Opini

Kebebasan Yang Kebablasan!

Sudah 15 tahun usia reformasi, banyak yang telah kita dapatkan dari perjuangan yang melelahkan ; hak asasi manusia, demokrasi dan tentu saja, kebebasan pers. Pers atau media massa merupakan pilar ketiga demokrasi setelah trias politica ; yudikatif, eksekutif dan legislatif. Pers secara tidak langsung membantu mengawasi kinerja lembaga struktural tersebut, mengkritisi kebijakan pemerintah dan membentuk opini masyarakat. Ruang publik dapat menjadi panggung politis setiap unsur masyarakat untuk dapat berbicara dengan bebas dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab terbebas dari tekanan siapapun.

Sayangnya kebebasan yang telah didapatkan tersebut di gunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Misalkan pemberitaan yang tidak berimbang dan kepemilikan media yang tidak menutup kemungkinan di salahgunakan oleh tokoh-tokoh politik tertentu. Dan sekarang sistem komunikasi Indonesia semakin berwarna dengan beredarnya tabloid Obor Rakyat yang tidak mengikuti kaidah jurnalistik yang baik dan benar. Obor Rakyat memanas-manasi iklim politik nasional menjelang pemilu 2014 dan menciderai kerukunan suku bangsa, ras dan agama yang beragam di Indonesia dengan mengangkat isu-isu SARA.

Pemberitaan yang tidak proporsional dan tanpa verifikasi informasi yang valid pada tabloid Obor Rakyat jelas berusaha mencoba untuk menjatuhkan salah satu pasangan capres dalam Pemilu 2014. Obor Rakyat juga terbit tanpa badan hukum Indonesia sesuai dengan UU Pers Nomor 40 Tahun 1999. Lagi, Obor Rakyat terbit tanpa susunan dan alamat redaksi yang benar.

Walaupun pengelola dan pemimpin redaksi Obor Rakyat telah mengakui diri, tetap, Obor Rakyat bukan terbitan yang beretika. Yang ditakutkan penulis adalah, terbitan ini memancing konflik antarumat beragama dan golongan politik tertentu. Ketakutan ini tentu saja beralasan mengingat kekuatan media dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap lingkungannya (cultivation analysis) dan bagaimana media massa mampu mempengaruhi masyarakat untuk bertindak (hypordemic needle theory).

Untunglah masyarakat sudah semakin dewasa dan kritis, masyarakat bukan khalayak yang pasif dan terpengaruh begitu saja terhadap pesan media yang disampaikan. Walaupun demikian, tetap harus ada tindakan serius dari pemerintah, baik itu Dewan Pers dan kepolisian untuk menjerat pelaku penerbitan, menarik tabloid Obor Rakyat dari peredaran dan mencegah kemungkinan penerbitan sejenis terulang lagi di masa depan.

Meskipun sudah ada laporan dari salah satu tim hukum capres, pihak berwenang tetap melakukan pembiaran terhadap penerbitan ini hingga berlarut-larut. Kebebasan ini seharusnya digunakan untuk menyatakan pendapat bebas dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Jangan sampai kebebasan pers yang telah susah payah didapatkan, diawasi kembali secara berlebihan oleh pemerintah karena terbitan-terbitan yang tidak beretika tersebut! Yang jelas, seharusnya media massa menjadi alat kontrol sosial (social control), bukan merusaknya. Sebab di situlah salah satu peranan media massa dalam proses demokratisasi di negara ini.

Penulis : Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s