Uncategorized

FOOT

FOOT bermula dari ide penggabungan 2 program yang berbeda, yaitu makrab dan LDKM. Alasan penggabungan macam-macam, efisiensi misal. Ketimbang makrab dan LDKM yang dipisahkan, FOOT tidak membuang-buang waktu, biaya dan tenaga mahasiswa baru. Mahasiswa baru tidak perlu mengikuti LDKM setelah makrab, mereka hanya perlu mengikuti FOOT. Mereka tidak perlu membayar dua kali.

Selain itu, peserta tahun ini tidak seperti badut bodoh dengan atribut-atribut konyol nan memalukan seperti caping, ikat rambut atau kalung telur puyuh. Pihak panitia menjamin akan mencegah terjadinya tindak kekerasan yang mungkin terjadi selama pelaksanaan FOOT.

Namun sebagai program baru, ada beberapa hal yang harus menjadi refleksi kritis bersama sivitas Fiskom mengenai FOOT.

Pertama adalah efektifitas. Biasanya Makrab dan LDKM berlangsung masing-masing selama tiga hari. Jika kedua kegiatan tersebut digabungkan menjadi satu, paling tidak pelaksanakannya menjadi enam hari. Kenyataanya, FOOT hanya dilaksanakan dalam waktu tiga hari, ini merupakan pemadatan habis-habisan terhadap kegiatan Makrab dan materi-materi LDKM.

Pemadatan ini bisa saja berujung kepada gagalnya program kerja karena tidak tercapainya skala keberhasilan program secara kualitatif. Jika LDKM yang berlangsung selama tiga hari saja -yang sering disebutkan gagal membentuk jiwa kepemimpinan mahasiswa- bagaimana FOOT yang berlangsung sama tiga hari dapat membentuk kepemimpinan dan mengakrabkan mahasiswa secara sekaligus?

Oleh karenanya, materi kepemimpinan yang disampaikan harus segera dipraktikkan dan didiskusikanuntuk memberikan  pengalaman dan pemahaman lebih jauh terhadap peserta makrab mengenai materi yang disampaikan. Untuk mengakrabkan peserta, panitia harus membuat dan melaksanakan permainan-permainan yang dapat  melibatkan peserta secara aktif dan mempermudah interaksi antar peserta.

Kedua, mahasiswa lama yang telah mengikuti makrab, harus mengikut FOOT karena belum mengikuti LDKM. Tentu saja ini kurang adil bagi mahasiswa lama. Dalam artian bahwa mereka harus mengikuti makrab dua kali, ‘dibodoh-bodohi’ dua kali.

Ketiga, sertifikat dan poin. Bagi mahasiswa pemburu poin, sertifikat harus dikumpulkan sebanyak-banyak sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana. Bagi mahasiswa pemburu poin, semakin banyak poin yang dapat dikumpulkan, maka akan semakin bangga pula mereka.

Jika sebelumnya kedua kegiatan tersebut baik makrab maupun FOOT, menghasilkan masing-masing satu sertifikat. Maka pada FOOT, mahasiswa hanya mendapatkan satu sertifikat. Ini berarti menghilangan hak mahasiswa untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya.

Terakhir dan paling penting,  esensi. Makrab dan LDKM, merupakan dua program kerja yang sangat berbeda. Intinya, makrab bertujuan untuk mengakrabkan. Sementara LDKM, bertujuan untuk melatih dan membentuk kepemimpinan mahasiswa.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan program kerja tersebut, kedepannya harus diadakan evaluasi yang  meli-batkan sivitas fakultas dan terutama peserta makrab, berkaitan dengan penyempurnaan FOOT, dan keberlanjutan FOOT kedepannya. Terlebih kedua program tersebut, terutama LDKM, vital fungsinya dalam mencapai tujuan serta visi dan misi UKSW untuk membentuk lulusan yang berdaya cipta (creative minority).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s