Salatiga

Dilema Si Abidin

Angkot Salatiga yang berhenti di depan kampus UKSW (Foto : Andri Setyawan)

Angkot Salatiga yang berhenti di depan kampus UKSW (Foto : Andri Setyawan)

Nur Abidin sudah menjadi supir angkot Salatiga sejak 10 tahun yang lalu. Ia senang memegang rute angkot jalur dua. “Karena penumpangnya yang beraneka ragam dan tidak monoton. Banyak pendatang dari luar,” seperti diakui Abidin.

Pada 20 Januari 2015 yang lalu, Abidin menerima surat edaran walikota Salatiga, Yuliyanto, mengenai tarif angkot. Ketika harga premium mencapai Rp 8.500 per liter, tarif angkot pada saat itu adalah Rp 3.000 untuk umum, Rp 2.000 untuk mahasiswa dan pelajar. Kemudian, harga premium turun menjadi Rp 7.900 per liter, dan turun lagi menjadi Rp 6.700 per liter.

Turunnya harga premium mempengaruhi tarif angkot di Salatiga menjadi Rp 2.500 untuk umum, Rp 2.000 untuk mahasiswa dan Rp 1.500 untuk pelajar. Tarif tersebut berlaku dari Senin hingga Sabtu, kecuali Minggu dan hari libur. Pada hari libur, tarif angkot untuk mahasiswa dan pelajar disamakan dengan umum.

Jika anda pengguna angkot di Salatiga, sesekali anda akan menemukan tarif angkot yang tidak sesuai dengan peraturan pemkot. Abidin memang mengaku lebih senang dengan tarif yang lama, yaitu sebelum harga premium turun menjadi Rp 6.700 per liter. “Saya merasa lebih disejahterakan. Terutama supir angkot yang pendapatannya pas-pasan seperti saya,” ujar Abidin tersenyum. Walau demikian, Abidin tetap menggunakan tarif yang sesuai dengan kebijakan.

Wajar saja jika Abidin senang dengan tarif lama. Setiap harinya, Abidin harus mencapai target Rp 95.000 untuk disetorkan kepada perusahaan jasa angkutan umum. Sementara pendapatan sehari tidak menentu.

Berbeda dengan Abidin, Vincentius Hardian, mahasiwa UKSW yang nge-kost dan terkadang harus pergi menggunakan angkot, lebih senang tarif yang sesuai dengan kebijakan. “Apabila BBM turun, tarif angkot pun seharusnya turun. Saya setuju dengan kebijakan walikota Salatiga,” ujar Vincent.

HANNY YUNITA. PENY, BIMA SATRIA PUTRA

Iklan

One thought on “Dilema Si Abidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s