Forum

Mengkaji Para Pengikut

Oleh: Bima Satria Putra

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti pelatihan public speaking, yang diadakan fakultas untuk mahasiswa. Materi-materi tersebut ternyata sengaja dimasukan konten-konten kepemimpinan (leadership), dengan asumsi yang kurang lebih begini ; jika seseorang mampu mengenali diri dan memimpin diri, maka ia akan mampu memimpin orang lain. Seseorang yang mampu berbicara didepan publik harus menguasai dirinya sendiri dan juga orientasi hidupnya.

Kemudian, ketika saya membaca buku materi yang terkandung konten-konten kepemimpinan, saya kemudian disadarkan tentang pentingnya kepengikutan (followership). Saya juga sempat berdiskusi dengan Dewi Kartika Sari, Kepala Program Studi (Kaprogdi) Komunikasi yang berancana untuk mengkaji kepengikutan didalam salah satu media sosial. Mbak Dewi berencana mengkaitkan kepengikutan sebagai salah satu bentuk interaksi dengan menggunakan kacamata ilmu komunikasi, terutama di Twitter, salah satu media sosial yang populer. Arya Adi Kristya kemudian juga berceletuk mengenai Latihan Dasar Kepengikutan Mahasiswa (LDKM). Benar juga, jika semua mahasiswa dilatih untuk menjadi pemimpin, lalu siapa yang akan menjadi pengikut? Tetapi kemudian saya sadar bahwa LDKM pada dasarnya juga disusun untuk menyiapkan mahasiswa yang siap memimpin masyarakat, sebagai usaha universitas untuk menciptakan mahasiswa yang creative minority, minoritas berdaya cipta.

Kepengikutan menarik buat saya untuk dikaji karena beberapa hal, antara lain pertama, studi tentang kepengikutan secara tidak sengaja telah ada, tetapi hasil studi tersebut bertebar berantakan. Pencarian saya secara mendalam dengan mewawancari beberapa akademisi di fakultas, penelusuran kepustakaan dan sumber online, menunjukan bukti bahwa kepengikutan masih dibawah naungan materi kepemimpinan. Anda tidak akan menemukam buku yang berkaitan kepengikutan dalam webopac, situs online pencarian buku perpustakaan universitas.

Beberapa bidang ilmu seperti manajemen misalnya, mempelajari tentang sikap dan kepuasan kerja dan kaitannya dengan produktivitas, perilaku organisasi mempelajari budaya organisasi dan komunikasi kelompok mendalami misalnya pemikiran kelompok. Semuanya secara tidak langsung telah menyinggung kajian mengenai kepengikutan. Kajian-kajian yang berantakan tersebut perlu dibuat menjadi satu bandel kajian yang secara khusus mengenai kepengikutan, terutama dalam sudut pandang komunikasi.

Kedua, saya melancarkan kritik yang sangat serius mengenai “determinisme humanis” terhadap para karyawan dan bawahan. Manajemen terlalu berfokus pada apa dan bagaimana itu pemimpin dan melupakan para pengikutnya. Ada kecenderungan bahwa pengikut hanya dipandang sebagai potensi sumber daya manusia yang dikerahkan untuk dapat mencapai suatu tujuan bersama, yang biasanya dalam manajemen merupakan perangkat untuk mencapai keuntungan bagi perusahaan. Saya sangat mendukung bahwa setiap individu mempunyai perilaku yang unik dan layak diperlakukan secara berbeda. Penyeragaman yang selama ini terjadi dalam perusahaan misalnya, melupakan sisi humanisme tentang bagaimana memanusiakan manusia.

Dan yang terakhir, saya tidak setuju dengan pandangan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Seorang menjadi pemimpin bukan karena ayahnya dulu merupakan pemimpin, tetapi bagaimana lingkungan dan masyarakat membentuk kepribadiannya sebagai pemimpin dan bagaimana ia dapat memperoleh kekuasaan untuk menjadi pemimpin. Walaupun semua orang bisa menjadi pemimpin, kenyataan dilapangan adalah peluang dan kesempatan untuk menjadi pemimpin berbanding jauh. Tugas kelompok presentasi secara formal dipimpin oleh seorang ketua kelompok, bukan dua orang, dan sisanya tentu saja merupakan anggota kelompok. Suatu kerajaan secara formal juga dipimpin oleh seorang raja.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana menjadi anggota atau pengikut yang baik? Bagaimana menghindari dominasi dari anggota kelompok dan tetap membiarkan pemimpin melakukan tanggung jawab dan wewenangnya? Kecenderungan dalam studi kepemimpinan yang pada umumnya digeluti bidang ilmu sosiologi dan psikologi adalah memakai sistem top-down, alias dilihat dari sudut pandang pemimpin. Sudah saatnya untuk sesekali membalikan kajian tersebut dari sudut pandang pengikut, alias bottom-up. Kepengikutan menjadi penting, karena kesempatan untuk menjadi pemimpin terbatas. Jika tidak dapat menjadi pemimpin yang baik, jadilah pengikut yang baik. Jika tidak dapat menjadi ketua SMF, jadilah fungsionaris. Jika tidak dapat menjadi ketua kelompok, jadilah anggota kelompok. Bukankah pemimpin dan pengikut juga sama-sama menginginkan agar tujuannya dapat tercapai dengan baik? ▪

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s