Forum

Kanada dan Multikulturalisme

oleh Chikitta Carnelian

Dunia kini menghadapi tantangan keberagaman yang lebih kompleks. Keberagaman (Diversity) telah berubah bentuk di banyak negara, terutama bagi negara urban yang kini cenderung menjadi keberagaman super (superdiversity). 20 tahun terakhir, banyak manusia yang bermigrasi untuk penghidupan yang lebih layak. Banyak negara semakin terbuka bagi para pendatang, yang pada akhirnya membawa kebudayaan mereka pula. Keberagaman super ini menjadi suatu kompleksitas dari keberagaman yang mengandung banyak variabel. Variabel tersebut misalnya adalah negara asal, etnis, bahasa, tradisi agama, identitas lokal, nilai budaya, saluran migrasi, gender dan status hukum.

Kompleksitas dalam keberagaman ini menimbulkan permasalahan. Tak dipungkiri masalah akan terjadi di antara penduduk asli dan pendatang. Di wilayah yang jarang mendapatkan imigran, umumnya masalah terjadi karena perilaku dan nilai-nilai yang berbeda antara penduduk asli dengan pendatang. Sedangkan di wilayah urban dengan banyak imigran, masalah menjadi lebih sulit karena timbulnya permasalahan antar sub-kelompok pendatang, misalnya konflik kelompok Sunni dan Syiah yang tinggal di New York, AS. Selain karena kompleksitas variabel, sulitnya adaptasi akibat perbedaan nilai dan prilaku menjadi penyebab masalah.

Kanada adalah salah satu negara yang terkena dampak keberagaman super. Sejak abad ke 15, Kanada hidup sebagai negara multikulturalisme dengan berdampingannya koloni Inggris dan Perancis yang menimbulkan adanya bagian dari negara Kanada berbahasa Inggris dan wilayah Quebec yang berbahasa Perancis. Hingga kini keadaan multikultur macam ini masih berlanjut. Pada 2011 saja, 20% warga Kanada merupakan penduduk kelahiran asing (Foreign Born). Terdapat 200 etnis asing dan 13 diantaranya mencapai angka 1 juta penduduk. 19% penduduk mengaku bahwa mereka anggota grup minoritas (visible minority group) yang 30%-nya lahir di Kanada dan sisanya kelahiran asing. Kita bayangkan sendiri, betapa banyak imigran ataupun keturunan asing yang ada di Kanada.

Keberagaman ini membawa 200 bahasa asing ke Kanada dan dilaporkan 80% dari warganya mampu berbahasa lebih dari dua bahasa utama, Inggris dan Perancis. Seluruh keadaan ini menimbulkan masalah bagi warga Kanada sendiri. Mereka merasa budaya dari negerinya berangsur mulai menurun. dalam kurun 8 tahun terakhir, jumlah warga yang berbicara bahasa Inggris dan Perancis terus mengalami penurunan. Warga Quebec, merasa kebudayaan mereka terancam dengan tingginya imigran tak berbahasa Perancis (non-Francophone) yang menetap di Quebec. Mereka juga menganggap gagalnya Referendum Quebec pada 1980 karena imigran-imigran yang tidak ingin Quebec merdeka dari Kanada. Masuknya ideologi asing bawaan pendatang juga menimbulkan masalah ke dalam ideologi Kanada. Seperti saat dinaikannya Piagam Sekulerisme (Charter of Seculerism) yang mengharuskan penurunan segala lambang keagamaan dari tempat umum. Piagam ini tidak diloloskan oleh pemerintah Kanada, karena keengganan mereka untuk menurunkan Salib di gedung parlemen yang merupakan salah satu simbol penetapan yang diberikan oleh pendiri Kanada.

Lalu, apakah sebaiknya jalur migrasi ditutup saja oleh negara urban seperti Kanada? Tentu tidak. Bukan karena mereka tidak mau, namun karena mereka tidak bisa. Banyak negara di dunia kini telah terbuka sesuai dengan prinsip-prinsip liberalisme. Mau tidak mau mereka akan terbuka dengan pendatang, karena secara ekonomi pendatang dapat menggerakkan ekonomi di dalam negeri (seperti yang terjadi dengan para pendatang Tionghoa).

Untuk menghindari timbulnya diskriminasi, beberapa negara memberikan berbagai penghargaan yang berhubungan dengan pendukungan terhadap keberagaman dalam berbagai variabel. Hukum-hukum yang memberi-kan dukungan terhadap kaum minoritas agar mereka tidak merasa ditekan, juga dibuat. Bahkan terdapat beberapa progam seperi Norfolk Constabulary yang diterapkan di Norfolk, Inggris. Inggris merupakan salah satu negara dengan angka imigran tertinggi. Pemerintah Norfolk percaya bahwa rasa saling memiliki merupakan masalah krusial yang harus ada. Ketika pendatang merasa mereka diterima dan memiliki lingkungan hidup mereka, maka mereka akan mampu untuk bekerja sama dengan warga setenpat untuk membangun wilayah tersebut. Sehingga di Norfolk Constabulary, polisi beperan untuk memberi arahan kepada para pendatang, bahkan membantu mereka dalam usaha beradap-tasi. Sehingga pendatang di Norfolk tidak takut dengan keberadaan pihak berwenang, malah menjalani proses adaptasi dengan bantuan dari mereka. Di Quebec juga diadakan sekolah gratis bagi pendatang untuk belajar bahasa dan kebudayaan Perancis-Kanada. Dua hal ini adalah aksi nyata dari pemerintah untuk mempermudah adaptasi dari para pendatang sehingga mempercepat timbulnya rasa saling memiliki di antara warga asli dan pendatang dan menimbulkan lingkungan bermasyarakat yang cukup harmonis.

Banyak hal sekaligus memiliki sisi yang baik dan buruk. Demikian juga dengan keberagaman super. Namun, keberagaman super bukanlah suatu hal yang dapat kita hentikan, karena ini telah terjadi seiring perubahan zaman dan akan terus berlanjut. Sehingga negara-negara akan membuat kebijakan-kebijakan untuk memberikan kenyamanan bagi pendatang untuk beradaptasi, namun tetap berusaha menyelamatkan eksistensi budaya asli negara sendiri. Mungkin akan lebih baik bila seluruh variabel dari keberagaman super dapat dikenali, sehingga dapat dibuat kebijakan-kebijakan yang tepat bagi perlindungan tiap variabel. Kita lihat saja apa yang akan terjadi di dunia ini dalam 20 tahun ke depan, bagaimana percampuran budaya di dalam tiap negara dan dinamika yang terjadi di dalamnya.

* PEMIMPIN REDAKSI LENTERA

MAHASISWA HUBUNGAN INTERNASIONAL FISKOM UKSW

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s