Sastra

Bahasa Inggris dan Mereka yang Sok-Sok’an!

diskusiMuhammad Fahri Darmawan :

Saya teringat ketika perjalanan pulang saat menunggu pesawat dari bandara di Balikpapan. Ada perbincangan seru dan berkualitas antara saya dengan dua orang dosen dari salah satu universitas negeri yang lumayan mentereng yang ada di Malang dan sempat menjadi salah satu target saya ketika saya masih aktif menjadi debater di jaman SMA. Beliau-beliau ini adalah dosen Sastra Inggris dan Sastra Indonesia.

Saat itu kami membahas tentang bagaimana kemampuan seseorang dalam berbahasa, dan mereka memiliki kesimpulan yang sama. Kemampuan seorang individu dalam berbahasa itu tergantung bagaimana keluarganya membentuknya. Karena apa yang dibiasakan oleh keluarganya akan terus terbawa hitidak dewasa. Bukannya tidak dapat diubah, namun pola pikir dari individu tersebut sudah dapat ditebak dan bersikap negatif jika ada individu lain yang menggunakan bahasa asing.

“Ambil contoh begini, ketika seorang anak dibiasakan untuk mempelajari Bahasa Inggris sejak kecil, maka dia akan menganggap kata-kata dalam Bahasa Inggris itu hanyalah kata-kata biasa yang bukan sesuatu yang wah. Dan cenderung sulit menemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang tepat,” ujar Dosen Sastra Inggris.

Lalu Dosen Sastra Indonesia menambahkan, “Sebaliknya, anak yang tidak dibiasakan menggunakan Bahasa Inggris sejak kecil akan menganggap penggunaan Bahasa Inggris yang digunakan oleh orang lain hanyalah suatu kesombongan dan sekedar ‘sok-sok’an saja.”

“Lalu apakah menggunakan istilah – istilah (asing/Inggris) tersebut salah? Karena muncul anggapan bahwa penggunaan istilah asing itu mencerminkan ketidakbanggaannya dalam menggunakan Bahasa Indonesia?” tanya saya bersmemangat.

“Dalam pendapat saya, tidak ada salahnya menggunakan istilah asing. Selama penggunaannya tepat dan si pembicara mengerti apa yang dikatakan. Bukan sesuatu yang aneh ataupun terlalu kebarat-baratan. Dibanding harus canggung dan tidak dapat menemukan padanan kata yang tepat, mengapa tidak gunakan pilihan kata yang mmemang diri anda tahu dan orang lain tahu juga?” ujar Dosen Sastra Inggris.

“Sastra Indonesia juga ikut berkembang, tidak saklek begitu saja. Banyak kata-kata serapan yang diambil dari istilah asing yang populer, bukan bertujuan untuk terdengar keren, pintar, atau mentereng. Hanya sekedar mempermudah. Buat apa malu? Tidak ada yang salah. Kemampuan linguistik tiap orang berbeda dan kosakata yang dimiliki orang juga bervariasi. Jadi kemajemukan dalam berbahasa itu membuat komunikasi menjadi lebih berwarna,” timpal si Dosen Sastra Indonesia.

Aaahhh… Satu lagi ilmu yang kudapat secara cuma cuma dari dua orang dosen yang menurutku cerdas. Dan saya setuju dengan pendapat mereka berdua. Apa pendapatmu terhadap fenomena ini?

Olla Abdillah Agam :

Menurut saya, berbicara itu harus menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Misalnya seseorang menggunakan Bahasa Jawa dengan seorang Padang yang tidak mengerti Bahasa Jawa, tentu tidak akan nyambung.

Arista Ayu Nanda :

Kalau menurut saya, selama penggunaanya memang tepat, tidak akan menjadi masalah. Pandangan “sok” jika menggunakan bahasa asing menurutku yang perlu dirubah, sebenarnya komentar sinis itu hanya menunjukkan keminderan dari bangsa kita. Belajar bahasa asing seperti saat ini sangat perlu, karena jika tidak mengerti akan tersisihkan, seperti awal tadi, kita harus mengerti situasi dan kondisi jika tidak ingin menuai komentar negatif. Jangan seperti Vicky Prasetyo!

Galih Agus Saputra :

Saya setuju sekali dengan pendapat dua dosen yang kamu temui itu Fahri. Dari yang mereka ucapkan, saya malah jadi teringat dengan ucapan salah seorang pembicara di lokakarya Kompas itu : seorang winner pasti menyerap segala hal yang berguna, sedangkan seorang looser, adalah sikap orang yang belum apa-apa sudah mencari kesalahan. Untuk linguistik menurutku juga begitu, lebih baik jangan terburu-buru mengklaim orang ‘dengan bahasa asing” itu sok, tapi lebih baik dipahami dahulu.

Arya Adikristya Nonoputra :

Pembentuk karakter berbahasa suatu individu tidak cuma keluarga. Ada banyak faktor lain menurut saya. Seperti saya, keluarga membiasakan bahasa Jawa Tengah ngoko dengan sedikit Jawa Suroboyo-an, meskipun tidak di daerah Jawa Timur yang kental dengan Jawa Suroboyo-an. Toh meskipun keluarga juga tidak membiasakan berbahasa Inggris sejak kecil, tidak ada pandangan sombong atau sok soal orang yang berbahasa Inggris.

Bahasa itu bebas. Lebih bebas ketimbang hati wanita. Ehehe. Dan menggunakan istilah asing dalam berbahasa Indonesia juga tidak ada salahnya. Setuju, yang penting pesan yang dimaksud tersampaikan. Tapi konon, bahasa tidak cukup dilihat dari satu sudut saja. Sudut lainnya, ada sejarah. Sebelum EYD, Indonesia punya ejaan Ophuijsen (bahasa Melayu menurut lidah atau tuturan yang dimengerti Londo) dan ejaan Suwandi (ejaan Republik). Beranjak 1972, terbentuk EYD (hasil kerjasama Indonesia-Malaysia atau yang disebut panitia Malindo). Perbedaan antara tiga ejaan ini kentara sekali. Pertama, ejaan Ophuijsen terbentuk pas Indonesia masih bernama Hindia Belanda (di bawah kuasa negeri Oranye), jadi wajar saja kalau bahasa pada masa itu dipolitisasi tangan besi Londo. Tak lain gunanya agar antara Londo dengan orang pribumi bisa komunikasi. Sedangkan ejaan Suwandi, bisa jadi ditidak ejaan paling nasionalis waktu itu, karena lahirnya tidak begitu jauh dari tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia. Lupa tahun berapa tepatnya. Masuk ke EYD. Malaysia yang sangat dekat dengan Inggris dan negara Barat lainnya akhirnya menjalin kerjasama dengan Indonesia yang notabene sudah masuk rezimnya The Smilling General atau Soeharto. Mungkin semua juga tahu kalau Soekarno sama Soeharto jelas-jelas berseberangan. Kalau dulu Soekarno getol teriak-teriak macam “Ganyang Malaysia!” dan “Go to hell with your aid!”, Soeharto malahan mungkin cuma senyum dan membentuk panitia Malindo bersama negeri Jiran pada 1967 (mungkin, lupa tepatnya tahun berapa), dalam rangka merumuskan EYD.

Pasca turunnya Soekarno, semakin terbukanya Indonesia pada impor yang berbau Barat. Tak lain karena kedekatan Soeharto dengan Barat. Barangkali–ini masih mungkin–Bahasa Indonesia versi EYD pun akhirnya banyak terpengaruh sama Bahasa Inggris, yang konon bahasa salah satu atau dua negara digdaya sejagat raya. Padahal Bahasa Indonesia sendiri, setahuku, banyak diserap dari bahasa Jawa, Arab, Belanda, dan Perancis. Lantas kenapa sekarang banyak juga istilah dalam Inggris yang tersisip dalam konteks berbahasa Indonesia? Pertanyaan macam ini bisa dijawab sendiri.

Jika alasannya canggung dan tidak menemukan padanan kata yang tepat, bisa jadi–baru barangkali–karena kita (sengaja) tidak dibiasakan menemukan padanan kata yang tepat. Mungkin, kita dibiasakan pragmatis (sejak lahir).

Sesuatu dianggapp salah ya ketika mereka yang menganggap itu salah. Mengapa menganggap salah? Karena penempatan sudut pandang saja. Sekarang pertanyaannya lagi, sudut pandang seperti apa yang tengah diambil?

Semua kembali lagi pada diri sendiri. Mau mengutamakan kesepahaman makna meskipun bahasanya campur aduk sesuai selera, atau mengutamakan bahasa yang digunakan. Dan masih banyak “atau” yang lain kalau mau dicari lagi.

Sekali lagi, bahasa itu bebas. Lebih bebas ketimbang hati wanita.

Bima Satria Putra :

Biasanya Arya tidak seperti ini. Arya salah satu yang gigih menggunakan Bahasa Indonesia, sebisa-bisanya. Kecuali tidak ada pilihan lain. Saya salah satu yang jijik dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang campur aduk. Misal : Dia itu orangnya ‘open minded’. Alternatifnya Apa? Pertama, ganti kata-kata Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia. Misalnya : Dia itu orangnya ‘berpikiran terbuka’. Kedua, gunakan tutup kurung dan sampaikan kedua bahasa. Misalnya : Dia itu orangnya berpikiran terbuka (open minded). Ketiga, sekalian saja menggunakan Bahasa Inggris seutuhnya. Misalnya : He was open-minded person. Menurutmu bagaimana Fahri? Bagaimana dengan penggunaan kata ‘triler sejarah’? Ada yang salah dengan itu? Apakah menurutmu ‘triler’ tidak dapat dipadankan dengan ‘thriller?’

Arya Adikristya Nonoputra :

Berarti sedang tidak biasa, Bima. Lagi pula sudah aku jelaskan secara tersirat sebelumnya di paragraf keempat. Tapi secara keseluruhan saya setuju dengan pendapatmu di atas.

Muhammad Fahri Darmawan :

Bukannya tidak dapat, tapi tidak terbiasa. karena ketika saya di Kine Club, jenis film (genre) ditulis apa adanya. sama seperti jenis musik (genre), ditulis apa adanya. Contohnya ‘electronic dance’, genre ini populer disingkat EDM, dan saya yakin akan canggung jika ditranslasikan menjadi ‘Musik Dansa Elektronik’. Contoh lain adalah musik Rock, jika ditranslasikan dengan Musik Batu/Keras maka jenis (genre) musik Keras lainnya bagaimana? Rock, Hardcore, Deathcore. Semuanya musik keras. Tapi berbeda.

Tidak nyaman jikalau Hardcore ditranslasikan menjadi Inti Keras, lalu Deathcore menjadi Inti Mati bukan?

Kembali lagi Bima, ada yang dibiasakan dengan berbahasa yang baik dan ada yang tidak. Ada yang mempelajari dengan seksama, ada juga yang tidak.

Kalau saya, mmemang dibiasakan dan dididik untuk harus, wajib, dan bisa menguasai Bahasa Inggris sejak saya di taman kanak-kanak. Jadi kenapa saya terdidik dengan kosakata Bahasa Inggris, kosakata Bahasa Indonesia saya dapatkan juga di rumah, namun saya mendapatkannya lebih banyak di sekolah. Walaupun penggunaan maupun cara komunikasi dalam Bahasa Inggris saya bukan yang sangat formal, namun setidaknya saya mengerti dalam penyampaian dan lawan bicara saya selama ini juga ikut mengerti.

Bima Satria Putra :

Kalau begitu, kita sepakati saja, apa yang perlu ditranslasikan dan apa yang tidak?

Pertama, adalah istilah yang merujuk kepada nama produk, nama tempat dan nama orang. Misalkan sistem operasi ‘windows’ tidak perlu ditranslasikan sebagai sistem operasi ‘jendela’. Atau seseorang bernama ‘Jack Hammer’ tidak perlu diganti menjadi ‘Jack Gada’.

Kedua, adalah istilah yang sangat populer sehitidak sudah menjadi kesepakatan yang universal dan berlsaya umum. Misalnya musik ‘Heavy Metal’ tidak perlu menjadi musik ‘Logam Berat’.

Ketiga, padanannya sudah ada dalam Bahasa Indonesia. Misalkan email (electronic mail) menjadi surel (surat elektronik).

Kita tidak bisa menentukan apa yang dapat ditranslasikan dan apa yang tidak, hanya karena itu tidak enak didengar bukan?

Kalian tahu, bahwa Liek Wilardjo, guru besar UKSW menciptakan istilah ‘gana’ untuk metidaknti ‘digital’, sehitidak menjadi ‘bergana’ untuk ‘digitally’? Istilah ini tidak populer, tetapi kita sebagai pers punya tanggungjawab untuk mendidik pembaca menggunakan bahasa yang baik dan benar (fungsi edukasi).

Jika tidak ada padanan yang pas, buatlah sendiri. Tidak ada yang salah dengan itu. Dan jika malas membuat, gunakan tiga alternatif yang saya tawarkan 1) ganti istilah asing, 2) muat kedua istilah, 3) sekalian saja di Bahasa Inggris-kan.

Rahayu Pawarti :

Saya setuju dengan Arya, jika bahasa itu bebas. Apabila kita lihat dari sejarahnya pun, Bahasa Indonesia yang dipakai sekarang, banyak juga kok yang menyerap dari bahasa asing, terlepas dari bahasa apapun itu yang diambil.

Kalau dibilang mencampur bahasa asing sama Bahasa Indonesia itu ‘sok-sokan’, saya balik lagi ke pertanyaan “Bahasa Indonesia yang bener itu kayak apa?” Sudah terlalu banyak kata serapan di Bahasa Indonesia. Bukan berarti meremehin Bahasa Indonesia, cuma lihat aja konteksnya bagimana.

Setuju banget dengan komentar sebelumnya yang bilang “selagi kita dan orang yang kita ajak bicara itu ngerti, ya sah-sah aja…”. Apalagi jika situasi memaksakan kata yang memang tidak bisa diindonesiakan, lah mau gimana? Jatohnya malah sama-sama tidak mudeng.

Kalau masalah genre, ya kita bisa apa? Lagi pula jika diterjemahin ke Bahasa Indonesia juga tidak bisa. bukan masalah sudah atau belum dicantumkan di kumpulan kata serapan, hanya balik lagi, orang yang kita ajak bicara mengerti apa tidak? Tujuan kita mengeluarkan kata-kata ke orang lain ya agar orang lain itu mengerti dan bisa meerespon dengan baik.

Bahasa yang katanya ‘kebarat-baratan’ juga bukan karena kita sok, tapi karena kita terbiasa. Jangan salah mengartikan loh… kalau masyarakat kita yang udah biasa sama kata serapan lalu disodorkan kalimat yang ‘Indonesia sekali’ belom tentu juga dia bisa mengerti.

Itu cuma pendapatku saja sih Fahri. Intinya, lihat konteksnya jika kita mau berbicara dan ingat lagi siapa lawan bicara atau pembaca. Kita menulis dan berbicara bukan karena mau dia tidaap sok-sokan, tapi karena mau pembaca atau orang yang kita ajak bicara itu ngerti.

Bima Satria Putra :

Tapi perlu dibedakan juga loh. Ada tiga orang yang kita bahas di sini. Pertama, yang tidak senang karena bahasa campur aduk (termasuk saya). Kedua, yang tidak senang karena menganggapnya sok-sokan (bukan saya). Ketiga, yang tidak senang karena tidak mengerti (mungkin bukan saya juga). Saya terlepas dari apakah menggunakan Bahasa Inggris itu ‘sok-sokan’ loh. Saya tidak masalah apakah orang berbicara Bahasa Inggris itu sok-sokan atau tidak. Senang berdiskusi dengan kalian!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s