Kampus

Mengenal Scientiarum

Mengenal Scientiarum

oleh Bima Satria Putra

Berkunjunglah ke ruang nomor 103 di gedung O Lembaga Kemahasiswaan (LK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), di dalamnya tercium bau asap rokok yang mencekik, beberapa staf redaksi yang sibuk dengan Microsoft Word dan Facebook, sementara yang lain terlelap di atas kasur yang kusam, ruang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Scientiarum.

Di depannya terdapat kantor bidang Senat Mahasiswa Universitas (SMU), sementara di kiri kanannya merupakan kantor Resimen Mahasiswa (Menwa) dan kantor Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU). Di ruangan itu staf redaksi menginap dan sempat beradu mulut dengan fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan (LK). Di ruangan itu juga, tulisan untuk majalah Scientiarum diproduksi pada November 2010.

Banyak yang ternyata tidak mengenal Scientiarum, padahal dahulu Scientiarum sendiri sudah berani menghadapi kebijakan pemerintahan Soeharto pada masa orde baru. Izak Lattu, penggagas Scientiarum dan Ketua Umum BPMU UKSW Periode 1998-1999 dalam buku Sejarah Lembaga Kemahasiswaan dan Pembinaan Kemahasiswaan menjelaskan bahwa Scientiarum lahir sebagai hasil pergumulan panjang antara idealisme UKSW dan peran mahasiswa di Era Reformasi. Dalam tulisan itu juga Izak bercerita tentang kegiatannya yang harus menulis setiap hari untuk menerbitkan Scientiarum (waktu itu Scientiarum merupakan koran kampus), hingga harus pergi wawancara ke rumah salah satu dosen pada tengah malam untuk mengetahui arah guliran demonstrasi mahasiswa.

Scientiarum juga dikenal sebagai LPM yang berani mengkritisi kebijakan rektorat UKSW. Terutama pada akhir 2010 dengan majalah terbitannya yang berjudul “Kampus Baru Satya Wacana”. Covernya saja menghebohkan, karikatur rektor John Titaley, yang pada waktu itu terpilih menjadi rektor UKSW. Terbitan ini membahas mengenai rencana pembangunan kampus baru UKSW di Blotongan dan rencana UKSW untuk go international. Hingga kemudian   dana 12 juta   yang direncakan untuk membayar penerbitan majalah     dan sudah dianggarkan ternyata     tidak diberikan, seperti dikutip dari catatan redaksi halaman facebook Pers Mahasiswa Scientiarum.

Antara Kebebasan dan Kebenaran

Padahal di situlah fungsi dari sebuah lembaga pers sebagai kontrol sosial (social control), disamping tiga fungsi yang lain ; edukatif, informatif & menghibur. Lembaga pers harus berani berdiri kokoh menghadapi otoritas, terutama jika itu berkaitan dengan pengambilan keputusan.

Yang menjadi masalah adalah ketika pemberitaan terkesan menjatuhkan dan menyudutkan. Jujur, mencari kesalahan itu mudah, lebih mudah daripada mencari keberhasilan dan prestasi-prestasi (yang jarang atau sebetulnya tidak ada). Begitu juga dengan lembaga pers, yang tidak bisa lepas pula dari kesalahan. Karena keberpihakan pada kepentingan suatu kelompok misalnya.

Terlepas dari itu, seharusnya di antara keduanya, baik pers dan pembuat keputusan dapat berjalanan berbarengan dengan kepala dingin untuk berdiskursus mengenai pemecahan masalah. Pembuat keputusan dapat melakukan tindakan di tataran praksis, sementara pers di sebelahnya berhak menegur dan memuji kebijakan si pembuat keputusan di tataran etis-teoritis. Begitu pula dalam kehidupan bermahasiswa di UKSW, LPM Scientiarum seharusnya tidak hanya perlu melayani kebutuhan/aspirasi mahasiswa, tetapi juga melayani tujuan LK, dasar, visi, dan misi UKSW, seperti yang tercantum dalam Skenario VI mengenai pengembangan kelompok bakat dan minat dan program di salah satu buku suci mahasiswa UKSW, SPPM.

Caranya bagaimana? Tentu saja kembali ke nilai-nilai yang kita (UKSW) anut. Misalkan dalam visi keempat UKSW, yaitu menjadi radar dalam situasi perubahan. LPM dapat menjadi perangkat yang turut serta berpatisipasi mewujudkankanya. Dengan tulisan yang berangkat dari pemikiran kritis, LPM dapat menjadi radar untuk menangkap isu-isu dan permasalahan aktual-faktual di tengah kehidupan kemahasiswaan dan melemparkanya kepada sivitas untuk dijadikan bahan diskusi dan melakukan tindakan atas dasar keputusan diskusi tersebut. LPM juga dapat diarahkan demi tujuan LK dan misi UKSW untuk menjadi wahana mengembangkan sikap dan pemikiran yang kritis-prinsipil.

Sudah seharusnya LPM menerbitkan artikel-artikel kritis, mengenai kebijakan LK, fakultas dan universitas ini, diterbitkan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab, dan disertai masukan-masukan yang membangun. Tanpa harus menjatuhkan pihak tertentu dan mengalami konflik seperti yang terjadi pada tahun 2010. Tidak hanya Scientiarum, tetapi setiap lembaga penerbitan terkait di UKSW ini, Ascarya (FEB), Imbas (FTEK), Psycophrenia (F.Psikologi), Akses (FBS) dan Lentera (Fiskom).

Scientiarum mau dibawa kemana?

Empat tahun setelah terbitan terakhir, sudah terjadi regenerasi personil Scientiarum. LPM Scientiarum dipenuhi wajah-wajah baru yang masih mewarisi serpihan-serpihan lama mengenai Scientiarum yang “nakal”.

Guntur Segara, Pemimpin Umum Scientiarum 2014-2015 berencana ingin menghilangkan paradigma jelek yang melekat pada Scientiarum. “Tanpa harus menghilangkan budaya kritis Scientiarum tentu saja, membalut dan mengemas berita dan tulisan dengan cara yang baru dan beda dari yang dulu” ujar Guntur, Jumat (04/11). “Nah, bagaimana caranya? Itu yang akan dirapatkan besok,” tambahnya.

Hingga hari ini Scientiarum masih kesulitan anggaran. Penyunatan anggaran ini, menumpuk rasa rindu yang mendalam bagi Scientiarum, untuk dapat terbit secara cetak dan dapat dibaca sivitas UKSW. Sesuai dengan motonya yang berbunyi wacana “kritis-prinsipil” dan tentu saja, persekutuan ilmiah (Scientiarum). ▪

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s