Forum

Strukturalisme Konflik dan Katup Penyelamat : Mengatur Konflik, Tanpa Mengubah Struktur

Genosida

oleh Bima Satria Putra

Lewis Coser dalam bukunya The Function of Social Conflict menjelaskan bahwa konflik secara positif dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak melebur ke dalam dunia sekelilingnya. Ibarat dua sisi sebuah koin yang dilempar, dapat dibayangkan bahwa penguatan identitas kelompok hanya memiliki dua opsi jika koin tersebut jatuh. Antara jatuh ke kiri, atau ke kanan. Jatuh kearah penguatan identitas para anggota kelompok dan identifikasi in-group, atau jatuh kepada kesulitan mempelajari, memahami dan menyesuaikan diri dan kelompok terhadap lingkungan sekitar yang diakibatkan karena penolakan terhadap nilai-nilai dari kultur lain.

Coser sebagai seorang sosiolog yang menentang pandangan negatif terhadap konflik sosial, ia menentang pemikiran yang secara implisit melihat konflik hanya sebagai sesuatu yang destruktif dan patologis[1] dalam masyarakat. Sejauh konflik tidak berlawanan dan menghancurkan struktur sosial, konflik di mata Coser adalah sesuatu yang positif. Konflik itu sehat jika tidak terjadi kekacauan dan anarkis.

Pada kenyataannya, kehidupan kita dalam bermahasiswa, konflik, stereotip dan rivalitas terhadap suatu kelompok tertentu merupakan hal yang ingin saya –dan mungkin juga anda- ingin hindari. Perkelahian antar suku dan etnis, maupun dengan warga sekitar kampus tidak jarang terjadi. Gesekannya panas, lihat baru-baru ini sekelompok mahasiswa etnis tertentu mengalami bentrok dengan warga Kemiri, atau perkelahian sekelompok pemuda etnis tertentu dengan etnis yang lain beberapa tahun silam.

Data tahun 2011 menunjukan bahwa di UKSW, terdapat 34 suku bangsa dari dalam maupun luar Indonesia yang terwakili oleh 12.065 mahasiswa aktif UKSW. Keberagaman ini menjadikan UKSW sebagai sebuah laboratorium penelitian pemahaman lintas budaya, yang di baliknya tersimpan potensi bahan bakar. Sulut dengan api, maka konflik siap berkobar. Penyebabnya beragam, terkadang sepele. Misalnya masalah antar individu yang berbeda etnis dan kemudian melibatkan kelompok etnis mereka. Penyebab di atas terus berulang dari tahun ke tahun.

Coser kemudian mengenalkan sebuah “jalan keluar untuk meredakan permusuhan”, sebuah katup penyelamat (savety-valve). Katup penyelamat ialah suatu mekanisme khusus yang dipakai untuk mempertahankan dari kemungkinan konflik sosial. Katup penyelamat membiarkan permusuhan tersalur tanpa menghancurkan seluruh struktur, konflik membantu membersihkan suasana dalam kelompok yang sedang kacau. Tanpanya, konflik sosial yang ada akan semakin tajam (dalam Margaret Poloma. 1999 : 108).

Di sini, katup penyelamat digunakan untuk mengungkapkan rasa tidak puas terhadap struktur. Katup penyelamat menyediakan sarana lewat mana pihak yang berkonflik bisa mengungkapkan keluhan mereka. Lembaga tersebut membuat kegerahan yang berasal dari situasi konflik tersalur tanpa menghancurkan suatu struktur dan sistem yang sudah ada. Katup penyelamat tersebut dapat berupa lembaga-lembaga sosial, seperti PBB, DPR, Serikat Buruh atau LK.

Kritik terhadap konsep katup penyelamat

Walau demikian, konsep katup penyelamat sendiri memiliki beberapa kekurangan. Coser terlalu berorientasi untuk menyelamat struktur. Margareth Poloma (1999 : 105) menjelaskan bahwa Coser berkomitmen untuk menyatukan dua eksistensi perspektif yang berbeda, yaitu teori kaum fungsional struktural dan teori konflik. Sebagaimana juga yang dinyatakan oleh Coser (dalam Margareth Poloma. 1999 : 109-110) : lewat katup penyelamat itu permusuhan dihambat agar tidak berpaling melawan obyek aslinya… membendung ketegangan dalam diri individu, menciptakan kemungkinan tumbuhnya ledakan-ledakan destruktif. Padahal, struktur sosial yang bertahan adalah struktur yang baik dan benar. Konflik terjadi salah satunya jika struktur sosial mengalami kesalahan, konflik terjadi untuk memperbaiki struktur sosial, dengan cara menghancurkannya lalu membangun kembali struktur sosial yang ada sesuai konsensus dan kehendak peserta konflik.

Karena terlalu berorientasi untuk menyelamatkan struktur, di sini Coser akhirnya mengabaikan faktor-faktor lain dalam konflik sosial dan struktur, yaitu tercapainya keinginan dan kehendak peserta konflik. Suatu sistem yang salah tetap bertahan karena konflik akhirnya diredam oleh katup penyelamat. Konflik yang terjadi gagal menghancurkan struktur yang salah. Bagusnya, struktur yang baik tetap bertahan karena konflik diredam oleh katup penyelamat. Pertimbangannya di sini adalah, sejauh mana suatu struktur harus dipertahankan jika sebuah konflik sedang terjadi? Bagaimanapun struktur yang salah harus dihancurkan dan struktur yang baik harus dipertahankan. Katup penyelamat, memegang peran ‘cukup’ penting dalam mempertahankan atau ikut merobohkan suatu struktur atau sistem. Pada akhirnya, peserta konflik tidak merasa puas karena belum dapat menghancurkan struktur. Katup penyelamat sebenarnya tidak benar-benar dapat ‘menyelamatkan’.

Lembaga kemahasiswaan, katup penyelamat?

Selayaknya sebuahnya struktur, lembaga sosial juga memiliki sebuah struktur. Entah itu top-down ataupun bottom-up, LK di UKSW sudah terstruktur rapi karena pembagian unit-unit kerjanya. BPMF sebagai lembaga legislatif, SMF sebagai lembaga eksekutif. Di sini juga terlihat bahwa LK UKSW terstruktur melalui pembagian LK di aras universitas dan diaras fakultas. LK di sini, menurut penulis, hanya sebagai jembatan kepada pihak yang lebih tinggi di dalam struktur. Tetapi, pemegang kebijakan berada di tangan rektorat atau dekanat. Kekurangannya adalah, katup penyelamat bukan direncanakan atau ditujukan untuk menghasilkan perubahan struktur, maka kembali ke kritik di awal, masalah dasar tidak terpecahkan.

Walaupun LK di sini juga merupakan sebuah katup penyelamat, LK ‘hanya’ menyediakan sarana lewat mana mahasiswa dapat menyampaikan keluhan terhadap universitas. LK ‘hanya’ dapat membuat kegerahan yang berasal dari situasi konflik tanpa menghancurkan struktur ataupun sistem di universitas. Margareth Poloma (1999 : 109) menjelaskan bahwa katup penyelamat tidak memiliki wewenang untuk membuat suatu kebijakan. Dalam hal ini, LK berarti tidak memiliki wewenang untuk membuat suatu kebijakan di universitas. Katup penyelamat memiliki peran penting untuk mempertahankan struktur, tetapi sekali lagi, katup penyelamat tidak dapat benar-benar menyelesaikan konflik, ia hanya mengaturnya saja.

Beruntung konsep struktur LK disini berbeda dengan badan-badan kemahasiswaan di universitas lain. LK UKSW sejajar dengan senator diaras fakultas dan universitas. Perwakilan mahasiswa, dapat duduk dengan setara bersama dengan Dekan dan Rektor. LK disini dapat mempengaruhi kebijakan universitas dan fakultas. Karenanya, LK UKSW bukan lagi sebagai katup penyelamat, ia lebih dari itu. Ia benar-benar dapat menyelesaikan konflik dan mempertahankan struktur! Pertanyaannya sekarang, mampukah?

* STAF CETAK, DIVISI PUBLIKASI, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN LENTERA
MAHASISWA JURNALISTIK KOMUNIKASI, FISKOM UKSW 2013

[1] Gejala-gejala sosial yang dianggap sebagai penyakit. Dalam hal ini, konflik dianggap sebagai salah satu gejala sosial yang salah dan sakit, sesuatu yang harus dijauhi dan dihindari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s