mereka dan menghimpit perekonomian mereka.

Faktor Identitas Etnis-Sosial-Budaya
Dengan adanya kesadaran identitas etnis di masing-masing pihak, apa yang sebetulnya dapat dihindari (masalah-masalah keil yang dapat diselesaikan dengan baik-baik) malah menjadi suatu pemicu untuk terjadinya konflik.

Konflik di Sampit (Kalteng) jelas merupakan konflik etnis. Bila telah dijelaskan adanya faktor ekonomi dan faktor politik, sebetulnya mungkin tidak akan terjadi suatu konflik yang amat berdarah bila mereka satu etnis Dayak maupun Madura. Tetapi dengan kesadaran identitas masing-masing mereka bahwa saya Dayak, saya Madura, hal-hal di atas yang sebetulnya bisa diredam malah menjadi pemicu konflik.

Identitas akan etnis menimbulkan suatu sensitifitas bagi masing-masing mereka (Dayak dan Madura). Perbedaan budaya menjadi sekat berduri yang kalau kita tidak berhati-hati dalam bersikap akan menjadi sangat merugikan.

Dengan adanya bukti bahwa dalam konflik tersebut orang-orang Dayak memenggal kepala lawannya, dalam konteks ini masyarakat Madura, saya membuat hipotesis bila masyarakat Dayak kembali menggunakan budaya ngayau mereka dalam konflik ini. Walaupun banyak sumber mengatakan bahwa tradisi ini sudah lama punah, tapi saya percaya bahwa akar dari pemenggalan kepala ini adalah budaya ngayau mereka. Karena budaya adalah budaya, walaupun secara fisik sudah hilang, tetap saja mengalir darah nilai-nilai yang hilang tersebut.

Smith mengatakan bahwa dalam suatu etnis ada yang dinamakan sense of solidarity, dimana ditunjukkan melalui aksi-aksi yang tindakan yang altruistik. Di sini masyarakat Dayak sudah merasa terancam dengan adanya himpitan ekonomi, dan dengan terbentuknya identitas ‘saya Dayak, kamu Madura’, muncullah suatu sensitivitas etnis yang menjadi trigger konflik ini. Apalagi menurut data, ketidakmerataan lebih berpihak pada Dayak, Madura seakan lebih diuntungkan dengan adanya kebijakan ekonomi. Duar! Pecahlah konflik atas nama etnis.

Menurut saya konflik ini terjadi karena adanya rasa solidaritas etnis masyarakat Dayak Kalteng dengan masyarakat Dayak Kalbar. Dengan terjadinya konflik berdarah antar Dayak dan Madura di Kalbar, masyarakat Dayak Kalteng juga seakan merasakan perasaan yang sama dengan kehadiran masyarakat Madura di wilayah mereka.

Dalam kasus Tragedi Sampit ini, penyebabnya bukan saja masalah etnis, melainkan ada sebab ekonomis juga. Dan inti dari permasalahan ini adalah identitas. Bila tidak adanya identitas ‘saya Dayak kamu Madura’, mungkin kasusnya tidak terjadi ataupun bila terjadi tidak akan sebesar ini. Hal ini dapat diselesaikan melalui jalan mediasi. Mereka harus tahu atas adanya kesetaraan. Kebijakan ekonomis ataupun politis tidak boleh berat sebelah, karena adanya identitas. Sebisa mungkin mencari jalan dan hasil yang terbaik bagi kedua belah pihak. 

Sumber Referensi
Bertrandt, Jacquis. 2004. Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia. New York: Cambridge University Press.
Klinken, Garry van. 2007. Communal Violence and Democratization in Indonesia : Small Town War. New York: Routledge.
Lambang Trijono, M. Najib Azca, Tri Susdinarjanti, Moch. Faried Cahyono, dan Zuly Qodir (editor). 2004. Potret Retak Nusantara Studi Kasus Konflik Di Indonesia. Yogyakarta: CSPS BOOKS.
Malesevic, Sinisa. 2006. Identity as Ideology : Understanding Ethnicity and Nationalism. Hampshire: PALGRACE MACMILLAN.
Trijono, Lambang, 2004. The Making of Ethnic and Religious Conflict in Southeast Asia. Yogyakarta: CSPS BOOKS.
Online :
https://www.fas.org/irp/world/para/Dayak.htm
http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2586/mengayau-upacara-keberanian-laki-laki-Dayak-iban-kalimantan-barat
http://www.penn.museum/documents/publications/expedition/PDFs/30-1/Jessup.pdf

Penulis : Gabriela Agmassini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s