Salatiga

Besok Lilin Mati?

Doa bareng berserta penyalaan lilin oleh AMP3R (Foto : Bima Satria Putra).

Doa bareng berserta penyalaan lilin oleh AMP3R (Foto : Bima Satria Putra).

“Ada kurang lebih 400 pedagang di pasar ini (red – Pasar Rejosari). Kalau satu pedagang punya empat anak, maka kita sudah advokasi 1.600 orang yang menggantungkan hidupnya pada pasar ini,” ujar Pak Roso, pedagang Pasar Rejosari, dengan tegas meyakinkan mahasiswa-mahasiswa yang datang dalam diskusi.

Malam itu, Selasa (21/04), ditemani gorengan dan singkong, teh dan kopi, Aliansi Masyarakat Peduli Pedagang Pasar Rejosari (AMP3R) Salatiga, mengadakan diskusi dan doa bersama elemen masyarakat se-kota Salatiga.

Tidak lupa kepulan asap rokok menyesakkan mata memenuhi sebuah kios kecil yang tak terpakai. Mereka menyebutnya, ‘Posko Kewaspadaan’. Waspada, karena besok (hari ini), tersiar kabar ada pengosongan paksa pedagang di Pasar Rejosari Salatiga, yang sering disebut pula Pasar Sapi.

Posko kewaspadaan jadi tempat diskusi. Gagasan-gagasan terlempar. Beberapa mahasiswa terlihat aktif menyusun rencana aksi besok sebagai upaya mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Diskusi tersebut diikuti beberapa pihak, seperti BEM STIE AMA Salatiga, BEM IAIN Salatiga, beberapa pegiat pers mahasiswa di UKSW, SPP Qaryah Thayyibah, FPPI Salatiga dan LKBHI IAIN Salatiga. Tidak lupa para pedagang tentunya .

“Besar kemungkinannya besok terjadi pengosongan paksa, karena surat peringatan ketiga sudah diterima pedagang pada sepuluh april lalu,” tambah Mujab. Mujab adalah anggota SPP Qaryah Thayyibah. Sudah mengikuti isu ini sejak perkembangannya pada 2009.

Tri Tuntutan Rakyat

“Sebenarnya ada tiga hal yang menjadi keberatan pedagang di sini, terkait pelaksanaan modernisasi pasar,” ujar Panggi Gus, seorang anggota AMP3R.

Ketigal hal tersebut, seperti dijelaskan Panggi Gus adalah mahalnya harga sewa kios, pembatasan terhadap barang dagangan lokal, serta matinya UMKM di sekitar Pasar Rejosari.

“Persaingannya akan semakin ketat. Siapa yang punya modal banyak, dia yang berkuasa. Karena konsep dari investor itu, pasarnya model bertingkat. Kami juga takutkan terjadinya monopoli pasar,” tambah Panggi Gus.

Memang, pemerintah daerah telah menyerahkan revitalisasi Pasar Rejosari pada pihak swasta, yakni PT Patra Berkah Itqoni (PBI) dari Malang, Jawa Timur. Rencananya investor akan menanamkan investasi sebesar 59 milyar rupiah. Biaya pengembangan yang besar tersebut kemudian meningkatkan harga sewa los dan kios. Agar dapat menempati los dan kios di Pasar Rejosari, Investor mematok harga sebesar 9 juta rupiah per meter untuk los, sedang kios dipatok 13 juta rupiah per meter.

“Dari situ sudah bisa kita lihat kalau pengembangan pasar tidak berpihak pada rakyat kecil,” timpal Mujab.

Mujab juga menyinggung mengenai modernisasi pasar-pasar di Salatiga yang kemudian sepi, seperti Pasar Raya dan Pasar Jetis. “Keledai aja tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali. Kita seharusnya belajarnya,” tambahnya.

Lilin yang Mati

Sebelum diskusi dan doa bersama, AMP3R dan Paguyuban Pasar Rejosari mengelilingi Pasar Rejosari sambil menghidupkan lilin. Supaya hemat, satu lilin dibagi dua. Mereka yang ikut tidak ramai, tidak sampai lima puluh orang. Tetapi pengendara yang lewat menolehkan kepalanya terhadap rombongan yang membawa lilin tersebut.

“Ini bentuk simbolis. Api lilin ini seperti semangat perjuangan kita,” ujar Bonafisius Nadya, kuasa hukum yang kerap melakukan pendampingan terhadap pedagang.

“Makanya, jangan sampai mati,” timpal Ibu Roso.

Rombongan berjalan perlahan. Tangan kanan memegang lilin, sementara tangan kiri melindungi apinya. Angin sedikit bersemangat, semangat mematikan api lilin sepertinya. Sehingga beberapa lilin mati karena kencangnya angin.

Hari ini, pengosongan paksa pedagang pasar Rejosari ternyata tidak benar-benar terjadi. Pengosongan diundur hingga Jumat, 24 April 2015. Apakah lusa, lilin akan mati?

BIMA SATRIA PUTRA, PENY. ALEXIO ALBERTO CESAR

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s