Kampus

Megaproyek Blotongan, Habiskan 32 Milyar Rupiah

Dua orang pekerja bangunan sedang membawa material saat pembangunan kampus FTI UKSW di Blotongan (Foto : Alexio Cesar Nessi)

Dua orang pekerja bangunan sedang membawa material saat pembangunan kampus FTI UKSW di Blotongan (Foto : Alexio Cesar Nessi)

Terletak di atas tanah yang telah dibeli dari pemilik Grand Wahid Hotel Salatiga, Sugiharto Husodo, berdasarkan data yang Lentera dapatkan, pembangunan kampus baru ini dianggar-kan akan menghabiskan biaya sebesar 32 milyar rupiah.

Pelelangan pembangunan kampus baru ini kemudian dimenangkan oleh kontraktor yang berkantor di Semarang, PT. Nugraha Karya Grahata. PT. Nugraha Karya Grahata dipilih dari empat perusahan konstruksi nasional lain yang mengajukan diri mulai dari pelelangan awal hingga klarifikasi penawaran yang diberikan. Empat perusahan lain tersebut adalah PT. Adhi Karya, PT. Tetramega Satria, PT. Purikencana Mulyapersada, dan PT. Nusa Raya Citra. Pengumuman pemenang lelang dilakukan pada 19 Agustus 2013 lalu.

IMG_3045

Tanda peringatan di sekitar area pembangunan (Foto : Alexio Cesar Nessi).

 

Rencananya, pembangunan kampus baru tersebut akan digunakan oleh Fakultas Teknologi dan Informatika (FTI). Bangunan tersebut terdiri dari 6 lantai yang didalamnya terdapat dekanat, tata usaha, ruang dosen, teater terbuka, laboratorium dan parkir mahasiswa. Tahap selanjutnya akan dibangun bagian sayap yang juga akan diperuntukkan untuk ruang dosen dan laboratorium FTI.

Karenanya, sejak 2010 FTI UKSW telah melakukan usaha penghematan terhadap penggunaan anggaran di fakultas. Efisiensi yang sudah dilakukan ada pada tahun anggaran 2010 sampai dengan tahun anggaran 2012. Selain efisiensi FTI UKSW juga masih memiliki sisa anggaran pembangunan sayap kiri dan kanan gedung lama yang tidak jadi direalisasikan.

IMG_2928

Kerangka salah satu bangunan (Foto : Alexio Cesar Nessi)

 

Dari 2010 sampai 2011 FTI UKSW berhasil menyisihkan dana sebesar 4,191 Miliar Rupiah, sedang pada tahun 2012 sebesar 4,155 Miliar Rupiah. Bila ditambah dengan sisa dana pembangunan gedung lama sebesar 8 Miliar Rupiah, maka sampai tahun 2012 FTI UKSW telah mempersiapan anggaran sebesar 16,3 Miliar Rupiah.

Rencana efisiensi pada tahun 2013 adalah sebesar 2 Miliar rupiah, sehingga pada akhir tahun anggaran 2013 lalu FTI UKSW telah memiliki anggaran pembang-unan gedung sebesar 18,3 Miliar Rupiah. Hingga berita ini diteritkan, Lentera belum mendapatkan informasi mengenai sumber dana sisa anggaran pembangunan ini.

Sementara itu Arief Sardjiarto, Pembantu Rektor III Bidang Kemaha-siswaan dalam Forum Diskusi Mahasiswa Universitas (FDMU) pada Kamis (22/01) lalu menegaskan bahwa dengan adanya pembangunan kampus baru ini, bukan berarti kampus yang lama akan diabaikan.

Proses pengangkutan pasir ke dalam truk (Foto : Alexio Cesar Nessi)

Proses pengangkutan pasir ke dalam truk (Foto : Alexio Cesar Nessi)

“Kampus di Diponegoro sudah terlalu padat, sehingga dari pada kita membangun bertingkat-tingkat di sini, lebih baik kita membangun di tempat baru yang lebih luas,” ujarnya.

Rektor UKSW John A. Titaley, berharap bahwa proses pembangunan ini bisa berjalan dengan lancar.

“Rencananya pada 30 November 2015 gedung ini akan diserahkan kontraktor ke universitas. Saya juga menyampaikan terimakasih atas dukungan warga di sini yang telah memberikan dukungannya,” ujar John A. Titaley seperti dilansir dari uksw.edu.

BIMA SATRIA PUTRA
PENY, ALEXIO CESAR NESSI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s