Litera

Jagal : Sebuah Dokumenter dari Pembantaian yang Tak Tercatat

The-Act-of-Killing-Movie-Poster

Judul          : Jagal (The Act of Killing)

Director    : Joshua Oppenheimer

Duration   : 159 menit

Release      : 31 Agustus 2012

“Dalam hal jumlah orang yang dibunuh, pembantaian terhadap PKI di Indonesia menempati salah satu pembunuhan massal paling parah dalam abad 20” (Central Intelligence Agency, 1968)

Jagal mencoba memutar kembali pasir waktu untuk menyingkap tragedi pembantaian terduga komunis sepanjang 1965-1966 yang pernah menghiasi babak tergelap dalam sejarah Indonesia. Tak seperti film-film tema seputar tragedi 65 lainnya yang kebanyakan menarasikan cerita dari sudut pandang para korban. Joshua Oppenheimer, sang sutradara, justru mengambil perspektif dari pelaku. Membuat Jagal tampil sebagai rekaman olah TKP yang begitu detail dan mendalam. Dengan begitu luwes, kamera Joshua berusaha mendekatkan kita dengan kehidupan si pelaku.

Film yang sempat diputar di Festival Film Toronto dan Telluride 2012 ini mengambil fokus pada tragedi pembantaian terhadap siapapun yang dituduh aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) di daerah Sumatera Utara. Bahkan beberapa adegannya secara gamblang menunjukkan Pemuda Pancasila sebagai aktor-aktor yang turut bertanggung jawab dalam proses eksekusi aktivis PKI di Medan. Anda dapat menyaksikan sebuah konstruksi ulang yang memuat beberapa aktor Pemuda Pancasila tengah membakar rumah-rumah para tertuduh PKI serta memperlihatkan aksi brutalnya.

Melalui Anwar Congo sebagai aktor utamanya, film bergaya dokumenter ini mampu menemukan fakta-fakta mengejutkan sekaligus mengerutkan dahi kita terhadap motivasi pembantaian dan karakteristik para oknum yang bebas dari jerat hukum bangsa ini. Dialog intens dan mendalam antara Anwar dengan Joshua ataupun Anwar dengan rekan-rekan  sesama penjagal PKI, mampu menyusun sejarah pembantaian tersebut dengan sangat rapi.

Film yang berjudul The Act of Killing dalam versi Bahasa Inggris-nya ini hadir dalam durasi panjang dan pendek. Dalam durasi panjangnya, Joshua seakan tak ingin melewatkan sedikit pun detail yang dianggapnya penting untuk dimengerti oleh penonton di luar Indonesia. Bahkan penggambaran absurd dari imajinasi Anwar Congo terhadap sisi gelap yang dianggapnya sebentuk kepahlawanan itu pun tak hanya muncul di bagian opening, melainkan pula pada bagian klimaks dan ending.

Melalui film ini, penonton diajak berimajinasi untuk memahami dampak pembantaian massal terhadap kesadaran berbagai generasi Indonesia yang berbeda. Dimana sampai hari ini, buku-buku sejarah di sekolah tidak mencatat aksi pembantaian seputar peristiwa 1965, selain pembunuhan enam jenderal Angkatan Darat yang juga dikemas dalam film propaganda. Sebagian besar masyarakat kita pun masih memberikan stigma negatif kepada orang-orang yang dituduh PKI. Tak bisa dipungkiri, itu adalah dampak dari doktrin dan propaganda yang begitu kuat dilancarkan oleh Soeharto dan para jenderal-nya selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s