Opini

Gambar Seram Hiasi Kemasan Rokok

rokok

Selasa (24/6) pemerintah secara resmi menetapkan aturan baru soal kemasan rokok. Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Rokok dan Tembakau, setiap produsen rokok diwajibkan mencantumkan beberapa gambar dampak kesehatan akibat rokok.

Aturan ini secara rinci menjelaskan, gambar tersebut harus dicantumkan di kemasan bagian depan dan belakang, serta gambar tersebut harus  menutupi 40 persen dari kemasan depan dan belakang. Gambar yang ditampilkan ada beberapa macam, yakni kanker mulut, orang merokok dengan asap membentuk tengkorak, orang merokok dengan anak di dekatnya, kanker tenggorokan, dan paru-paru yang menghitam karena kanker.

Dengan diberlakukannya peraturan tersebut, Indonesia telah mengikuti Australia, Malaysia, dan Singapura yang lebih dahulu membuat aturan serupa. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE, seperti dikutip dari situs resmi kementian kesehatan mengatakan, aturan ini diberlakukan untuk melindungi generasi bangsa dari bahaya kesehatan akibat rokok.

Memang, masalah rokok di Indonesia telah menjadi masalah yang serius. Menurut data yang dirilis Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementrian Kesehatan, jumlah perokok di Indonesia pada 2013 sebanyak 61,4 juta perokok aktif, termasuk 30,4 juta orang perokok berusia 15 – 18 tahun.

Dengan jumlah perokok sebanyak itu, wajar apabila pemerintah menetapkan aturan tentang kemasan rokok. Aturan kemasan bergambar pada rokok ini dinilai efektif untuk menurunkan jumlah perokok, terutama perokok pemula dan anak-anak.

Namun, aturan kemasan bergambar pada rokok ini merupakan “alarm” bagi industri rokok. Dengan diberlakukannya aturan ini berpotensi mengurangi jumlah penjualan rokok dan tentunya berimbas pada kelangsungan usaha rokok itu sendiri.

Apalagi, belum semua produsen rokok  siap dengan aturan baru ini. Dari data yang dirilis Badan Pengwas Obat dan Makanan (BPOM) seperti dikutip dari Kompas.com, baru 41 perusahaan rokok dari total keseluruhan 672 perusahaan rokok di Indonesia yang siap melaksanakan aturan ini.

Hal ini  menunjukkan, belum ada kesiapan dari seluruh produsen rokok yang ada. Sebenarnya, dalam PP tertulis jelas, bahwa sosialisasi aturan ini disosialisasikan selama 18 bulan, sejak peraturan ttersebut dikeluarkan, yakni per tanggal 24 Desember 2012.

Maka dari itu, pemerintah melalui BPOM perlu menindak tegas dalam pengawasan aturan baru ini. 18 bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk mensosialisasikan kepada seluruh perusahaan rokok. Dalam penindakannya pun harus merata, tak peduli perusahaan rokok kecil atau ternama, jika ditemukan pelanggaran harus dilakukan penarikan produk, dan jika perlu, diberlakukan juga pencabutan izin usahanya.

Penulis : Robertus Adi Nugroho

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s