Kampus

Berkunjung ke ‘Negeri Jangkung’

Sore itu, sekelompok mahasiswa duduk tepat di halaman kantor Fiskom. Mereka ini adalah mahasiwa aktif, beberapa mahasiswa prodi Hubungan Internasional (HI) dan beberapa mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi. Ada beberapa hal yang sedang mereka perbincangkan, yaitu tentang kunjungan “wajib ke Hongkong”. Entah apa yang membuat suasana ini berat, begitu pula wajah-wajah yang tak bisa tersenyum terlalu lama. Beberapa wajah terlihat murung.

Pada Juni 2015 mendatang, mereka akan berkunjung ke Hongkong. Sebuah negara kota kecil, terjepit oleh negara adidaya Cina dan samudra Pasifik. Sering pula disebut sebagai ‘Negeri Jangkung’, karena penuh oleh gedung pencakar langit. Kunjungan ini mengundang banyak pro dan kontra, ada berbagai pendapat dikemukakan para mahasiswa. Antara lain keluhan mengenai biaya yang terbilang cukup mahal. Juga tidak adanya penjelasan dari pihak fakultas, maupun dosen tentang manfaat dan pentingnya kunjungan ke Hongkong ini.

Seorang mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa walaupun biaya kunjungan mahal, namun karena program fakultas ini diwajibkan, maka ia tetap harus mengikutinya. “Sayangnya, fakultas tidak memberi kebebasan pada mahasiswa untuk memilih dan menentukan negara yang akan dikunjungi. Penjelasan mengenai manfaat kunjungan ke sana (Hongkong –red) pun tak ada,” tuturnya.

Beberapa mahasiswa lain mengatakan hal yang sama. “Karna sifatnya wajib, ya harus diikuti. Walaupun saya sendiri kurang setuju,” keluh seorang mahasiswa HI lain. Para mahasiwa ini, telah berusaha mempertanyakan dan menegosiasikan wajib tidaknya kunjungan ke luar negeri.

Rencananya, dalam kunjungan tersebut mahasiswa akan mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hongkong. Di Kedubes mereka mendapat kuliah umum dan juga pengenalan akan ruang lingkup sebuah Kedutaan Besar. Mahasiswa juga akan mengunjungi tempat-tempat TKI. Untuk membuang penat dan lelah, mereka diberi jadwal untuk berekreasi, dan menikmati nuansa negeri tirai bambu itu.

Sri Suwartiningsih, Kaprodi HI Fiskom UKSW, pada suatu siang  menjelaskan lebih banyak tentang kunjungan tersebut. Kunjungan itu sendiri menurut Sri bertujuan untuk meningkatkan kompetensi program studi, tujuan lainnya juga memberi pengalaman belajar pada mahasiswa. Sebelum melakukan penerimaan mahasiswa baru, tim promosi juga sudah menginformasikan kepada calon mahasiswa dan wali, bahwa HI akan mengadakan kunjungan ke luar negeri. “Mungkin saja para mahasiswa dan orangtua pada saat itu tidak memperhatikan tulisan dan penjelasan yang tertera di brosur,” jelas Sri.

Hongkong pun bukannya dipilih tanpa alasan. “Sebagai angkatan pertama kita hanya memiliki satu pilihan dan telah menjalin kerjasama. Yaitu dengan Hongkong,” tambah Sri lagi. Sri pun menjelaskan bahwa pihak fakultas telah memberi kelonggaran dan pilihan bagi mahasiswa. “Bagi yang tak bisa berangkat tahun ini, bisa berangkat kunjungan tahun depan,” ujarnya. Dengan satu konsekuensi, magang dan proposal akan dimundurkan.

Rencananya tahun depan ada beberapa negara yang dapat dipilih. Negara-negara tersebut antara lain adalah Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand dan Timor leste. Dari segi biaya tentu jauh lebih murah. Namun kembali lagi pada pilihan dan kondisi keuangan mahasiswa. Karena tahun ini maupun tahun berikutnya, kunjungan ke luar negeri sifatnya tetap wajib bagi mereka yang mengambil jurusan HI.

 Pintarni Zebua, mahasiswa Jurnalistik Fiskom UKSW. Kepala Komisi D Advokasi BPMF Fiskom UKSW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s