Forum

Memanusiakan Perempuan, Meng-empu-kan Kemanusiaan

oleh May Lan *

woman dehumanitation

kalau disebut wanita itu makhluk lemah lalu harus dilindungi, itu tidak benar dua-duanya.
Lemah? Ia lebih bertahan di hari tua dan sebagai balita.
Dilindungi? lebih tepat dieksploitasi yang penting harus dikekang kebebasannya.

Toeti Heraty

Isu tentang perempuan masih menjadi bahan diskusi yang menarik manakala perjuangan untuk menempatkan perempuan pada fitrahnya sebagai manusia masih jauh dari harapan. Begitu banyak kendala, baik sosial maupun budaya, yang menghambat upaya untuk mengurai benang kusut realitas kemanusian: perempuan adalah perempuan.

Perempuan sebagai realitas kemanusiaan seringkali mengalami pereduksian oleh berbagai kepentingan, sehingga menciptakan realitas baru yang justru menurunkan harkat dan martabat mereka sebagai manusia (baca: dehumanisasi). Dehumanisasi menandai bukan saja mereka yang telah dirampas kemanusiaannya, tetapi juga (biarpun dengan cara yang berbeda) mereka yang telah merampasnya, sebuah penyimpangan fitra untuk menjadi manusia sejati (Freire, 1985: 11).

Dengan demikian, usaha memanusiakan perempuan pada dasarnya merupakan upaya untuk memuliakan kemanusiaan itu sendiri, yang telah terperangkap oleh kepentingan dan kekuasaan yang menindas.

Perempuan dalam Lingkaran Dehumanisasi

Ketika berbicara tentang keterpurukan nasib perempuan, sebenarnya kita sedang berbicara tentang ketidakadilan yang harus diterima oleh kaum perempuan karena jenis kelamin mereka. Ketidakadilan terhadap perempuan, menurut gadis Arivia, tidak pernah berdiri sendiri (2006: 8). Ada sistem interlocking  yang turut bertanggung jawab terhadap berbagai tindak diskriminasi yang mereka alami. Sistem itu dirajut secara canggih oleh kepentingan yang merepresentasikan budaya patriarki[1] (berikut paternalistik) dan kapitalisme.

Ketidakadilan melontarkan perempuan dalam marjinalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan dan beban kerja yang unfair. Dalam hal ini kemiskinan, keterbelakangan, pelabelan negatif, kelemahan dan penderitaan identik dengan wajah perempuan yang tertindas. Penindasan terhadap perempuan berakar dari praktik dan kebiasaan (baca: kebudayaan) yang menjauhkan mereka dari realitas kesetaraan.

Penindasan menjadikan perempuan sebagai objek. Ketika perempuan menjadi objek, maka sesungguhnya mereka bukan lagi manusia yang utuh[2]. Hal ini ditujukan oleh kemampuan kaum perempuan yang sebatas beradaptasi dengan lingkungan mereka. Padahal menurut Paolo Freire, adaptasi merupakan bentuk pertahanan yang paling rapuh. Seseorang menyesuaikan diri karena ia tidak mampu mengubah realitas. Menyesuaikan diri merupakan kekhasan tingkah laku binatang, yang bila diperlihatkan oleh manusia akan merupakan gejala dehumanisasi.

Dehumanisasi[3] yang dialami oleh perempuan merupakan suatu pengondisian yang diciptakan begitu sahih oleh kekuasaan, baik laki-laki maupun perempuan, yang bergerak dari ranah privat sampai ranah publik: dari tingkat domestik sampai global.

Menguak Selubung Pemikiran

Berbicara mengenai keterpurukan nasib perempuan pada dasarnya berbicara tentang penindasan yang dialami oleh perempuan karena konstruksi sosial dan budaya, bukan kodrat. Meski seringkali kodrat tergelincir menjadi alat legitimasi untuk membenarkan penindasan terhadap mereka.

Pada tataran inilah sebenarnya usaha untuk membebaskan perempuan dari ketertindasan memiliki relevansi untuk dicarikan jalan keluarnya, yaitu dengan membongkar konstruksi sosial dan budaya yang asimetris. Usaha itu mungkin dilakukan manakala praktik dan kebiasaan, atau budaya, yang memurukkan perempuan tidak dianggap sebagai given[4]. Dengan begitu, usaha membongkar konstruksi memiliki peluang untuk terwujud dalam kenyataan saat kaum perempuan dibebaskan dari ketertindasan mereka.

Pembebasan perempuan dari ketertindasan dapat ditempuh melalui berbagai usaha, seperti yang disodorkan Nawal el Saadawi. Ketika berkunjung ke Indonesia beberapa tahun yang lalu, Nawal el Saadawi[5] sempat melontarkan pernyataan perlunya sebuah usaha untuk membongkar selubung pemikiran (unveiled the mind) apabila kita berbicara tentang wacana pembebasan yang menempatkan perempuan sebagai perempuan[6]. Wacana tersebut menyiratkan usaha menempatkan perempuan dalam bingkai kemanusiaannya, women should be human, beyond gender or without it.

Dalam usaha unveiled the mind, rekonsientisasi[7] menjadi persyaratan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi demi merangkai keutuhan manusia sebagai manusia. Keutuhan kaum perempuan ditunjukan melalui kemampuan mereka untuk mengintegrasi dengan lingkungan. Kemampuan tersebut merupakan perwujudan dari kebebasan positif[8], yang menggiring perempuan tidak hanya mengalami freedom form, tetapi lebih jauh lagi freedom for yang sanggup memaknai kemanusiaan mereka. Tidak sekedar berhenti sampai emansipasi, melainkan terus bergerak ke arah otonomi diri.

Keadilan bagi kaum perempuan adalah perjalanan panjang yang tidak bertendensi mempertentangkan mereka dengan kaum laki-laki pada umumnya, melainkan untuk meruntuhkan konstruksi sosial dan budaya yang masih menempatkan perempuan sebagai the other-seperti yang ditengarai oleh Simone de Beauvoir. Usaha itu menyiratkan satu bentuk perjuangan yang tidak bisa tidak meletakkan perempuan dalam bingkai kemanusiaan mereka, sekaligus kemanusia yang telah tercerabut dari dalam diri mereka. Dari sinilah diskusi kita akan mengalir.

* STAF PENGAJAR FISKOM UKSW,
PENGAMPU MATA KULIAH KAJIAN GENDER DAN FEMINISME

Tulisan ini pernah dibahas dalam Diskusi Lingkar Pemikir Kritis di Salatiga, pada 28 Mei 2014.

_______________________________________________________

[1] Kata patriarki berarti the rule of father.

[2] Seperti pernyataan Aristoteles yang menyebutkan bahwa perempuan adalah setengah manusia.

[3] Dehumanisasi menurut Freire, erat kaitannya dengan asistensialisme. Bahaya terbesar asistensialisme adalah kekerasan anti dialognya yang memaksa manusia bungkam dan pasif, serta menolak kemungkinan manusia untuk berkembang dan ‘membuka’ kesadaran manusia (1984:15-6).

[4] Salah satu argumentasi yang bisa dikemukakan disini adalah pendapat Maria Mies mengenai patriarki. Menurut Mies, jika patriarki itu had a specific beginning in history, maka it can also have an end (1986: 38).

[5] Sosok penulis yang selalu menyuarakan yang progresif mengenai keadilan, kesetaraan, dan nilai-nilai manusia. Menurut Nawal el Saadawi, selubung yang menutupi akal sehat itu dirajut begitu canggih melalui media, sistem pindidikan, dan pemikiran politik fundamentalisme dalam berbagai agama, baik di Barat maupun di Timur, di Utara maupun Selatan. (Berdasarkan wawancara Nawal el Saadawi, Kompas, 3 Desember 2006, hlm. 12.)

[6] Atau, dalam istilah Nancy Chodorov disebut sebagai consciousness raising (1978, dalam Arivia, 2006: 194).

[7] Rekonsientisasi (penyadaran kembali) bertilik tolak dari konsep yang sarat nilai dan kita kenal sebagai conscientizacao, atau rekonsientisasi, yang secara singkat menunjuk pada ‘proses belajar’ untuk memahami kontradiksi politik dan ekonomi serta mengambil tindakan melawan unsur opresif dari realitas. “Belajar” lebih dari sekedar mengerti, mengimplikasikan “refleksi” dan “aksi” (Freire, dalam Sastrapratedja, 1998: 1).

[8] Lihat tulisan Erich Fromm mengenai kebebasan positif ini dalam bukunya Lari dari Kebebasan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).

Iklan

2 thoughts on “Memanusiakan Perempuan, Meng-empu-kan Kemanusiaan

  1. Reblogged this on Greek Tragedy and commented:
    Sangat menyedihkann ketika melihat wanita-wanita tidak diperlakukan sebagaimana manusia biasa, bukan sebagai obyek. Ini adalah artikel yang benar-benar menarik.

    Suka

  2. Sangat menyedihkann ketika melihat wanita-wanita tidak diperlakukan sebagaimana manusia biasa, bukan sebagai obyek. Ini adalah artikel yang benar-benar menarik.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s