Sastra

Tak Mau Berpasrah Pada..

oleh Greg Sidharta

Oke, aku tahu dia itu manis, njawani. Semua lelaki pasti bisa membedakan mana yang manis, mana yang cantik, menarik.
Gara gara hidung sang gadis? Mata? Lesung pipi? Bentuk wajah, bibir, rambut, kaki, tubuh, sorotan? Mengapa keseluruhan unsur ini menjadi sebuah patokan bahwa sang gadis menjadi rupawan?

Apa bedanya hidung mancung dan pesek? Iya, satunya mancung dan satunya pesek. Mengapa hidung mancung bisa dikatakan lebih apik daripada pesek?

Apa bedanya langsing dan gempal? Iya, satunya langsing, satunya gempal. Mengapa langsing bisa dikatakan lebih bagus?
Secara jumlah indera di wajah juga sama, dengan jarak dan ukuran yang berbeda-beda. Apa yang membuat aku bisa menyimpulkan jika gadis ini biasa dan gadis itu benar benar manis?

Dari mana tanggapan ini muncul? Dari selera?
Dari mana selera ini muncul? Dari hasrat?

Padahal cantik menurut setiap orang juga berbeda, tergantung dari daerah dan budaya yang berlaku. Berarti gagasan rupawan itu tersusun atas konstruksi budaya? Aku ingat ketika aku kecil belum bisa membedakan mana yang cantik, menarik, manis, biasa. Disaat aku tidak tahu mana yang jelek dan mana yang bagus.

Ternyata bertahun-tahun, aku tersesat pada dualitas. Baik buruk, manis pahit, cantik jelek, rupawan dan leteg. Aku pernah selalu memuja kesempurnaan dalam berkarya, membentuk kerupawanan, padahal kesempurnaan itu jauh! Jauh. Melampaui baik dan buruk.

Simetris yang sempurna, ketidaksimetrisan yang sempurna.
Keteraturan yang sempurna, ketidakaturan yang sempurna.

Penciptaan yang sempurna, penghancuran yang sempurna. Penciptaan bertujuan menghancurkan, pengrusakan yang bertujuan menciptakan. Lihat? Kesadaran benar-benar, yang selangkah demi selangkah membawaku keluar dari dualitas.

Tolol! Selama ini aku mengira bahwa aku melakukan yang sempurna, yang selalu teraih sesuai dengan maksudku. Sebaiknya aku tidak akan melakukan yang terbaik, karena setelah yang terbaik selalu ada penurunan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s