Opini

Pemimpin Gundul-Gundul Pacul

laskar tanioleh Arista Nanda

Lagu berjudul “Gundul-Gundul Pacul” yang ditulis dengan bahasa Jawa, bukanlah lagu yang asing bagi banyak orang terutama masyarakat Jawa.Yang disayangkan adalah tidak banyak orang yang tahu dengan makna yang terkandung didalamnya. lagu yang terhitung singkat ternyata diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1400-an, lirik yang begitu sederhana dengan nada yang penuh semangat mengundang kenangan masa kanak-kanak tempo dulu.

Tanpa disadari lagu Gundul-Gundul Pacul menyimpan misteri. Banyak orang mengabaikan bahkan tidak perduli dengan alasan mengapa lagu Gundul-Gundul Pacul ini diciptakan.Banyak anggapan bahwa lagu ini hanya lagu anak-anak.

Arti dari kata gundul sendiri berarti kepala plontos (tanpa rambut). Seperti yang kita tahu kepala adalah lambang kehormatan & kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala, maka gundul adalah kehormatan yang tanpa mahkota. Sedangkan Pacul adalah cangkul, yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi dan merupakan lambang orang kecil yang bekerja keras untuk mencari makan. Dilihat dari setiap liriknya Gundul pacul artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang mencari-cari mahkota atau kehormatan tetapi dia adalah orang yang mau berkerja keras memikul amanah rakyat.

Nyunggi wakul artinya membawa tempat nasi (bakul) di atas kepalanya, sedangkan wakul sendiri merupakan simbol kesejahteraan rakyat. Yang didalam wakul (tempat nasi) berisi kekayaan dan sumber daya yang dimiliki. Jadi arti nyunggi wakul adalah pemimpin yang mementingkan kepentingan rakyat diatas kepentingannya sendiri. Membawa amanat rakyat lebih dari mencari hanya kehormatan dan kekayaan pribadi. Karena kedudukan wakul ada diatas kepala menduduki simbol kehormatan dan membawa pacul, artinya pemimpin ada untuk melayani dan bekerja keras untuk apa yang dipikulnya yaitu kesejahteraan rakyat.

Sedangkan gembelengan artinya besar kepala /sombong, begitu para pemipin mulai gembelengan (sombong)maka yang akan terjadi adalahwakul glempang segane dadi sak latar yang artinya wakul berguling nasinya berhamburan ditanah. Jadi saat pemimpin mulai lupa kedudukan wakulnya, saat dia lupa kalau dia hanya pembawa pacul, potensi dan sumber daya alam dan manusia yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat hanya akan berhamburan tidak jelas entah kemana. Tidak ada pendistribusian yang baik sehingga kesejahteraan tidak bisa merata.

Kegembelengan telah banyak membutakan orang, telah banyak memakan korban. Gemilau harta, kehormatan, dan kemuliaan sudah menumbuhkan rambut diatas kegundhulannya, itulah sekarang yang dicari para pemimpin gundhul-gundhul pacul.

Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas). Artinya bahwa kemuliaan seseorang akan sangat tergantung pada empat hal, yaitu :mata, telinga, hidung dan mulut. Keempat anggota tubuh manusia ini dicipkan Tuhan dengan fungsinya masing-masing. Jika empat hal itu lepas artinya tidak digunakan dengan sebenarnya, maka lepas juga kehormatannya sebagai raja atau pemimpin.

  1. MATA: untuk melihat kesulitan rakyat.
  2. TELINGA : untuk mendengar nasehat dan kesusahan rakyatnya.
  3. HIDUNG: untuk mencium kebaikan.
  4. MULUT: untuk berkata- kata yang adil.

Sebenarnya tembang dolanan (lagu mainan) anak-anak ini, dibuat untuk menyinggung pemerintahan ketika Sunan Kalijaga masih hidup. Sunan Kalijaga menilai ada banyak pemimpin yang hidup untuk kesenangannya sendiri. Tembang dolanan mengandung kritikan sangat pedas bagi pemerintahan Indonesia sekarang, banyak orang yang duduk dikursi pemerintahan yang sudah pada gembelengan, mereka lupa kalau mereka hanya pembawa wakul dan pacul.

Siapa yang lebih tinggi kedudukannya,pembawa wakul atau pemilik wakul? Tentu saja pemilik wakul!Pembawa wakul hanyalah hamba. Tapi bisa dilihat sekarang bahwa para pembawa wakul ini sudah merasa menjadi pemilik, kalau sudah begini berarti gagalah mereka menjadi hamba rakyat. Secara kasat mata mereka tidak berkekurangan, hidup mewah, semua orang tunduk hormat dan kemuliaan ada ditangannya. Tetapi sebenarnya mereka para pemimpin yang gembelengankarena sudah melepaskan kehormatannya sebagai manusia. Lirik lagu yang tidak lebih dari 3 kalimat ini menyimpan makna yang dalam, kritik yang tidak tanggung-tanggung bisa menemplak mereka yang sudah lupa bahwa dirinya hanyalah hamba. Rakyat melihat, mencari, dan mengharapkan pemimpin yang gundhul-gundhul pacul terlahir ditengah-tengah krisis kepercayaan ini.

Pesta demokrasi sedang berlangsung panas. Pemimpin yang gundhul-gundhul pacul begitu diharapkan rakyat. Siapapun yang duduk nanti di kursi Presiden biarlah dia ingat bahwa dia hanyalah hamba pembawa wakul dan pacul.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s