Sastra

Perempuan di Pertigaan Jalan

oleh Albert Karwur

Aku, seorang mahasiswa tingkat akhir, tinggal di sebuah kost yang cukup kecil. Berukuran dua kali empat meter; terletak diantara burjo dan kios pulsa di jalan merdeka utara. Setiap Jumat sore, sudah jadi rutinitasku menyetor baju-baju kotor ke laundry Yuk Mini; jauhnya dua puluh langkah dari kost. Yuk Mini selalu ramah padaku, mungkin karena aku cukup rajin mengantar laundryku. Seusai urusanku dengan Yuk Mini, selalu kudapati seorang perempuan duduk di pertigaan jalan Seruni. Jalanan itu cukup sepi, tidak ada orang; hanya gadis itu seorang. Buatku yang stress dengan tekanan mengurus skripsi, memandangi kecantikannya menjadi sebuah kemewahan kecil dalam kenyataan hidup yang semakin rumit.

Wajahnya pucat, matanya sayu, senyumnya patah. Ia terus berdiri disana, seolah menanti sesuatu. Aku tidak tahu apa. Dan Ia terus memaku kakinya di tanah sampai senja menjemputnya pulang. Sesaat Ia pergi, juga membawaku pulang ke kost; seolah film sore itu telah usai.

Sesampainya di kost, hari gelap telah mengikuti. Ku seduh kopi, duduk, dan membuka laptop. Kulihat kembali revisian dari pembimbingku. Terlalu banyak, sampai tercecer berserakan di kamarku. Kumulai dengan setengah asa memperbaiki skripsiku yang entah sampai kapan berakhir. Belum lagi, orangtuaku yang setiap hari menelponku. Bukan aku yang ditanyakan, melainkan skripsiku. Aku muak dengan hidup ini. Bajingan!

Aku, seorang paruh baya yang tinggal sendirian di sebuah kost. Setiap pukul delapan pagi, aku berangkat kerja. Letaknya tidak jauh dari kostku, hanya dua puluh langkah. Tiap pagi, Yuk Mini, bosku sudah marah-marah sambil membawa sekeranjang baju kotor. Dengan bekerja di laundry, penghasilanku paspasan. Paling tidak cukup untuk makan nasi telur di burjo depan kostku, tiga kali setiap hari. Sudah lama rasanya tidak mendengar kabar dari orangtuaku, mungkin mereka sudah lupa denganku.

Tapi Aku juga tidak peduli lagi dengan mereka. Semakin muak saja dengan hidup ini. Yang kunanti hanya petang tiap Jumat. Rasanya begitu istimewa bagiku. Sengaja kuselesaikan laundryku dengan giat lebih cepat. Seselesainya laundry, langsung kudatangi pertigaan jalan Seruni. Duduk, memandang kosong. Rasanya sangat meneduhkan. Setiap Jumat sore selalu begitu. Entah sejak kapan kebiasaanku ini. Yang kutahu, aku harus kesana. Entah apa yang kutunggu, aku juga tidak tahu.

Mahasiswa Fakultas Biologi 2012
Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Biologi, Periode 2014-2015
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s