Opini

Persfobia

persfobia

oleh Alexio Alberto Caesar *

Indonesia beruntung memiliki UU tentang Pers No. 40/1999 sebagai instrument Negara yang tidak hanya menjamin kebebasan profesi jurnalis, tetapi juga menjaga kepentingan masyarakat dan mendukung semangat kebebasan pers dengan baik. Pers hari ini mendapat kebebasan untuk melakukan kritik sosial, menyajikan hiburan, pendidikan, dan pemberitaan yang aktual. Karena perannya yang penting, pers tumbuh berkembang, menjadi sahabat masyarakat yang senantiasa memberikan wawasan. Ledakan media massa di Indonesia terjadi setelah terbitnya UU tersebut.

Namun, tak semua menganggap pers sebagai sahabat. Ada pula masyarakat yang tidak percaya akan pers, yang beranggapan bahwa pers menyajikan berita yang dibuat-buat atau terkesan hiperbola. Karena sikap pers yang cenderung skeptis terhadap banyak hal ini kemudian membuat masyarakat beranggapan bahwa batas ruang publik dengan ruang privasi menjadi kabur, saat hal-hal privat secara intens terpampang di berbagai media.

Meminjam istilah dari Herry Priyono (2004), kinerja dan arah ke depan ranah publik kian tergantung sejauh mana ia mendatangkan laba (profitable), dapat dijajakan (salable), dan dapat diperjualbelikan (marketable). Hal-hal seperti inilah yang membuat masyarakat mulai meragukan fungsi pers itu sendiri.

Tak heran tumbuh sebuah penyakit yang berkembang di masyarakat yang dinamakan persfobia. Pers berasal dari kata press yang berarti cetak, sementara fobia berasal dari kata phobia atau rasa takut yang berlebihan. Perfobia adalah rasa takut yang berlebihan terhadap setiap aktivitas jurnalistik, mulai dari pengumpulan dan penyimpanan data, hingga penyebarannya.

Persfobia adalah sebutan bagi orang-orang yang takut atau merasa risih dengan keberadaan pers di dalam kehidupan mereka. Hal seperti ini berdampak langsung ketika seorang wartawan hendak mewawancarai atas nama lembaga pers atau surat kabar, para narasumber ogah memberikan komentar atau penjelasan kepada pers. Ketakutan atau enggan berkomentar terjadi karena masyarakat belum bisa mempercayai pers sepenuhnya. Mereka takut pernyataan mereka digugat dan diprotes. Kenyataannya, pers sudah berusaha menyajikan fakta. Di sini pers mencoba menyuarakan pendapat masyarakat. Masalahnya, masyarakat sendiri sudah berani bersuara atau belum?Selain itu, ketakutan terhadap pers sendiri dapat dilihat dengan pelarangan liputan dan kekerasan terhadap jurnalis. Seringkali pers sudah faktual dan objektif, tetapi masih ada saja yang persfobia.

Sebenarnya, pers hadir di tengah masyarakat untuk melayani. Sebagaimana ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Element of Journalism (2007) mengatakan bahwa, loyalitas utama wartawan adalah hak-hak warga negara, karena pers itu sendiri bertanggung jawab kepada masyarakat. Sementara Harold Lasswell melihat pers berfungsi sebagai control sosial dalam kehidupan demokrasi.

Pekerja pers, dalam hal ini seorang wartawan, adalah manusia dan bukanlah sebuah robot. Mereka memiliki hati nurani, pemberitaan secara komprehensif dan proporsional sudah menjadi tanggung jawab setiap wartawan. Jurnalis, tidak bekerja asal-asalan, mereka memiliki etika jurnalistik. Meski mereka hidup di negara yang memiliki kebebasan pers, tetapi mereka tidaklah bertindak sesuka hati, mereka bekerja dengan hati nurani, dengan tanggung jawab. Semoga menjadi renungan bagi semua pihak, bahwa tidak semua pers hadir untuk menjadi hantu, tetapi untuk membantu.

* PENYUNTING NASKAH LENTERA, KETUA KBM FOTOGRAFI COMIC,
MAHASISWA PERIKLANAN FISKOM UKSW 2013

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s