Opini

Kita Beridentitas Asean?

oleh Chikitta Carnelian *

3 bulan lagi kita akan menghadapi komunitas ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) 2015. Komunitas ini terbagi menjadi 3 komunitas lainnya; AEC (ASEAN Economic Community),  APSC (ASEAN Politics and Security Community) dan ASCC (ASEAN Socio-Cultural Community). Ketiga komunitas ini merupakan langkah awal menuju visi ASEAN 2020. Tetapi di sini saya hanya membahas mengenai ASCC.

Seperti yang dinyatakan dalam blueprint ASCC, ASCC memiliki tujuan untuk mewujudkan komunitas ASEAN yang berorientasi kepada masyarakatnya dan bertanggungjawab secara sosial dengan pandangan untuk meraih solidaritas dan persatuan abadi diantara negara anggota dan masyarakat ASEAN. Hal ini diusahakan untuk membentuk identitas yang sama dan membangun masyarakat yang peduli dan saling berbagi secara inklusif sehingga menyebabkan peningkatan pada kesejahteraan, mata penca-harian dan kesejahteraan masyarakat.

Ada hal unik ini yang ingin saya tekankan, yaitu “membentuk identitas ber-sama”. Di dalam penjelasan selanjutnya, ASCC digunakan untuk memberi keuntungan kesejahteraan negara dari integrasi regional. ASCC juga diharapkan untuk menyadarkan warga untuk menerima identitas regional dan keluar dari kotak identitas domestik mereka, hal ini tercapai bila masyarakat secara nasional sadar untuk mempromosikan bahwa regional mereka satu dan dengan saling berbagi identitas. Hal ini dinyatakan agar kontak, hubungan dan perjalanan antarnegara lebih mudah, sehingga hubungan antar-negara berjalan lancar dan kerjasama dapat menghadirkan kesejahteraan.

Yang membuat saya tidak yakin adalah persamaan identitas regional sebagai ide-ntitas ASEAN. Memang di dalam blueprint dijelaskan hanya nilai-nilai yang sama saja yang dipersatukan. Namun, penyamaan identitas ini menyulitkan. Tak dapat dip-ungkiri konflik budaya antar negara ASEAN masih terjadi hingga kini, seperti yang terjadi pada hubungan Indonesia – Malaysia, hubungan antara Thailand – Myanmar di perbatasan dan masa lalu yang kelam Vietnam Selatan dan Utara dengan perbedaan budayanya. Apakah mereka mau dijadikan bangsa yang beridentitas sama?

Menurut saya hal ini dapat menyebabkan konflik. O’brien dalam tulisannya yang berjudul Ethnicity, National Identity and Social Conflict, konsep moderen budaya terdiri dari konten sosial, politik, ekonomi dan budaya. Seperti yang juga dinya-takan dalam Manila Times, kelemahan dari negara-negara ASEAN adalah sejarah budayanya. Budaya ASEAN tercampur antara budaya lokal, Asia timur, dan negara penjajah. Sebagian besar budaya lokal tidak memiliki keterangan jelas mengenai pembuatnya, sehingga tidak dapat dipatenkan. Hal ini kemudian akan membuat negara-negara untuk saling mengklaim budaya tersebut. Yang berujung dengan timbulnya rasa saling benci antar bangsa, sehingga mereka tidak mau bersatu.

Tujuan ASCC sebenarnya untuk mempersatukan negara-negara ASEAN agar terhindar dari konflik sosial-budaya yang terus memecahbelah secara perlahan. Di dalam blueprint sendiri menyatakan bahwa penyatuan budaya ini belum dibahas secara mendetail. Yang saya takutkan adalah terjadinya kesalahan penyimpulan yang dapat menyebabkan krisis. Krisis identitas terjadi ketika suatu bangsa sudah bercampur budayanya dengan bangsa lain, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan budayanya. Sehingga bangsa itu lupa kepada akar budayanya sendiri dan kehilangan identitas nasionalnya. Dalam penjelasan di atas, para warga perlu menyatukan identitas menjadi identitas regional dan keluar dari dentitas domestik. Dan seperti dinya-takan dalam teori multikulturalisme, bila identitas nasional hilang, bisa dianggap bahwa bangsa itu hilang.

Dapat disimpulkan bahwa penjelasan di dalam blueprint belum dapat dipaparkan secara detail. Ada beberapa hal yang mungkin terjadi apabila terjadi kesalahan dalam pelaksanaan blueprint tersebut. Pertama, terjadinya konflik budaya karena usaha penyamaan budaya regional. Antar bangsa dapat saling klaim budaya atau memberontak, karena tidak mau disamakan dengan bangsa tetangga yang memiliki sejarah buruk dengan bangsa sendiri. Kedua, terjadi krisis identitas nasional karena pencampuran berlebihan yang akan mengakibatkan hilangnya identitas budaya suatu bangsa yang mengancam eksitensi bangsa tersebut. Seperti yang dinyatakan Uberoi dan Modood dalam politics.co.uk, multikulturalisme bukanlah alasan untuk kehilangan identitas, semua bergantung pada bagaimana kita mampu menjaganya.

Menurut saya, blueprint ASCC perlu diperjelas, agar kinerja penyamaan nilai-nilai universal dapat berjalan dengan tepat dengan dilakukannya sosialisasi yang baik pada masyarakat negara anggota ASEAN. Sehingga masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk berbaur dengan bangsa ASEAN lainnya dengan tetap memegang teguh akar budaya bangsanya sendiri.

* Pemimpin Redaksi Lentera,

Mahasiswi Hubungan Internasional Fiskom UKSW 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s