Uncategorized

LK Fiskom : Sebuah Refleksi Kaderisasi

LK FiskomBeberapa waktu lalu (saat masih menjadi Korbidkem), saya didatangi oleh pimpinan Lembaga Kemahasiswaan (LK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), yang pada intinya menyampaikan bahwa “hampir tidak ada mahasiswa yang bersedia mencalonkan diri sebagai calon ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) maupun calon ketua Senat Mahasiswa Fakultas (SMF)”. Saya terkejut mendengar laporan ini, kemudian saya katakan : mungkin anda kurang melobi! Untuk itu, usul saya adalah mencoba “berdialog” dengan ketua-ketua angkatan, untuk soal BPMF, dan lebih giat melobi untuk menjaring calon ketua SMF. Akhir cerita, sekalipun tersendat-sendat, BPMF dan SMF terbentuk juga. Walaupun demikian, “situasi” itu perlu menjadi catatan pimpinan LK dan Korbidkem ke depannya.

Eksistensi LK yang sampai dengan saat ini masih kokoh menunjukan bahwa keberadaan LK turut serta dalam menunjang profil lulusan UKSW (lihat Skenario Pola Pengembangan Mahasiswa (SPPM)). Dengan demikian keberadaan LK harus ditempatkan sejajar dengan sub-sistem lain yang ada di UKSW. Pertanyaan yang muncul dari penjabaran lebih lanjut SPPM adalah sejauh mana daya tawar LK terhadap sub-sistem lain dalam rangka kesejajaran itu? Dan bagaimana kesiapan kader serta tanggungjawab moral dari pimpinan-pimpinan LK kepada kader yang disiapkan untuk menjawab tantangan ke depan? Menurut hemat saya, daya tawar dan pembinaan kader inilah yang kurang dipikirkan selama beberapa tahun terakhir LK Fiskom.

Sepenggal cerita di atas, sengaja dikisahkan guna menempatkan konteks tulisan ini, sekaligus memberi arah sekilas refleksi perjalanan LK FIS (Fakultas Ilmu Sosial), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), dan Fiskom kedepannya, guna mencari dan menemukan format kaderisasi yang tepat. Karena itu, kepentingan atau tujuan tulisan ini adalah berupaya membuka pemahaman kita bersama tentang apa yang kita inginkan untuk dilakukan LK, dan untuk apa kita perlu terlibat dan melibatkan diri di LK, terutama LK Fiskom, dan apa pentingnya LK bagi kita.

Menuju Puncak : Butuh Pemandu

Pertanyaan reflektifnya adalah : kalau hari ini fungsionaris LK mengatakan bahwa mereka kekurangan kader (calon pemimpin), bagaimana dengan realitas LK pada tiga atau empat periode awal (2000-2005) ketika fakultas ini ada? Periode 2000-2001 dan 2001-2002 jumlah mahasiswa FIS tidak lebih dari 60 orang mahasiswa, anda bisa membayangkan bagaimana dinamika LK FIS saat itu, apalagi diperhadapkan dengan realitas bahwa hampir semua mahasiswa itu adalah orang baru?

Dalam dua periode awal ini, hasil pertemuan angkatan pertama (2000) memutuskan LK FIS berstatus sebagai “Satuan Tugas (Satgas) Legislatif dan Eksekutif” atau dengan kata lain sebagai “LK binaan”. Walaupun berstatus demikian, pemilihan Ketua Satgas Legislatif bukan berarti tidak ada calon, seingat saya, terdapat 5 orang mahasiswa yang “bertarung” dalam pemilihan itu, dan yang terpilih adalah sdr. Efraim Mendeng. Demikian pula Ketua Satgas Eksekutif, terdapat 6 orang mahasiswa yang mencalonkan diri untuk merebut kursi nomor 1 mahasiswa FIS waktu itu, dan yang terpilih adalah sdr. (alm) Teterlianus Abe.

Konsekuensi dari status ini adalah munculnya keputusan “radikal” yang menuntut kelonggaran Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM) bagi mahasiswa FIS waktu itu, hasilnya adalah sebagian besar mahasiswa angkatan pertama langsung mengikuti Latihan Menengah Kepemimpinan Mahasiswa (LMKM) dan Latihan Lanjut Kepemimpinan Mahasiswa (LLKM), tanpa mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM). Semangat dan keinginan untuk belajar untuk belajar dan melatih diri seperti ini, dituangkan dalam kesepakatan (sejenis surat pernyataan)  bahwa saya dan teman-teman harus lulus dalam perlatihan itu, jika tidak lulus konsekuensinya adalah tidak boleh menjadi fungsionaris LK selama berkuliah. Dan saya tekankan bahwa semangat dan keinginan itu muncul dari sebuah kesadaran diri (dan kolektif) bahwa LK FIS harus mampu mengatur dirinya sendiri. Saya berharap semangat seperti ini juga masih dimiliki oleh fungsionaris sekarang.

Mengakhiri periode kedua 2001-2002, keinginan untuk membentuk LK yang mandiri semakin menguat seiring tersedianya kader yang telah lulus mengikut pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh LKU (Lembaga Kemahasiswa Universitas), mahasiswa angkatan 2001 juga telah lulus mengikut LDKM. Setelah berdiskusi dengan pimpinan Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU), akhirnya disepakati bahwa FIS boleh membentuk LK dan mengakhiri masa satgas. Pemilihan ketua pada periode 2002-2003, baik untuk BPMF maupun SMF berjalan demokratis, langsung dibawa koordinasi Daru Purnomo, Pembantu Dekan III. Empat orang calon ketua BPMF mengikuti pemilihan, yang terpilih adalah sdr. Kaji Kalana Usop (ketua) dan sdr. Alvianto Wahyudi Utomo (Sekretaris). Demikian pula dengan pemilihan ketua Senat Mahasiswa (Sema), awalnya yang mencalonkan diri hanya 2 orang (representasi angkatan), namun akibat 2 kali pemilihan suaranya sama-sama kuat, akhirnya sidang memutuskan untuk melobi agar ada penambahan calon ketua Sema dari tiap angkatan, hasilnya, dari angkatan 2000 saya “dipaksa” untuk maju mencalonkan diri dan pemilihan kembali dilakukan dengan empat orang calon, yang kemudian suara terbanyak pertama dan kedua diraih oleh angkatan 2000, yakni saya sebagai ketua dan sdri. Sri Rahayu sebagai sekretaris. Dengan pemilihan ini, maka FIS menuju puncak periode ber-LK yang utuh.

Butuh pemandu untuk sampai ke puncak, pertanyaannya adalah, apa yang memandu kami? Semangat dan keinginan untuk mandiri sebagai LK itulah yang memotivasi kami (mahasiswa FIS) untuk mendalami SPPM dan KUKM. Semangat dan keinginan ini terkonfirmasi oleh keterbukaan ruang gerak dan situasi demokratis yang juga ditawarkan oleh fakultas, selain itu, peran PD III dan semua dosen ikut terlibat memikirkan dan memberi arah pengembangan LK menjadi motivasi tersendiri bagi mahasiswa yang jumlahnya tidak seberapa waktu itu.

Semangat dan keinginan mau belajar dan mengembangkan diri lewat LK mengalahkan fakta kekurangan anggaran yang kami miliki. Perlu diketahui, anggaran LK FIS 2002-2003, baik dana HS maupun PS hanya sebesar Rp 1,5 juta, ditambah dengan dana Iuran Keluarga Mahasiswa (Ikama) sebesar Rp 400 ribu, jadi jumlah total anggaran periode itu adalah Rp 1,9 juta. Realitas itu tidak membuat kami berkecil hati untuk mengembangkan LK FIS. Struktur program dan kegiatan yang kami putuskan dalam rapat kerja (raker) dan rapat koordinasi (rakoor) saat itu menghabiskan anggaran sebesar 57 juta. Pertanyaannya, bagaimana membiayai program dengan dana sebesar itu? Keinginan untuk mengembangkan diri itulah yang memotivasi kami, dan kerja keras itu membuahkan hasil : tidak ada satu program/kegiatan pun yang tidak terlaksana. Hal demikian hanya bisa terjadi karena kami memaknai diri sebagai fungsionaris yang mau berkerjasama mengembangkan LK yang kami cintai, berkerja dengan hati, sadar bahwa kami adalah pemimpin, dan mahasiswa perlu dilayani. Pemimpin yang melayani itulah yang memampukan mahasiswa untuk ikut terlibat dalam LK sekalipun dia bukan fungsionaris, jadi dengarlah keluh-kesah, dan masalah yang dihadapi mahasiswa dan lakukan sesuatu untuk mengatasi, maka mereka akan dengan senang hati terlibat dalam LK, sebab mereka sadar bahwa LK berguna bagi mereka. Bagaimana strateginya? Kembalilah ke lembah, jangan berdiam di puncak.

Strategi Menggerakan Kader

Jika anda pernah membaca KUKM, maka pada pasal 7 ayat 2 (huruf f) berbunyi : “setiap mahasiswa berkewajiban : mengembangkan diri dan kemampuan melalui Lembaga Kemahasiswaan”. Kewajiban tentu berbeda dengan hak, bagi saya hak berkaitan dengan pilihan. Pilihan untuk menggunakan atau tidak, melaksanakan atau tidak, dan memanfaatkannya atau tidak, kewajiban adalah sebuah keharusan untuk dilaksanakan. Dengan demikian, maka setiap mahasiswa harus menempatkan dirinya sebagai kader yang siap untuk dibina dan mengambil peran sebagai pemimpin. Setiap mahasiswa harus berperan sebagai yang creative minority itu. Mengembangkan diri dan kemampuan lewat lembaga kemahasiswaan tentu bukan harus selalu menjadi fungsionaris LK, menjadi pengurus angkatan, pengurus KBM, dan panitia kegiatan juga perlu dimaknai sebagai ‘mengembangkan diri dan kemampuan melalui LK, sebab LK mencakup kesemuaannya itu.

Dengan dasar pikir kelembagaan seperti ini, maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa LK kekurangan kader, namun ketika kekurangan kader menjadi sebuah realitas yang tidak terbantahkan, maka pertanyaannya adalah, peran dan fungsi apa yang sudah dilakukan oleh fungsionaris LK, khususnya Komisi B Organisas BPMFi? Ataukah fungsionaris juga tidak mengerti peran dan fungsinya? Atau, jangan-jangan mereka (fungsionaris) tidak pernah membaca KUKM dan SPPM? Mencermati kelembagaan LK UKSW, saya harus katakan : segala sesuatu telah tersedia, tergantung pilihan anda hendak belajar mengembangkan diri dan kemampuan atau tidak.

Dalam buku “Memorial Lecture Notohamidjojo : Kepemimpinan dan Pembinaan Pemimpin”, Notohamidjojo mengatakan bahwa “kepemimpinan adalah perhubungan antara pemimpin dan golongan penganut berdasarkan pilihan bebas (bukan berdasarkan paksaan atau dorongan naluri buta) dan kebutuhan pribadi yang diterangi akal”. Selanjutnya dikatakan pula bahwa “dalam kenyataan, terwujudnya seseorang yang telah mengalami latiham pembinaan sebagai pemimpin bergantung juga pada bakat dan kesempatan. Kalau kesempatan terbuka bersamaan dengan tersedianya orang yang berbakat dan mau melakukan kepemimpinan, maka muncullah pemimpin. Kalaupun ada kebutuhan akan perubahaan tetapi tidak bersangkut dengan seseorang berbakat, maka tidak muncul pemimpin. Kalaupun ada bakat hebat tanpa terbuka kesempatan (untuk mengembangkan bakat), maka tidak akan muncul pemimpin. Jadi menurut Notohamidjojo, ada interaksi antara pemimpin dan sekitarnya (Supardan dan R. Gultom, 1991 : 11, 15).

Pertanyaannya, apa yang perlu kita pelajari dari konteks : KUKM, SPPM, dan juga buah pikir pak Notohamidjojo? Bagi saya ada beberapa hal yang (mungkin) perlu dipertimbangkan, diantaranya :

  1. Bahwa secara kelembagaan, LK UKSW memiliki ‘dokumen’ pembinaan pemimpin atau pembinaan kader yang sangat lengkap. Pertanyaannya, anda mau meluangkan waktu untuk mempelajarinya atau tidak?
  2. Sebagai pimpinan LK, anda perlu merumuskan secara eksplisit apa tugas pemimpin dalam setiap kegiatan atau pelatihan yang dilakukan oleh LK, dimana anda mengirimkan mahasiswa (termasuk anggota anda) untuk mengikuti kegiatan itu.
  3. Sebagai fungsionaris, anda perlu membuka peluang bagi mahasiswa yang ‘berbakat’ untuk secara tidak langsung anda ‘dampingi’ dan menjadikannya sebagai kader anda. Bayangkan jika 10 orang pemimpin masing-masing memiliki satu kader!
  4. Anda perlu turun (kembali) ke lembah setelah mencapai puncak, karena mereka yang memilih untuk ‘tetap di puncak’ adalah mereka yang hanya mengerti bahwa dia adalah pimpinan tetapi tidak mengerti makna kepemimpinan.
  5. Sebagai pimpinan LK (khusu ketua BPMF dan SMF), anda adalah anggota senat fakultas. Dan anda mengerti bahwa ada mekanisme Rapat Fakultas yang anda berkewajiban rapat ini? Terdapat masalah koordinasi ke bawah yang perlu anda pikirkan dan selesaikan.
  6. Koordinasi atau pertemuan-pertemuan dengan mahasiswa-mahasiswa dan angkatan perlu dilakukan secara berkala, minimal sebulan sekali. Tujuannya adalah menjaring aspirasi dan masalah mahasiswa yang berkaitan dengan PBM, selai itu juga untuk mencari dan menemukan mahasiswa ‘berbakat’ yang siap dijadikan kader. Makna dari pertemuan sepertiini adalah untuk memberi kesan bagi mahasiswa bahwa LK siap hadir untuk mereka dan siap membela kepentingan mereka.
  7. Koordinasi, kontrol dan evaluasi terhadap KBM termasuk juga HMP perlu terus ditempatkan sebagai wadah mempersiapkan kader yang akan juga mengambil peran sebagai fungsionaris LK. Itulah makna tersirat dalam KUKM, ketika kelompok ini coba diformalkan, jadi jangan biarkan mereka jalan sendiri.
  8. Pertemuan dengan angkatan, KBM maupun HMP perlu dijadwalkan secara berkala, minimal sebulan sekali. Hasil pertemuan ini bisa menjadi materi yang memperkaya anda ketika menghadiri Rapat Dinas Fkaultas. Jadi, rapat dengan angkatan (mahasiswa), KBM dan HMP adalah arena mempertemukan kepentingan fakultas dengan kepentingan mahasiswa, yang dijembatani LK. Karena itu, sebagai pemimpi anda harus mencari “mutiara” yang siap dan bersedia dijadikan kader dalam arena itu.

Penutup

Faktanya, kita tahu bahwa LK Fiskom kekurangan kader (calon pemimpin). Dengan demikian, untuk mengurangi kelemahan-kelemahan yang muncul termasuk soal kaderisasi, demi mengembalikan citra serta kewibawaan LK, maka menurut hemat saya teman-teman harus meluangkan sedikit waktu untuk minimal membaca dan belajar tentang : (1) Statuta UKSW, (2) SPPM, (3) KUKM, (4) peraturan dan keputusan-keputusan yang pernah dibuat oleh BPMU, SMU, BPMF dan SMF, dan (5) Buku-buku tentang kepemimpinan dan metodologi. Temukan ‘mutiara’ dalam dokumen-dokumen tersebut, lalu lakukan, jangan hanya dibaca.

Saya yakin bahwa setiap periode kepemimpinan LK memiliki dinamikanya sendiri, maka hindarilah budaya copy-paste program. Anda adalah pemimpin periode anda, maka anda perlu ‘mempersiapkan’ diri untuk menatap ke depan, rumuskanlah harapan-harapan mahasiswa, harapan-harapan fakultas dalam program kerja anda. Ingat! LK adalah bagian penting yang ikut membentuk mahasiswa yang creative minority, jadi jangan mengekor yang lain. Buatlah keputusan dengan pertimbangan akal, dan lakukan keputusan itu. Mahasiswa butuh dilayani, mahasiswa butuh diperhatikan dan dibela kepentingannya. Yakinlah bahwa hanya jika anda turun (kembali) ke lembah, maka mereka akan dengan senang hati mengikuti anda ke puncak. Anda adalah pemandu itu, semoga.

___________________________________________________________________________________________________

Elly Esra Kudubun, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UKSW Periode 2002-2003.

Materi ini disampaikan pada kegiatan Reorientasi Fungsionaris LK Fiskom periode 2014-2015, pada 16 Agustus 2014, di UKSW. Materi ini merupakan formulasi Elly E. Kudubun “Pola Pembinaan Kader dan Rancangan Kurikulum” yang telah disampaikan dalam Diklat Kaderisasi Badan Perwakilan Mahasiswa, yang dilakukan BPMU, tanggal 31 Jurli 2005, bertempat di Yayasan Bina Darma, Salatiga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s