Laporan Khusus

Mengurai Benang Kusut Pemilihan Ketua Angkatan..

go vote

Setelah musyawarah pemilihan ketua angkatan selesai, mahasiswa Fiskom 2014 mengira akan dilakukan proses lobi dan pemungutan suara. Ternyata tidak. Mahasiswa juga mengeluh dengan sistem pengerucutan calon ketua angkatan yang tidak jelas.

Peserta FOOT angkatan atas, mentor, panitia dan fungsionaris LK semuanya meninggalkan aula. Hanya mahasiswa 2014 saja yang tinggal, mereka sedang melakukan musyawarah untuk mene-ntukan siapa ketua angkatan mahasiswa 2014. Pemilihan tersebut dilaksanakan pada Minggu (16/11) lalu.

Pemilihan ketua angkatan tersebut merupakan agenda terakhir Senat Maha-siswa Fiskom dalam Fiskom Orientation and Organization Training (FOOT) yang dilaksanakan sejak Jumat (14/11). Kegiatan yang berlangsung dan mendapat bimbingan dari pihak Yonif 411 Salatiga tersebut diadakan dengan tujuan untuk mengembangkan keterampilan dasar mahasiswa sebagai seorang calon pemi-mpin masyarakat, dan menumbuhkan suasana kekeluargaan dikalangan mahasiswa Fiskom.

Pada hari pertama dan kedua, kegiatan FOOT diisi dengan materi-materi kepemimpinan. Kemudian pada hari terakhir ditutup dengan acara LK di mana dalam acara tersebut diisi dengan sosialisasi LMKM, LLKM, dan Pemilihan Ketua Ang-katan 2014 Fiskom.

Yusuf Sugiarto Wicaksono, Vincentius Hardian Andika Putra, Dimas Bagus Utomo, dan William Walela adalah 4 calon ketua angkatan mahasiswa Fiskom 2014. Setelah berorasi menyampaikan visi–misi, kemu-dian dilakukan sesi tanya jawab, keempat kandidat tersebut kemudian dipilih dengan cara musyawarah bersama yang diikuti oleh mahasiswa angkatan 2014.

Jangan Dibatasi waktu
Grace Ragalawa selaku pemimpin sidang (pimsid) I menjelaskan bahwa pada saat sidang tertutup, hanya peserta tetap yaitu angkatan 2014 yang tinggal bersama dengan pimsid dan ketua SMF beserta ketua BPMF sebagai konvokator. “Sidang tidak dibuka termin, karena ini merupakan musyawarah sehingga yang diharapkan terjadi adalah diskusi,” ujar Grace.
Grace juga menjelaskan bahwa awalnya musyawarah sempat pasif namun sesudah didorong oleh Pimsid, diskusi mulai berjalan lancar dengan beberapa peserta mulai aktif berpendapat. Pendapat-pendapat itu kemudian dicatat di papan yang sudah dibuat 4 kolom sesuai dengan jumlah calon ketua angkatan, dan di sana ditulis-kan kelebihan dan kekurangan mereka.

Yulian Dwi Swida Santosa, Mahasiswa Sosiologi 2014, mengaku bahwameka-nisme pemilihan Ketua Angkatan itu sendiri tidak menunjukan musyawarah yang baik karena dibatasi waktu. “Sebaiknya kalau memang saat itu tidak bisa dilakukan dengan baik, lebih baik diganti hari, jangan diselesaikan saat itu juga,” ujar Yulian.

Yovanca Natalia Pradipta Puteri, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, yang juga salah satu peserta musyawarah tersebut berpendapat bahwa sistem musyawarah itu sebenarnya adil. “Karena sekedar musyawarah, hanya saja, kemarin saya cari tahu kenapa itu musyawarah? Karena ada bata-san waktu, jadi ketiga–tiganya itu tidak bisa dilaksanakan. Jadi mau tidak mau kita har-us terima,” ujar Yovanca.

Berbeda dengan Yulian dan Yovanca, Winda Eunike Janet Lasi, Mahasiswa Hubungan Internasional 2014 menilai bahwa pemilihan Ketua Angkatan kemarin cukup lancar. “Karena kemarin kita tidak sampai ribut. Kita memberi pendapat juga lancar, semuanya berpendapat, kita tidak di tahan–tahan, kita diberi kebebasan memberi pendapat,” ujar Winda.

Yulian Dwi Swida Santosa, Mahasiswa Sosiologi 2014, mengaku bahwa mekanisme pemilihan Ketua Angkatan itu sendiri tidak menunjukan musyawarah yang baik karena dibatasi waktu. “Sebaiknya kalau memang saat itu tidak bisa dilakukan dengan baik, lebih baik diganti hari, jangan diselesaikan saat itu juga,” ujar Yulian.

Yovanca Natalia Pradipta Puteri, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, yang juga salah satu peserta musyawarah tersebut berpendapat bahwa sistem musyawarah itu sebenarnya adil. “Karena sekedar musyawarah, hanya saja, kemarin saya cari tahu kenapa itu musyawarah? Karena ada bata-san waktu, jadi ketiga–tiganya itu tidak bisa dilaksanakan. Jadi mau tidak mau kita harus terima,” ujar Yovanca.

Berbeda dengan Yulian dan Yovanca, Winda Eunike Janet Lasi, Mahasiswa Hubungan Internasional 2014 menilai bahwa pemilihan Ketua Angkatan kemarin cukup lancar. “Karena kemarin kita tidak sampai ribut. Kita memberi pendapat juga lancar, semuanya berpendapat, kita tidak di tahan–tahan, kita diberi kebebasan memberi pendapat,” ujar Winda.

Grace : Saya sudah konfirmasi
Grace mengungkapkan dirinya telah menginformasikan cara sidang pada hari itu. “Ada tiga cara sidang, seperti yang dijelaskan di KUKM pasal 62, yaitu musyawarah mencapai mufakat, lobi, dan pemungutan suara. Musyawarahlah yang pertama harus dilakukan. Bila musyawarah gagal, maka akan dilanjutkan ke sistem lobi, dan bila masih gagal lagi maka langkah akhir adalah pemungutan suara,” ujar Grace yang juga Ketua Bidang II Senat Mahasiswa Fiskom tersebut.
Banyak dari mahasiswa Fiskom angkatan 2014 yang mengira bahwa ketiga dari langkah tersebut haruslah dilakukan, seperti yang dikatakan oleh Yovanca diatas. Grace juga mengakui pada saat sidang, ada peserta yang bertanya kenapa tidak dilanjutkan ke pemungutan suara saja.

“Pemungutan suara adalah langkah terakhir yang dilakukan, pemungutan suara dinilai menjadi suatu kegagalan dari musyawarah dan lobi. Musyawarah itu digunakan agar kita dapat memilih dengan menyuarakan pendapat, dengan alasan yang jelas tidak asal angkat tangan saja. Dengan musyawarah juga mereka akan dianggap bertanggung jawab dengan pendapat mereka,” terang Grace lebih lagi.

Evelyne Dwinanda Putri, Ketua SMF membenarkan bahwa dia berada di dalam sidang tertutup pemilihan ketua angkatan Fiskom 2014. Dia dan ketua BPMF Anlia Yisca Kristiadi berada disana sebagai pengarah bagi pimpinan sidang.

Sependapat dengan Grace, Evelyne menjelaskan bahwa sebisa mungkin, hasil didapatkan dari musyawarah. Lobi dan pemungutan suara hanya dilakukan bila muyawarah tidak dapat menghasilkan suatu keputusan sama sekali. Sedangkan pada saat sidang pemilihan ketua angkatan, keputusan sudah dapat diambil dalam tahap musyawarah.

“Kemarin itu pimsid sudah mengkonfirmasi apakah dari kesimpulan itu benar calon tersebut yang akan diangkat, dan semua peserta setuju dan mau mengakui kelebihan dari calon tersebut. Bila ada yang menentang pada waktu itu, diskusi bisa dilakukan lagi untuk men-entukan ketua terpilihnya,” terang Evelyne.

Dari Empat, Jadi Dua
Selain itu, beberapa mahasiswa juga bingung dengan mekanisme pengerucutan calon ketua angkatan. Kepada Lentera, beberapa mahasiswa mengaku ada calon ketua angkatan lain yang disingkirkan tanpa alasan yang jelas.

Ditanyai mengenai hal tersebut Grace menjelaskan bahwa karena pembicaraan lebih condong ke dua peserta tertentu, maka akhirnya konvokator memfokuskan kepada kedua calon tersebut.
“Seperti yang sudah dituliskan di KUKM bahwa bila ada lebih dari dua calon dan pembicaraan mengkerucut ke dua calon, maka pemilihan difokuskan pada dua calon saja. Maka dari itu dengan persetujuan bersama dari para peserta, kami melepas-kan calon yang lain,” ujar Grace.
Padahal pengerucutan calon ketua angkatan tersebut, berdasarkan KUKM pasal 62 ayat 4, berlaku pada saat pemungutan suara, bukan musyawarah.

Sesudah melepaskan kedua calon lain, maka sidang diteruskan dengan diskusi mengenai dua calon yang difokuskan. Pembicaraan tersebut masih dicatat di papan tulis, dan ketika waktu tersisa sekitar 15 menit, maka Grace menjelaskan bahwa catatan-catatatan tersebut menjadi asumsi dasar dari argumen para peserta dalam memilih para calon.

“Dilihat dari rangkuman itu kita dapat mengetahui bahwa dominasi pembicaraan ke arah calon tertentu, maka akhirnya diputuskan bersama bahwa calon itulah yang menjadi ketua angkatan,” ujar Grace.

“Saat musyawarah, saya melihat bahwa diskusi condong ke 2 calon, maka sesudah beberapa saat saya meminta persetujuan bahwa diskusi difokuskan pada dua calon saja. Saat seluruh peserta menyetujui pengkerucutan calon,” jelas Evelyne.

Sesudah itu sidang kembali dilanjutkan dengan diskusi mengenai dua calon terpilih. Evelyne juga melihat bahwa masing-masing kubu masih alot mempertahankan calonnya masing-masing, mereka mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing calon hanya tinggal melihat siapa yang lebih cocok dengan mereka. Maka pada akhirnya disimpulkan bahwa mereka menerima satu calon tersebut menjadi ketua mereka.

“Kami juga bertanya terlebih dahulu apakah benar dari kesimpulan diskusi maka mereka memilih calon tersebut. Karena tidak ada penolakan dan semua setuju, maka pimpinan sidang memutuskan bahwa calon tersebutlah yang menjadi ketua angkatan,” ujar Evelyn.

CHIKITTA CARNELIAN, BILLIAM SIMON ARTADI, GALIH AGUS & EVA SEPTI DWI ASTUTI
ED. BIMA SATRIA PUTRA & RIDWAN NMARTIEN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s