Cerpen / Sastra

Cincin yang Hilang

oleh Bima Satria Putra*

Cincin Yang Hilang

Selesai menyeruput kopinya, giliran Banal bertanya kepada Cepot. “Cepot, aku ingin mendengar kisah kedua orang tuamu. Bisa kau ceritakan?” tanya Banal. Banal adalah orang yang selalu ingin tahu. Pernah sekali Banal ditampar oleh seorang perempuan karena bertanya mengenai… lupakan.

“Aku harus memulai dari mana?” tanya Cepot. Sambil bertanya dia masih mengunyah nasi koyor. Nasi-nasi bertumpahan di meja makan, lalu terjatuh ke lantai dan seekor kucing memungutnya.

“Terserah,” jawab Banal. “Ceritakan mengenai pernikahan kedua orang tuamu,” pinta Banal.

“Baik. Ayahku berasal dari Timur, tempat matahari terbit. Ibu berasal dari Barat, tempat matahari tenggelam. Sementara aku? Terlahir di tengah-tengah, tempat matahari membakar Nenekku. Keluarga Bapak ingin mereka menikah di Timur, sementara keluarga Ibu ingin mereka menikah di Barat. Agar tidak terjadi konflik dengan kedua pihak keluarga, Bapak dan Ibu akhirnya menikah di tengah-tengah. Singkat cerita, Ibu hamil dan melahirkan aku. Sepuluh hari kemudian Ibu…”

“Jangan melompati alur ceritamu,” Banal memotong omongan Cepot. “Ceritakan saja pernikahan kedua orang tuamu.”

“Baik,” ujar Cepot. Dia kembali menyuap makanannya. “Aku tidak dapat bercerita banyak mengenai pernikahan kedua orang tuaku. Tapi, aku pernah bertemu dengan sahabat Bapak, namanya Om Rocky. Dia yang mendokumentasikan pernikahannya. Ada yang lucu dari pernikahan kedua orang tuaku. Jadi, Bapak sudah menyiapkan cincin kawin. Pada saat ia hendak memasangnya ke jari manis Ibu, cincin tersebut terjatuh…”

“Lalu?”

“Sebentar Banal! Jangan potong omonganku. Cincin tersebut menggelinding di lantai, melewati kaki Kakek, melewati kaki Nenek, kaki Paman dan kaki Bibi. Setelah itu… hilang,” ujar Cepot. Nasi koyor yang ia makan telah habis, Cepot kemudian meneguk tehnya.

“Lalu bagaimana dengan cincin tersebut?” tanya Banal. Among yang dari tadi terdiam, menampilkan wajah penasarannya. Among juga ingin tahu. “Entahlah, Om Rocky bercerita kepadaku bahwa para keluarga, tamu undangan dan pengurus geraja dan penduduk setempat telah mencarinya selama tiga hari dua malam. Pada malam yang ketiga, bulan tidak terlihat, sehingga mereka berhenti mencarinya. Bagi penduduk desa, bulan yang tidak muncul merupakan pertanda buruk. Dan cincin Ayah pada akhirnya tidak pernah ditemukan,” ujar Cepot.

Among terdiam, ia menghayal bahwa cincin tersebut ditemukan oleh Bilbo, si Hobit. Ia tak sabar untuk kembali ke kantor dan menjadikannya cerpen.

***

Petugas kebersihan menyapu sampah-sampah yang berserakan, mengumpulkannya dan membuangnya ke tempat sampah, lalu menyapu halaman Gereja. Ketika hendak membuang sampah dan daun-daun yang ada di serok, ia melihat cincin. Sebuah cincin kawin yang indah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s