Opini

Membangun Kembali Identitas Kota Salatiga

oleh Ridwan Nur Martien

Setiap kota pasti memiliki identitas yang mana hal itu menjadi ciri khasnya. Bahkan lebih dari hanya sekadar identitas, tetapi juga nilai-nilai luhur dan arif yang terkandung di dalamnya. Mungkin sebagian masyarakat kota hari ini akan beranggapan bahwa kesenian, kuliner, dan komunitas adalah identitas sebuah kota. Bisa jadi hal itu benar.

Namun ketika kita berbicara mengenai identitas suatu kota, hal yang paling sering mengemuka adalah bentuk arsitektur bangunan-bangunan yang menghiasi kota itu. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa arsitektur bangunan-bangunan itu adalah representasi dari sejarah yang telah membentuk jati diri kota tersebut. Bangunan di sini bukanlah sekedar patung-patung heroik, atau landmark simbolis arsitektural belaka. Tetapi arsitektur yang menjadi identitas kota ini adalah yang memberikan kekhasan, yang memiliki nilai sejarah, dan memberikan sebuah sense penuh makna bagi setiap orang yang berjalan di sudutnya.

Lalu apa yang menjadi identitas kota Salatiga? Mungkin masyarakat Salatiga sendiri belum banyak yang mengetahui, bahwa diantara 512 kabupaten/kota di Indonesia, kota Salatiga termasuk dalam 50 kabupaten/kota anggota JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia). Jaringan ini didirikan dengan tujuan menjaga kelestarian Benda Cagar Budaya (BCB) peninggalan sejarah di Indonesia. Dan BCB itulah yang memberi kekhasan, nilai sejarah, dan identitas bagi kota Salatiga, sebagai Kota Pusaka. Kota Salatiga lalu dikenal sebagai kota yang tidak sekedar menjadi ‘candradimuka’ manusia masa kini, tetapi juga menawarkan kenangan masa lampau dengan segala keindahannya. Tentu membanggakan, karena tidak semua kota di Indonesia mendapat keistimewaan ini.

Sangat disayangkan, hari ini banyak kepala daerah yang berpikir bahwa identitas kota adalah landmark simbolis semata. Di kota Salatiga sendiri, dibangun patung-patung heroik yang lalu dijadikan landmark kota, misalnya patung Pangeran Diponegoro dan patung Jendral Sudirman di bundaran Tamansari. Bukan mengecilkan makna dari patung para pahlawan tersebut, tetapi sungguh ironis bila bangunan BCB berumur ratusan tahun yang justru menjadi kekhasan dan keistimewaan kota Salatiga lalu jadi kurang perhatian.

Hasil laporan Tim Kajian dan Identifikasi Bangunan Bersejarah tahun 2009, menyatakan kota Salatiga memiliki 144 BCB. Namun jumlah tersebut terus menyusut. Berdasarkan hasil inventarisasi Pemkot Salatiga bersama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng diketahui BCB di Salatiga saat ini tinggal 115 buah, 29 BCB lainnya dinyatakan rusak atau hilang.

Selain ketidaktegasan pemerintah dalam menegakkan peraturan mengenai BCB, kondisi ini juga bertambah rumit karena sikap dan cara pandang sebagian masyarakat Salatiga yang terlalu longgar terhadap modernitas dan pengembangan fisik kota. Misalnya pada insiden pembongkaran BCB di lahan eks Kodim Salatiga yang dulunya merupakan hotel Blommestein peninggalan Belanda. Sekarang bangunan tersebut telah dihancurkan dan rencananya akan dibangun pusat perbelanjaan. Sebagian warga yang kontra ini mungkin beranggapan bahwa Salatiga membutuhkan pusat hiburan dan pusat perbelanjaan.

BCB adalah sejarah Salatiga, yang jika dirusak sama saja dengan merusak sejarah dan identitas kota Salatiga. Sehingga patut jadi keprihatinan bersama, apabila pembangunan dan arus modernitas yang ada saat ini tidak bisa berjalan beriringan dengan nilai sejarah dan identitas sebuah kota, tetapi malah meniadakannya.

Mengenai masalah BCB yang tidak terurus atau bahkan rusak dan hilang, ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua orang yang mencintai kota ini. Tidak ada cara lain, seluruh elemen masyarakat dan pemerintah harus bersinergi untuk membangun kembali identitas kota Salatiga ini. Jangan sampai kota ini mengalami proses modernisasi yang tidak menghasilkan keunikan dan menonjolkan khasanah historisnya, yang justru dapat menyebabkan kota ini mengalami degradasi budaya dan masyarakatnya pun terbuai dengan modernisasi tanpa pernah tahu bahwa mereka punya identitas yang seharusnya jadi kebanggaan bagi mereka.

Membangun Identitas kota memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kekuatan kapital dan pasarnya kini begitu mudah mengendalikan kebijakan pemerintah terkait pembangunan kota. Tetapi membangun kembali identitas kota Salatiga sebagai ‘kota klasik’ dan ‘kota pusaka’ bukan mustahil untuk dilakukan, dengan menjaga dan melestarikan BCB. ■

Ed. Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s