Forum

Ruang Publik : Menjunjung Tinggi Kebebasan Berbicara

Budayakan Diskusi Mahasiswa

Salah satu gagasan terkenal dari Jurgen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman, adalah konsep mengenai Ruang Publik. Ruang publik (Jerman : Öffentlicheit) mengacu pada suatu ruang yang dapat di akses semua orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dan di mana juga mengacu peranan masyarakat warga dalam demokrasi. Kajian Habermas mengenai ruang publik ini terbentuk dari kedai-kedai minum di Eropa abad Pencerahan, karena di tempat-tempat inilah para saudagar dan masyarakat kelas menengah berkumpul membicarakan keadaan bisnis mereka yang kemudian berujung kepada pembicaraan mengenai kondisi sosial masyarakat. Persoalan-persoalan mereka kemudian disebarluaskan melalui media cetak dengan cara-cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Ruang publik erat kaitannya dengan demokrasi. Demokrasi adalah bagaimana suatu sistem berjalan dimana setiap orang yang berada dalam sistem demokrasi tersebut mempunyai hak yang setara untuk mengubah setiap keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupannya. Siapapun yang berada dalam sistem demokrasi tersebut, berhak untuk mengajukan bentuk penolakan, gugatan dan protes terhadap keputusan-keputusan tersebut. Bentuk partisipasi politis tidak hanya bersifat penolakan, tapi juga bisa dalam bentuk menyetujui dan meng-iyakannya.

Lalu bagaimana bentuk peranan masyarakat warga dalam demokrasi tersebut? Ruang publik adalah panggung bagi gerakan-gerakan partisipasi politis dalam bentuk hukum demokratis, dan dimana aktor penggeraknya adalah bukan sekedar orang-orang atau individu-individu tertentu, melainkan juga bagian dari bentuk hukum demokratis tersebut. Artinya, mereka adalah para anggota sebuah komunitas yang memiliki hak-hak, termasuk di dalamnya hak-hak untuk partisipasi politis. Mereka adalah para warganegara, atau mereka hanyalah warga kampung dan mahasiswa.

Ruang publik di dunia maya bisa menjadi tempat melaksanakan diskusi kritis menyangkut keprihatinan kita bersama warga dunia nyata baik itu perwakilan dari suara orang banyak atau hanya merupakan opini pribadi. Tapi semua kembali ke pribadi masing-masing bagaimana menyikapi hal tersebut. Seharusnya ruang publik menjadi tempat agar orang-orang dapat menyampaikan opini mereka secara bebas terlepas dari tekanan siapapun. Bebas dalam artian ini tentu saja bukan bebas dengan sebebas-bebasnya ngebacot tanpa memberikan argumentasi yang jelas. Seseorang yang menyampaikan penolakan atau menyetujui keputusan harus memberikan alasan yang jelas kenapa ia menyampaikan penolakan atau menyetujui keputusan tersebut.

Dalam pemikiran Habermas tentang ruang publik sendiri bertujuan untuk membentuk opini dan kehendak (opinion and will formation) yang mengandung kemungkinan generalisasi, yaitu mewakili kepentingan umum. Yang di maksud Habermas tentang generelisasi bukanlah sekedar arti statistik atau seberapa banyak orang yang terwakili oleh opini tersebut, melainkan filosofis karena bersandar pada etika diskursus.

Lentera, sebagai sebuah KBM Jurnalistik di bawah naungan senat mahasiswa Fiskom, mempunyai sebuah website dan buletin yang menjadi salah satu bagian kecil bentuk-bentuk ruang publik tersebut. Para anggotanya dapat meliput, menulis dan mempublikasikan tulisan mereka secara bertanggung jawab. Secara tidak langsung setiap orang bisa memberikan opini mereka. Dimana terkadang menuliskannya lebih mudah ketimbang mengucapkannya secara langsung.

Ruang publik ini harus di manfaatkan sebesar-besarnya tanpa harus di dorong oleh kepentingan pihak tertentu. Melainkan sebagai suatu kepentingan yang mewakili publik dan pendapat umum. Meskipun banyak kritik dan sikap skeptis ditujukan terhadapnya, konsep ruang publik harus tetap menjadi tempat untuk membela kebebasan individu untuk berpendapat. Walaupun bentuknya hanya sebuah opini dan kritik terhadap suatu keputusan tertentu.

Gerakan protes sebagai bentuk desakan politis memang tidak selalu berhasil dalam mempengaruhi jalannya suatu pemerintahan, baik itu dalam bentuk yang sangat besar seperti sistem pemerintahan kenegaraan maupun yang hanya sekedar urusan kemahasiswaan kampus. Namun tidak jarang itu mendesak para pemegang otoritas untuk merevisi kebijakan-kebijakan dan keputusan yang mereka ambil.

Ruang Publik bisa menjadi senjata bagi mereka yang pandai menggunakannya, atau hanya sekedar sengatan kecil bagi yang berusaha menggunakannya untuk menyindir secara tidak langsung. Tapi mari berharap bahwa setiap pembuat dan pelaksana keputusan dapat menyikapi setiap opini sebagai suatu kritik dan saran yang konstruktif dan membangun. Mengambilnya opini tersebut agar kedepan para pemegang otoritas tidak terjatuh kedalam lubang yang sama dua kali. Bukankah baik jika para pemegang otoritas –apapun bentuknya- selalu membuka mata dan mendengarkan suara-suara orang lain sebagai instrospeksi dalam sistem pemerintahan dan organisasi?

Acuan :
1. F.Budi Hardiman (Editor), Ruang Publik : Melacak “Partisipasi Demokratis” dari Polis sampai Cyberspace
2. ….., 75 Tahun Jurgen Habermas dalam Basis, edisi November – Desember 2004
3. Jurgen Habermas. Ruang Publik : Sebuah KajianTentang Kategori Masyarakat Borjuis. Kreasi Wacana. 2010.

Penulis : Bima Satria Putra

Blog : http://bimasatriaputra.wordpress.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s