Forum

Kasta Dalam Masyarakat Bali

oleh Dias Anggun *

Luis de Mena, Pintura de castas y Virgen de Guadalupe, 1750

Luis de Mena, Pintura de castas y Virgen de Guadalupe, 1750

Indonesia memiliki kurang lebih 13 ribu pulau yang memiliki berbagai macam suku, budaya dan adat yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Bali. Selain terkenal dengan keindahan alamnya, Bali didominasi oleh orang beragama Hindu. Dari hampir 4 juta penduduk Bali, 3,2 juta penduduknya beragama Hindu. Maka wajar bila Bali dijuluki pulau seribu pura.

Bali juga mempunyai banyak sekali budaya yang sangat menarik, seperti tarian, seni pahat, seni lukis, dan adat yang sangat kental. Salah satu hal yang sangat dikenal dari Bali adalah penggolongan tingkatan sosial atau yang lebih dikenal dengan kasta.

Kasta berasal dari India (Nengah Kokog). Istilah pertama yang digunakan di India sesungguhnya bukanlah kasta tetapi “varnas” dari Bahasa Sanskerta yang artinya warna (colour); ditemukan dalam Rg Veda sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Di dalam varnas dikenal tingkatan sosial, yang terdiri atas Brahman (pendeta), Kshatriya (prajurit dan pemerintah), Vaishya (pedagang/ pengusaha), dan Sudra (pelayan). Tiga kelompok pertama disebut “dwij” karena kelahirannya diupacarai dengan prosesi penyucian.

Pembagian inilah yang dilihat oleh bangsa Portugis sehingga munculah istilah “casta” yang artinya pengelompokan. Kemudian seiring berjalannya waktu, ajaran india ini menyebar luas ke Indonesia. Dimana dampak yang sangat terlihat sampai sekarang berada di Pulau Bali. Pemahaman pada masa lalu, di Bali dikenal dengan catur wangsa/kasta dimana golongan brahmana adalah golongan untuk orang-orang yang menjadi penasehat kerajaan yaitu orang yang memimpin jalannya upacara agama yang diberi title Ida Bagus,  golongan ksatria untuk para raja dan kaum bangsawan yaitu orang-orang yang menjalankan sebuah pemerintahan yang diberi title Anak Agung dan cokorda, golongan waisya adalah golongan untuk orang-orang yang menjadi pedagang, petani dll yang diberi title Putu, Kadek, Komang, Ketut, dan golongan sudra adalah golongan untuk orang-orang yang menjadi pekerja atau pelayan yang diberi title sama seperti golongan waisya.

Namun dengan adanya perubahan, jaman kerajaan ditinggalkan dan memasuki jaman kemerdekaan, pemahaman akan catur wangsa atau kasta ini pun berubah. Masyarakat Bali sekarang menyebut catur wangsa dengan istilah catur warna. Dimana catur artinya empat dan warna artinya memiliki atau pilihan. Jadi catur warna adalah empat pilihan hidup atau empat pembagian berdasarkan bakat dan keterampilan seseorang, serta kualitas kerja yang dimiliki sebagai akibat dari pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan.

Sama seperti catur wangsa, dalam catur warna ini terdiri dari golongan brahmana yaitu orang-orang yang memimpin jalannya sebuah upacara keagamaan, golongan ksatria yaitu orang-orang yang menjalankan sistem pemerintahan, golongan waisya yaitu orang-orang yang bekerja sebagai pedagang, peternak, petani, dan golongan sudra yaitu orang-orang yang bekerja sebagai pelayan dan pekerja.

Tetapi sekarang, pemahaman pembagian tingkatan sosial di Bali saat ini tidak bisa dilihat dari namanya saja. Belum tentu seseorang yang namanya berawalkan Anak Agung dapat dikatakan berada pada tingkat ksatria. Tingkatan sosial di Bali dapat dilihat profesi apa yang yang ditekuni. Bila seseorang berprofesi sebagai PNS atau terlibat dalam pemerintahan, maka ia bisa digolongkan dalam tingkatan ksatria. Tetapi apabila seseorang berprofesi sebagai pemimpin agama, maka ia bisa digolongkan pada tingkat brahmana. Hal ini juga berlaku untuk tingkatan vaishya dan sudra.

* Jurnalis Lentera
Mahasiswi Hubungan Internasional Fiskom 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s