Ragam

Keluarga Bahagia

Family

oleh Chikitta Carnelian*

Minggu lalu saya pergi ke sebuah warung burjo. Disana saya memperhatikan pengunjung-pengunjung yang lain. Tak lama kemudian datanglah sebuah keluarga, pas sekali seperti foto keluarga berencana, ada ayah, ibu, anak laki-laki dan anak perempuan. Kedua anak itu memakai kaos dalam yang warnanya sudah kecoklatan dan orang tuanya juga memakai kaos dan celana yang tidak terlihat licin atau mahal. Bisa dibilang melalui mata sok tau saya, mereka merupakan keluarga dari kelas menengah kebawah.

Namun, ada hal yang membuat saya senang melihat mereka. Walau mereka hanya makan mie instan goreng dan teh manis, mereka terlihat sangat bahagia. Keluarga ini makan sambil ketawa, mengobrol, tertawa lagi. Kemudian sang ayah mengelus rambut anak laki-lakinya, dan anak perempuannya bersandar manja ke ibunya. Tawa yang mereka keluarkan benar-benar tawa alami yang menyenangkan untuk didengar. Saya sering sekali menoleh ke meja mereka dan tersenyum melihat keceriaan itu.

Sempat terbesit di pikiran saya, “untuk apa sekeluarga makan di Burjo dan hanya makan mie instan? Di rumah juga bisa dan mudah. Sekeluarga kok tidak ke restaurant saja ya?” Pertanyaan saya sama tidak sekali bermaksud merendahkan, namun ini hanya pertanyaan anak muda yang biasanya melihat rombongan keluarga pergi ke restaurant, bukan ke burjo.

Saya ingat, malam sebelum ke burjo saya menghadiri undangan sponsor di sebuah restoran café yang terkenal mewah dan mahal di kota saya. Di meja dekat saya terdapat rombongan keluarga juga dengan formasi yang sama. Mereka makan steak, pizza, ayam dan lain sebagainya, yang bila dibandingkan dengan mie instan di Burjo seharga 7 ribu, bisa mencapai 300 ribu lebih. Namun keempatnya hanya duduk makan, berbicara sedikit, tersenyum sedikit dan selebihnya sibuk memegang HP atau tablet masing-masing dan tertawa dengan tablet atau ponselnya. Sangat berbeda dengan keluarga yang makan di Burjo. Tidak satupun dari mereka yang tertawa karena sesuatu di ponselnya, mereka tertawa karena sesuatu yang dibicarakan keluarganya.

Membandingkan hal ini saya mengingat dua buah persepsi yang sering dibacarakan orang-orang “bahagia itu simple.” Dan “yang penting itu bukan tempatnya, tapi kualitas pertemuan dan pembicaraannya.” Memang bahagia itu simple. Tidak perlu restoran mewah, baju mahal dan gadget terbaru. Tidak perlu makanan seharga minimal 60 ribu per piringnya, namun yang terpenting adalah meluangkan waktu untuk duduk dan makan dengan orang-orang terkasih sambil membicarakan sesuatu hal yang menyenangkan, bukannya berbicara dengan individu-individu lain yang ada di dalam gadget.

Disini saya tidak menyindir orang yang suka makan di restoran karena saya sering sekali ke restoran, tidak menyindir orang yang mampu beli baju dan gadget mahal. Tidak masalah anda datang dari kelas mana saja namun dengan majunya teknologi, quality time dengan keluarga tetap harus dipertahankan. Kini semakin sulit untuk duduk dan makan bersama dalam satu keluarga sambil berbincang karena sibuknya masing-masing anggota keluarga. Sisihkan waktu dengan keluarga, makan di satu meja, baik itu di rumah, di warung, ataupun di café, singkirkan gadget, dan fokuslah dengan keluarga anda. Ciptakan quality time yang berkualitas dengan keluarga. Karena merekalah inti dari kebahagiaan kita.

* PEMIMPIN REDAKSI LENTERA

MAHASISWI HUBUNGAN INTERNASIONAL FISKOM UKSW 2013

(Editor : Bima Satria Putra)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s