Laporan Khusus

Tetap Bergeliat, Walau Dana Disunat

Awak Redaksi LPM Scientiarum pada 2012 (Foto : Rolland Koroh).

Awak Redaksi LPM Scientiarum pada 2012 (Foto : Rolland Koroh).

BERDIRI PADA 1998, SCIENTIARUM JADI PERS MAHASISWA PALING SENIOR SAAT INI. PADA 2010, PERNAH BIKIN GEGER KAMPUS KARENA SAMPUL MAJALAHNYA. ISINYA TIDAK KALAH PANAS. MAJALAH TERSEBUT JADI MAJALAH TERAKHIR. SCIENTIARUM MEGAP-MEGAP KESULITAN DANA.

Jam menunjuk pukul sepuluh. Di kafe Rindang, Lentera berkesempatan menunggu seorang dosen ‘murah senyum’ dari Fakultas Theologi. Izak Lattu. Ketika orang yang dimaksud tiba, ia baru selesai mengajar. Lattu yang juga menjabat sebagai Ketua BPMU UKSW 1998-1999 ini menyambut hangat maksud wawancara Lentera.

Pada masa transisi orde baru ke reformasi, Lattu bersama rekannya mendirikan Scientiarum. “Kita terbitkan setiap hari dalam rangka mendukung gerakan demonstrasi mahasiswa.Supaya orang yang ikut demo tahu apa yang dibicarakan, dan isu yang berkembang itu seperti apa,” jawab Lattu.

Lattu yang juga pernah menjadi wartawan di harian Solo Pos itu bercerita bahwa ia sudah memikirkan jika UKSW dapat melahirkan media mahasiswanya sendiri. Sebelum aktif di Scientiarum, Lattu juga menjadi bagian dari awak redaksi Gelepar, harian reformasi di UKSW.

Pada 1998, Lattu bersama Yefta Koes Andi Nugroho, sekarang dosen FEB UKSW, berangkat ke Kongres Nasional I Mahasiswa Indonesia di Universitas Trisakti. Ia yakin bahwa UKSW harus memiliki LPM layaknya universitas di Jakarta. Sepulang dari kongres, Scientiarum dibentuk.

Begitu aktifnya, seperti ditulis Lattu dalam buku Sejarah Lembaga Kemahasiswaan dan Pembinaan Kemahasiswaan, Lattu relamendatangi Bambang Suteng Sulasmono, salah satu dosen yang kritis pada orde baruke rumahnya saat tengah malam hanya untuk memawancarainya.

Di bawah naungan Lattu, Scientiarum menerbitkan tabloid pertama yang berjumlah delapan halaman berisikan berita nasional, kampus, artikel mahasiswa, resensi, dan opini. “Kita terbit setiap tiga bulan sekali. Dari delapan halaman, berkembang menjadi 16 halaman, hingga kemudian paling tebal 24 halaman,” ujar Lattu. Bersama dengan James Ballo, Adri Saba Ora, George Banunek dan rekan-rekan yang lain, Lattu mengelola Scientiarum.

Setelah Lattu dan rekan-rekannya lulus, Scientiarum dipimpin oleh Nathaniel Bassa, mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW dan kemudian Scientiarum mati suri setelah sempat terbit sekali.

Setelah mati suri, Scientiarum dihidupkan kembali oleh Bambang Triyono, mahasiswa FKIP pada 2006. Di dalamnya terdiri barisan awak redaksi yang kelak terjun menjadi wartawan profesional. Mulai dari Suara Merdeka, Harian Sindo, Bisnis Indonesia dan Jogja Post.

Sentimentilarum

Memang usil. ‘Sentimentilarum’ –sebutan untuk Scientiarum yang dianggap sentimentil- pernah bikin geger kampus karena sampul majalah terakhirnya pada 2010. “Kami muat gambar sampul Rektor UKSW John Titaleydengan model pahlawan Superman,” ujar Daniel Pekuwali, Pemimpin Redaksi waktu itu.

Isi majalahnya mempersoalkan pembangunan kampus FTI di Blotongan, serta rencana ambisius John Titaley untuk membawa UKSW untuk go international. “Ini sebenarnya sebagai kritik kami terhadap ambisi UKSW untuk go internasional,yang menurut kami terlalu cepat. UKSW belum siap, baik dari segi kompetensi, kesiapan mahasiswa, dosen hingga fasilitas kampus,” jelas Pekuwali. Salah satu artikel paling sarkas berjudul Lokalisasi UKSW : Siapa Takut?, ditulis oleh Satria Anandita, staf Litbang Scientiarum.

LPJ 1

Laporan Pertanggungjawaban LPM Scientiarum kepada SMU perihal penerbitan majalah (Foto : Bima Satria Putra).

Scientiarum menanggung akibatnya. Tak tanggung-tanggung, dana 12 juta yang sedianya dialokasikan untuk pembiayaan majalah dan pameran foto lambat turun. Alhasil, Scientiarum mencetak majalah dengan hutang!

“PR III hanya mau mengeluarkan dana jika mereka –rektorat- lebih dahulu melihat draf majalah,” ujar Pekuwali.

Untuk meminta penjelasan, Satria Anandita mendatangi Yafet Rissy, Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiwaan. Ia sempat beradu mulut dengan ‘bos mahasiswa nomor satu’ itu.

“Coba pinta kronologis lengkapnya sama Satria Anandita. Saya hanya bisa menceritakan garis besarnya saja,” ujarnya. Tiga minggu terakhir, Lentera berkali-kali menghubungi Satria melalui pesan singkat dan Facebook. Hingga laporan ini diturunkan, Lentera tidak mendapatkan respons.

Sementara itu, Yafet dalam Sejarah Lembaga Kemahasiswaan dan Peminaan Kemahasiswaan, menjelaskan bahwa pada awal periodenya, Scientiarum mengambil posisi yang berhadapan dengan Pimpinan Universitas dan cenderung menjadi alat propaganda kepentingan politik pihak yang tidak sependapat dengan Pimpinan Universitas dan Universitas.

“Kondisi seperti ini menunjukan sikap yang tidak dewasa dan kurang komitmen untuk memahami dan Melaksanakan ideal-ideal Satya Wacana,” tulis Yafet.

Pekuwali tidak terima. “Bagaimana mungkin kebijakan redaksional, apalagi terkait isi berita harus diketahui oleh orang lain? Itu tentu akan menciderai independensi yang selama ini berusaha kami pertahankan,” terang Pekuwali lagi.

Sementara itu, dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) SMU UKSW akhir periode 2010-2011, tertulis bahwa lamanya penurunan dana tersebut disebabkan oleh lambatnya mekanisme proposal di tingkat SMU dan penandatangan proposal oleh PR III yang disebabkan karena mekanisme proposal dan ketidakjelaskan hak akan draft majalah.

Karena merasa ada yang mengubrak-abrik dapur redaksinya, Scientiarum nekat membuat selebaran tentang perselisihan waktu itu.Selebaran diselipkan di majalah yang telah tercetak. Majalah tersebut jadi majalah terakhir. Hingga kini, Scientiarum megap-megap kesulitan dana.

Sunatan Dana

Menurut Pekuwali, salah satu kendala Scientiarum adalah penyunatan dana. Membicarakan ‘rupiah’ adalah hal yang sensitif bagi sebagian awak redaksi yang menempati ruang berantakan di Gedung O LKU UKSW ini.

“Memang ada beberapa orang yang berusaha mematikan laju Scientiarum, salah satunya dengan memangkas dana. Sepertinya, pemangkasan dana untuk Scientiarum itu sudah berlaku saat ini,” jelas Pekuwali.

Dulu, Scientiarum mendapatkan gelontoran dana hingga 25’an juta rupiah. Paling tidak hingga 2009, Scientiarum terbit pula dalam bentuk majalah dan tabloid.

“Dengan pertimbangan penghematan dana, sejak kepemimpinan Yoga Prasetya yang menggantikan Satria jadi Pemred, tabloid sudah tak kami cetak lagi,” jelasnya.

Pada 2010, dana Scientiarum menurun menjadi 12 juta rupiah yang dianggarkan untuk penerbitan 500 ekslempar majalah dan pameran foto. Pada 2013, dana Scientiarum hanya mencapai empat juta saja,yang pada akhir periode, tidak semuanya turun. Scientiarum menggunakan sisa dana yang mereka miliki untuk membuat kartu pers.

Meneruskan Semangat Perjuangan

Guntur Segara dan Arya Adikristya N

Guntur Segara (kiri), Pemimpin Umum LPM Scientiarum dan Arya Adikristya Nonoputra (kanan), Pemimpin Redaksi LPM Scientiarum pada periode 2014-2015 (Foto : Cinta Carnelian).

Beda generasi, mungkin beda pula idealismenya. Lattu dulu menjadikan Daily Californian dari Berkeley sebagai kerangka rujukannya. “Kita pingin Scientiarum seperti itu, terbit setiap hari dan indipenden, dan itu usianya sudah ratusan tahun. Punya pendanaan dari luar agar tidak bergantung dengan universitas,” terangnya.

Posisi Pemimpin Umum Scientiarum periode 2014-2015 saat ini dijabat oleh Guntur Segara. “Aku ingin reformasi, apalagi anak–anak baru yang semangat. Saya ingin membuat Scientiarum tidak tertutup lagi. Selain itu, berita terbit berkala setiap minggu agar tidak terkesan lambat,” ujar Guntur menceritakan Scientiarum.

Guntur mendobrak Scientiarum dengan inovasi berita baru. Misalnya dengan berita audio-visual yang bernama ScientiarumTV yang terbit satu bulan sekali. “Kamijuga berusaha membangun relasi antar LPM UKSW agar kita bisa saling berbagi berita dan berkumpul. Juga kita bisa bantu mengenai informasi berita dengan melansir, jadi kita tidak merasa sendiri,” ucap Guntur menceritakan cita-cita Scientiarum.

Sementara itu, sayap redaksi selaku jantung pers mahasiswaScientiarum, digawangi oleh Arya Adikristya Nonoputra, selaku Pemred, yang kebetulan juga adik kandung Satria Anandita. Arya menjelaskan bahwa masalah Scientiarum saat ini bukan pada pendanaan, tetapi sumber daya manusiannya. “Jika SDM-nya bagus, bisa cari uang sendiri,” ujarnya.

Periode ini pula, Scientiarum berada di bawah naungan Arief Sadjiarto, Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan UKSW. “Karena masalah duit. Di bawah SMU duitnya sedikit,” ujar Arya. Apakah pernah berkeinginan untuk menerbitkan majalah kembali? “Ada, hanya saja nafsu untuk memperjuangkannya belum membuncah,” Arya mengakui. •

Laporan Khusus ini ditulis oleh Billiam Simon Arthadi, staf Daring LPM Lentera. Mahasiswa Fiskom UKSW 2014.

Penyunting : Bima Satria Putra.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s