Opini

Pesan Kepada Insan Pers

oleh Ridwan Nur Martien

Sepanjang proses Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 ini, masyarakat disuguhi berbagai media massa yang cenderung berpihak. Seperti yang terjadi di masyarakat dan elit penguasa, kini media massa pun terbelah. Media yang dimiliki pendukung Calon Presiden (Capres) A, tulisan atau siarannya cenderung berisi puja-puji untuk Capres A, dan bahkan caci-maki dan fitnah untuk Capres B. Media milik pendukung Capres B pun berlaku sebaliknya, Alhasil, isi media kini penuh dengan berita panas, tendensius, provokatif, dan tidak seimbang.

Tak hanya karena stakeholder media massa tersebut adalah milyader mendukung Capres tertentu, para wartawan pun terbelah karena kecenderungan dukungan pribadi. Biasanya dukungan terbangun karena kedekatan mereka dengan masing-masing Capres, partai pendukung, atau tokoh-tokoh pendukung masing-masing. Ada juga wartawan dan media yang menyatakan keberpihakan mereka karena merasa lebih “sreg” dengan Capres tertentu dan merasa tidak percaya kepada Capres lain. Sedikit banyak, dukungan mereka tercermin pada produk pers dan penyikapan mereka terhadap berbagai isu. Media sosial yang kini marak, malah semakin menegaskan kecenderungan keberpihakan para wartawan secara pribadi.

Sebagian wartawan dan media massa masih mencoba bersikap wajar dengan sekedar berkomentar dan menjelaskan posisi mereka. Namun kini banyak diantara media yang dengan lantang menyatakan sebagai pendukung kontestan tertentu. Bahkan ada yang memposisikan diri sebagai tim sukses, dan seakan-akan menjadi propaganda officer laksana Frank Goebbels (seorang tokoh propaganda Nazi), dengan turut bermanuver serampangan dan ugal-ugalan. Tentu saja perkembangan ini sangat memprihatinkan.

Padahal  pers,  media  massa, dan  wartawan,  telah  ditahbiskan  sebagai watchdog  alias  anjing  penjaga demokrasi. Pers juga sering dijuluki sebagai the fourth estate atau pilar keempat negara. Dia juga dijuluki sebagai ujung tombak perubahan sosial atau the agent of social changes, dan bahkan merekalah the servants of the truth atau para pengabdi kebenaran.

Dengan serangkaian predikat itu, sudah selayaknya wartawan dan media mengambil posisi netral, setia kepada progesi yang mewajibkan dia tidak berpihak kepada siapa pun, dan setia kepada pilihan hidup untuk menjadi pengawal kebenaran. Belum lagi jika kita mencermati pernyataan Pemimpin Prancis, Napoleon Bonaparte : “A journalist is a gumbler, a censurer, a giver of advices, a regent of souvereigns, a tutor of a nation (seorang wartawan adalah penggerutu, tukang kritik, pemberi saran, pemilik kedaulatan, guru bangsa).

Namun, serangkaian julukan hebat itu kini seolah hanya menjadi mitos. Banyak insan pers terjangkiti sindrom heroisme gara-gara julukan “wah” tadi. Sindrom ini sering berubah menjadi penyakit akut. Meski tak semua, banyak wartawan dan media yang secara sengaja memposisikan diri tinggi, dan merasa arogan dengan berbagai label yang terlanjur diberikan. Sindrom heroisme ini juga memunculkan semacam ilusi kekebalan pada kalangan pers dan media massa, sehingga dengan mudah memprovokasi, memancing, dan memberitakan hal-hal yang tidak objektif.

Insan pers kadang merasa memiliki “kasta” lebih tinggi dari profesi lain, sehingga sering mengharap fasilitas dari pemegang otoritas, kekuasaan atau masyarakat. Padahal, profesi wartawan sama halnya dengan profesi lain. Wartawan, juga manusia. Mereka bisa lupa, salah dan khilaf, dan harus tetap menaati hukum dan etika.

Melihat kiprah sebagian jurnalis dan media selama proses Pilpres 2014 ini, situasi panas di tengah masyarakat ini tak lepas dari peran media. Berbagai berita, iklan yang mondar-mandir menghiasi layar televisi, terdengar di radio, terpampang di halaman media cetak, dan muncul di internet, turut membentuk persepsi masyarakat, sikap atas perbedaan pendapat, faham dan keyakinan yang berbeda, serta respon yang beragam terhadap berbagai hal yang menyangkut peri kehidupan mereka.

Menyikapi fenomena diatas, penulis memberi pesan kepada wartawan dan media agar tetap menjaga independensi dan profesionalisme pers/ media massa dan ikut membangun suasana Pilpres 2014 ini, agar bekerja  sesuai dengan norma dan kaidah-kaidah jurnalisme, dan mengabdikan diri pada kebenaran semata. Sungguh sangat menggembirakan jika media massa mampu mengarahkan, mengubah dan membentuk masyarakat Indonesia agar menjadi lebih baik dengan berbagai silang pendapat yang berkecamuk di sepanjang Pilpres 2014. Betapa mengerikannya jika media massa dan wartawan justru menjadi penyumbang terbesar bagi perpecahan dan disintegrasi di republik ini. ▪

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s