Opini

Politik Kotor di Ruang Kelas

oleh Chikitta Carnelian

Mari kita akui bersama, bahwa sebagian besar pelajar termasuk mahasiswa pasti pernah melakukan kegiatan menyontek ataupun memberi sontekan. Menurut KBBI, sontekan merupakan hasil mengutip sebagaimana aslinya, menjiplak, dan sebagainya.

Para mahasiswa ini biasanya menyontek dengan cara menanyakan jawaban pada teman, menjiplak pekerjaan teman, atau menjiplak dari buku dan internet saat ujian. Ada konstruksi sosial yang memandang kegiatan menyontek ini sebagai tindakan amoral. Menyontek dianggap amoral karena sama saja dengan tindakan mencuri, tentu saja mencuri pikiran orang lain. Dan menyontek ini juga mencerminkan perilaku tidak jujur.

Saat ujian, tentunya pengajar/pendidik menguji seberapa jauh kemampuan mahasiswa di dalam memahami materi pelajaran yang telah diberikannya. Namun, mahasiswa yang tidak siap saat menghadap ujian, akan menyontek jawaban teman ataupun dari buku karena takut mendapat nilai jelek. Mahasiswa ini bertindak tidak jujur untuk menyembunyikan kenyataan bahwa mereka tidak bisa mengerjakan soal ujian tersebut.

Dalam paradigma ilmu politik, kegiatan menyontek ini bisa dilihat sebagai praktik politik berskala kecil. Bila kita melihat hal ini ini dari perspektif neo-realis, bahwa di dalam dunia yang anarki terjadi distribusi kemampuan yang dilihat dari jumlah kekuatan besar di sistem internasional. Negara-negara (sebagai aktor) melakukan tindakan survival untuk meraih national interest tanpa mau berbagi dengan negara lain. Namun untuk mencari aman, dengan distribusi kemampuan maka negara-negara yang memiliki tujuan sama akan bersekutu (dengan pelbagai perhitungan untung-rugi tentunya), dan bekerjasama untuk mencapai keuntungan bersama.

Dalam konteks mahasiswa yang menyontek, mahasiswa ini berperilaku layaknya negara-negara dalam perspektif neo-realis diatas. Mahasiswa-mahasiswa itu akan membentuk kelompok kecil dengan teman-teman terdekat yang sudah mereka kenal karakternya secara baik dan mereka ketahui
kemampuan akademiknya, dan tentunya juga yang memiliki kepentingan yang sama.

Dengan kelompok itulah mereka akan saling menyontek satu sama lain untuk meraih nilai yang baik di kelas. Namun layaknya praktik kolusi, mereka tidak akan berbagi dengan kelompok lain, terutama yang mereka anggap dapat mengancam kepentingan kelompok mereka. Sehingga yang ditekankan oleh para mahasiswa pencontek ini adalah meningkatkan nilai di dalam anggota kelompok.

Bila dipandang dari segi konstruktivis yang mengutamakan komunikasi, share ideas dan hubungan timbal-balik, maka aktor pencontek akan memanfaatkan individu lain yang mau berbagi jawaban dengan dia. Aktor pertama akan membagikan jawabannya untuk aktor kedua, begitu pun sebaliknya. Keduanya akan saling berbagi ide dan berkomunikasi demi mencapai nilai yang baik.

Dalam perspektif realis klasik Machiavelli, mencontek adalah tindakan yang dihalalkan. Karena menurut paham Machiavelli, seseorang diizinkan untuk melakukan atau menghalalkan segala cara, walaupun hal tersebut amoral asalkan dapat membantu seseorang tersebut mencapai apa yang diinginkannya. Hal ini bisa dijadikan alasan mahasiswa untuk melegitimasi perilaku menconteknya ini, karena dia hanya menginginkan nilai yang baik, walaupun harus dengan melanggar norma/aturan.

Pemikiran diatas adalah contoh dari beberapa prinsip dasar berpolitik. Maka dengan itu dapat kita lihat bahwa banyak kegiatan yang dilakukan oleh pelajar maupun mahasiswa dapat dijadikan suatu tindakan berpolitik.

Saat mental seorang individu sejak kecil tidak dididik dengan moralitas yang baik dan kuat maka saat menjadi pelajar individu tersebut akan menghalalkan berbagai cara untuk tujuan politiknya (termasuk mencontek saat di sekolah untuk mendapat nilai yang baik). Sehingga saat tumbuh dewasa dan masuk dunia politik praktis sesungguhnya, perbuatan tidak jujur tersebut akan semakin terlihat. Jadi tidak usah berbicara soal tingginya praktik politik kotor di tingkat negara, lihat dulu politik kotor yang dilakukan oleh para mahasiswa pencontek ini di ruang kelas.▪

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s