Forum

Kelangsungan Hidup Negara Kepulauan Kecil

Island States

oleh Chikitta Carnelian

Kita merasakan bagaimana bangganya menjadi sebuah negara kepulauan. Namun kita dapat bernafas lega karena Indonesia bukan merupakan negara kepulauan kecil seperti kebanyakan negara pulau di Pasifik, Karibia dan Mediterania yang terancam oleh perubahan iklim.

Negara kepualauan kecil atau yang biasa disebut SIDS (Small Island Developing States) mengalami banyak dilema dan permasalahan yang kian besar tiap harinya. Mulai dari ancaman ekonomi, sosial hingga yang paling krusial adalah keberadaan mereka sebagai bangsa dan negara di kemudian harinya.

SIDS dibagi menjadi tiga wilayah yaitu Karibia, Pasifik dan AIMS (Africa, India, Mediteranean and China Sea). Dua negara tetangga kita, Timor Leste dan Papua New Guenea termasuk ke dalam wilayah Pasifik. SIDS terdiri dari 38 negara anggota PBB dan 14 negara non-PBB. Mereka menghadapi kesulitan finansial dan kemerosotan pasar untuk peningkatan pangan mereka akibat krisis keuangan tahun 2006.

SIDS wilayah pasifik bersandar kepada sektor perikanan, perhutanan, pariwisata dan agriculture.  Bantuan finansial juga datang dari negara lain untuk meningkatkan sektor ekonomi, pendidikan dan keperluan pokok mereka. Dengan sulitnya menjangkau SIDS Pasifik, maka proses ekspor-impor barang menjadi sulit. Iklim di lautan Pasifik juga cenderung tidak baik sehingga menyebabkan sulitnya perkembangan pariwisata dan ekonomi setempat. SIDS wilayah AIMS mengalami masalah pengembangan ekonomi, sosial dan lingkungan. Sebagian besar anggotanya merupakan negara-negara termiskin di dunia. Hal ini dikarenakan terjadinya krisis pangan dan peningkatan  ekonomi dan perdagangan mereka yang menyebabkan mereka harus meminjam uang dari negara lain. Kurangnya kualitas pada SDM juga menyebabkan perkembangan negara menjadi sangat lambat.

Negara-negara SIDS sangatlah peka terhadap isu lingkungan hidup. Karena kelangsungan negara mereka ditentukan oleh iklim global. Sebagian besar dari negara atau pulau di SIDS memiliki luas zona laut yang lebih besar dari luas daratan mereka. Sempitnya daratan menyebabkan sedikitnya lahan yang menghasilkan SDA yang bisa digunakan oleh negara. Kepadatan penduduk juga kian mempersepit lahan negara. Daerah pesisir pulau juga sangat mudah terkena dampak bencana alam. Kenaikan suhu dan memburuknya iklim dunia menybabkan bencana seperti badai yang berakibat pada lingkungan, peningkatan ekonomi, politik, kestabilan sosial dan yang terburuk adalah ancaman tenggelamnya pulau. Tenggelamnya pulau akan memerlukan evakuasi penduduk yang dapat menimbulkan masalah lain. Maka dari itu negara-negara SIDS menjadis sangat aktif dalam deklarasi-deklarasi dunia mengenai lingkungan hidup.

Memburuknya iklim dunia terjadi karena tindakan manusia dalam pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan industri lainnya yang memproduksi sejumlah panas dan menjebak gas kedalam atmosfer. Emisi ini menyebabkan peningkatan suhu permukaan Bumi dan lautan menyerap 80% dari panas tambahan. Sejak tahun 2000an, satelit mengukur GMSL (Global Mean Sea Level) telah meningkat 10-20 sentimeter. Peningkatan level laut disebabkan oleh melelehnya lapisan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan dengan cukup cepat.

Sudah ada beberapa pulau di dalam negara SIDS yang tenggelam contohnya di Tuvalu, Kepulauan Marshall dan Pulau Tebua Tarawa di Kiribati. Memang pulau-pulau yang tenggelam merupakan pulau yang tidak berpenghuni, namun tidak dipungkiri lagi bahwa pulau berpenghuni juga dapat tenggelam. Republik Kiribati di Pasifik Selatan mulai tenggelam sepenuhnya dan mereka dengan segera mengevakuasi penduduk mereka ke pulau yang baru mereka beli. Layaknya pulau Tegua di negara kepulauan Vanuatu menjadi Pengungsi Perubahan Iklim Dunia yang pertama dikarenakan tenggelamnya pulau mereka. Ancaman terbesar tenggelamnya negara-kepulauan terjadi di wilayah Pasifik dikarenakan angka peningkatan level lautnya yang tertinggi di dunia dengan rata-rata tinggi daratan hanya dua meter diatas permukaan laut, sehingga negara dapat tenggelam di dalam beberapa dekade kedepan. PBB yakin 15% – 62% dari kepulauan di Pasifik akan tenggelam. Beberapa negara-kepulauan yang kaya seperti Maladewa dapat sedikit bernapas lega karena mereka mampu membuat pulau buatan dan membanguntembok tinggi di sekeliling pulau. Namun tidak demikian dengan negara-negara lain yang tidak memiliki banyak uang.

Selain mengenai masalah lingkungan, yang ditakutkan adalah keadaan sosial-politik di dalam negeri. Karena kurang strategisnya letak negara SIDS, maka negara-negara memerlukan bantuan negara lain terutama dalam hal makanan. Dan letaknya yang sulit membuat lambatnya pengiriman barang dan bila cuaca memburuk akan memberhentikan pengiriman bantuan, bahkan menghentikan perdagangan, pertanian, perikanan dan pariwisata. Hal ini dapat menyebabkan krisis ekonomi yang disusul krisis sosial-politik dan menjadi pemberontakan nasional.

Pemberontakan nasional merupakan serangan terhadap orang-orang yang merasa terisolasi dan umumnya dimulai dengan keadaan penurunan ekonomi atau krisis ekonomi. Dengan krisis ekonomi yang melanda negara itu, dan orang-orang merasa dirugikan, umumnya masyarakat akan meminta sesuatu pada pemerintah untuk menstabilkan situasi tersebut. Tetapi jika masalah masih terjadi, maka akan mengakibatkan kelaparan dan menimbulkan krisis ekonomi dan sosial, yang pada akhirnya akan menyebabkan konflik politik.

Evakuasi dan Dampaknya Pada Sosial-Budaya

Kita dapat mengusulkan untuk memindahkan warga negara SIDS. Tetapi dengan memindahkan warga, malah akan menimbulkan masalah lain. Ketika  penduduk SIDS mengungsi, status pengungsi mereka tidak dapat dilindungi, karena belum adanya hukum  Internasional yang mengatur mengenai pengungsi yang disebabkan oleh bencana alam. Hal sulit juga akan dialami oleh negara tuan rumah, dimana mereka harus menjaga kesejahteraan warga pendatang. Namun, ketika negara pendatang dianggap sebagai imigran dan lebih rendah maka masyarakat negara tuan rumah akan memperlakukan mereka dengan berbeda.

Kemudian akan terjadilah krisis identitas nasional dan budaya bagi penduduk SIDS yang mengungsi. Dimana ketika mereka harus berbaur dengan penduduk negara tuan rumah, akan menjadi sulit bagi mereka untuk mempertahankan budaya nasional mereka, sehingga identitas mereka sebagai bangsa ditakutkan akan lenyap. Sehingga dikhawatirkan di dalam beberapa dekade kedepan kita melihat seorang Tuvalu hanya sebagai seorang keturunan Tuvalu,bukan merupakan bangsa Tuvalu karena kebudayaan mereka yang berbeda. Budaya penduduk negara tuan rumah juga akan berubah secara perlahan dengan datangnya pendatang, dan hal ini belum tentu dapat diterima dengan lapang dada.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa di negara tuan rumah, para pendatang akan didiskriminasi, secara nyata kita lihat bahwa suatu bangsa atau etnis selalu mengalami diskriminasi di mana saja walaupun orang itu telah hidup selama bertahun-tahun di negara yang baru. Diskriminasi terhadap etnis oleh negara dan bangsa dominan dapat meliputi peluang ekonomi, hak-hak sipil dan hak politik meskipun mereka telah hidup selama berabad-abad. Hal ini dapat menimbulkan konflik antar bangsa dan etnis.

Maka dari itu, kita sebagai warga dunia sebaiknya membantu dengan kemampuan kita untuk menjaga lingkungan hidup. Dengan ini maka kita dapat memperlambat peningkatan suhu bumi dan air laut. Pemerintah negara-kepulauan kecil harus siap dengan segala hal yang dapat terjadi negerinya, termasuk gejolak masyarakat di dalam konflik sosial yang dapat terjadi ketika iklim di negara semakin buruk dan mengancam kesejahteraan mereka. Layaknya juga mereka, dan seluruh pemerintah lain di dunia segera membuat hukum internasional mengenai perlindungan terhadap pengungsi korban bencana alam. Kita tahu bahwa tidak ada pilihan lain selain memindahkan mereka ke tempat yang baru, tidak mungkin pemerintah akan membiarkan penduduknya mati tenggelam. Tidak perlu menunggu sebuah negara kepulauan tenggelam untuk membuat hukum bagi pengungsinya, karena kini kita melihat bahwa bencana itu dapat terjadi, dan sebagai manusia rasional kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan buruk yang ada sebelum segalanya menjadi terlambat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s