Opini

Pemimpin Hedonis Satya Wacana

oleh Jessica M. Tobing *

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata hedonisme? Saya berani bertaruh, hampir semua dari anda akan memikirkan tentang konsumsi nafsu duniawi secara berlebihan, hanya untuk mencari kesenangan. Memang benar bahwasannya hedonisme adalah mencari kesenangan, tapi pernah kah kita memikirkan sudut pandang lain dari hedonisme?

Hedonisme pertama kali dikemukakan oleh seorang filsuf dari Yunani yaitu Aristippos (433-335 S.M) yang mengatakan bahwa hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Itu terbukti karena sudah sejak kecil manusia merasa tertarik akan kesenangan dan bila telah tercapai ia tidak akan mencari sesuatu yang lain lagi.

Hedonisme saya pandang sebagai suatu karakter yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin Satya Wacana. Mengapa? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri, karakter berarti sifat-sifat kejiwaan. Jika karakter hedonis kita gabung berarti akan memiliki arti sifat-sifat kejiwaan yang cenderung akan mencari kesenangan.

Tahu arti Satya Wacana? Satya Wacana berarti setia pada firman Tuhan. Tentu firman Tuhan mengajarkan tentang kasih dan pelayanan. Kita ambil bagian saja yang terkenal itu.

Pada dasarnya mengasihi semua orang itu tidak gampang. Kita lihat saja, seberapa sering kita memperhatikan orang gila yang membawa kertas itu? Sekali waktu, saya berjalan menuju Kemiri melalui jalan Diponegoro. Saya melihat ada seorang tukang ojek yang memberikan makanan kepada orang gila tersebut. Kapan sih kita terpikirkan oleh kita akan hal itu? Atau mungkin mengasihi rival kita sesama LK? Kasih itu sabar, kasih itu rendah hati, bukan? Sudah seharusnya kita sebagai pelayan LK mempunyai karakter ini.

Yang kedua adalah pelayanan. Berapa dari kita yang memang masuk kedalam Lembaga Kemahasiswaan (LK) yang benar-benar punya rasa untuk melayani mahasiswa kita? Pada awal periode saya bertanya kepada rekan-rekan LK Fiskom, buat apa sih masuk LK? Dan jawaban mereka betul-betul mengagetkan saya, entah itu bohong atau jujur, mereka berkata bahwa mereka perihatin dengan keadaan LK Fiskom pada waktu itu. Mereka hadir karena mereka ingin melayani Tuhan dengan cara melayani teman-teman Fiskom melalui LK.

Lalu hubungannya antara hedonis dan satya wacana? Coba kita renungkan sejenak jika firman Tuhan lah, kasih dan pelayanan, menjadi bagian dari kesenangan yang dalam diri kita yang selalu kita cari. Bayangkan jika sifat hedon dalam hidup kita tidak terhadap nafsu duniawi, akan tetapi hedon terhadap firman Tuhan. Bahwa kita senantiasa mengasihi sesama kita dan juga melayani.

Bayangkan saja kalau kita benar-benar haus akan hal tersebut. Ketika semua pekerjaan kita di LK memang wujud bentuk kasih kita terhadap UKSW dan pelayanan untuk Tuhan dan teman-teman kita, dan kita terus bekerja hingga mencapai titik kepuasan kita.

Kita terus haus akan kasih dan pelayanan dan tidak akan berhenti berkerja hingga kita mencapai. Ketika segala sesuatu benar-benar kita dasari dengan kasih dan pelayanan, percaya lah, integritas suatu organisasi akan terbentuk secara sendirinya. Karenanya, hedon lah terhadap kasih dan pelayanan.

* KABID III INTERNAL-EKSTERNAL SMF FISKOM UKSW

MAHASISWI ILMU KOMUNIKASI FISKOM UKSW

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s