Laporan Khusus

Ketika Berita Dilarang Terbit

Awak Redaksi Psychophrenia pada 2012 (Foto : Great Erick Kaumbur).

Awak Redaksi Psychophrenia pada 2012 (Foto : Great Erick Kaumbur).

Setiap lekuk dan liku, setiap keraguan dan kekecewaan, semangat dan putus asa, ketakutan dan keberanian, kritis dan idealis, yang terbelenggu dalam sebuah fatamorgana yang mengatasnamakan “kebebasan”. Sebuah kesadaran palsu yang membutakan, namun ternyata telah membangunkan singa dari tidurnya.

Satu hal yang terbesit, betapa menakutkan jika singa itu mulai mengaum, dengan segera mengetarkan nyali musuh-musuhnya! Satu-satunya jalan hanya melenyapkannya dari panggung parodi, memang lenyap sudah, tidak terdengar lagi auman singa muda itu.

Lirih terdengar, bisikan indah menentramkan batin. “Mereka tidak hilang, mereka hanya berubah menjadi serpihan,walau membara kecil, tapi aumannya tetaplah sekeras dulu”. Mereka mengakhiri sebuah pertandingan dengan gagah berani, walau kini harus kehilangan taring dan cakar. Tidak, sudah mati.

Jurnalis dari Gedung Ungu
Pertengahan 2010,di bawah SMF Fakultas Psikologi Bidang 3 Informasi, Komunikasi dan Propoganda (Inforkom), terbentuk KBM Jurnalistik. Harapannya? Agar mampu menampung aspirasi mahasiswa Psikologi, Psychophrenia namanya.

Pada awalnya, dibantu oleh SMF, Psychophrenia aktif mengelola mading di fakultas dan situs web. Tak lama berselang, Psychophrenia menelurkan karya berupa majalah yang tidak hanya menjadi penyalur informasi, tapi juga menjadi tempat mahasiswa dan dosen untuk menulis gagasan-gagasan yang berhubungan dengan bidang ilmu psikologi.

Psychophrenia pada awal peluncuran merupakan terobosan baru dari mahasiswa. Majalah yang berisi tentang fakultas, pengetahuan, dan info tentang psikologi. Fokusnya memberitakan apa yang terjadi saat itu,” ujar Maria Nugraheni Mardi Rahayu, dosen Fakultas Psikologi sekaligus mantan Ketua Senat Mahasiswa periode 2010-2011.
Memang bukan tanpa alasan penuturan itu dikatakan, hasil kerja yang dilakukan redaksi betul-betul membuahkan hasil. Padahal, waktu pertama menerbitkan majalah, Psychophrenia terbilang masih sangat muda. Pers mahasiswa yang mengusung idealisme mengintegrasikan akal, budi dan iman dari fakultas, mulai bergerak.

Psychophrenia Punya Cerita
Adalah suatu tanggung jawab besar bagi seorang jurnalis yang dituntut untuk memberitakan fenomena yang ada secara obyektif. Namun tetap saja,dalam pemberitaan ada pihak lain yang merasa takut dirugikan dengan pemberitaan tersebut. Begitulah kurang lebihnya menggambarkan dilema dari redaksi Psychophrenia waktu itu, terutama dari pihak dekanat. Psychophrenia sering sekali berkonfrontasi dengan fakultas.

Empat tahun yang lalu, tepatnya pada 14 November 2011,‘Fakultas Gedung Ungu’ dikejutkan dengan adanya pemasangan spanduk yang mengatasnamakan Forum Mahasiswa Psikologi (FORMASI). Tulisannya begini : “Mau Dibawa Kemana Fakultas Psikologi? (akreditasi?, kinerja dosen?, konflik dosen?, apatisme mahasiswa?) Mahasiswa & Dosen “SADAR DONG” LK Tunjukan Nyalimu, Jangan Jadi “KULI” Di Negerimu!!! FORMASI”.

Hari itu juga, spanduk yang terpampang di depan kanfak Psikologi diturunkan. Kritikan pedas didalam spanduk nampaknya membuat pihak fakultas akhirnya menurunkan spanduk tersebut. Selain kata-kata yang pedas, pemasangan tersebut tanpa izin dari pihak fakultas. Pemasangnya juga tidak diketahui.

“Aku sedikit kecewa dengan sikap yang diambil oleh dekan waktu itu, karena aku pikir ini adalah hak bicara mahasiswa. Kenapa spanduknya harus diturunkan?” tutur Evan Adinanta, Pemimpin Redaksi Psychophrenia 2012-2013.

Kepada Lentera, Evan menjelaskan bahwa setelah pencopotan spanduk itu, redaksi membentuk satu tim untuk melakukan peliputan. Begitu terbentuk tim liputan, mereka membagi tugas untuk mewawancarai orang-orang yang bersangkutandengan masalah spanduk protes ‘tanpa tuan’ tersebut. Termasuk dekan Psikologi yang waktu itu dijabat oleh Berta Esti Ari Prasetya,salah satu narasumber yang harus diwawancarai.

Singkat cerita proses wawancara selesai. Paling mengagetkan adalah saat salah satu anggota tim mendapat peringatan dari Berta, agar berita yang dihasilkan tidak dipublikasikan ke dalam blog. Alasannya? “Karena semua orang bisa membaca berita tersebut dan tersebar, hingga ke internasional,” ujar Evan. Berta menyarankan untuk memasukkan pemberitaan itu di mading SMF saja.

Merasa ada campur tangan pihak luar mengenai apa yang harus diterbitkan apa yang tidak, Psychophrenia memutuskan untuk merapatkannya. Evan menjelaskan bahwa dengan mendapat peringatan seperti itu, awak redaksi Psychophrenia bingung dan ketakutan karena belum pernah sebelumnya mendapat pertentangan seperti itu. Ada ketakutan, awak redaksi kemungkinan mendapatkan nilai jelek dalam perkuliahannya.

Hal tersebut membuat Evan kesal dan geram, yang akhirnya mempertanyakan status jurnalistik Psychophrenia. Konsekuensinya? Psychophrenia kehilangan independensinya, karena hanya berani memuat berita-berita yang sedap didengar, tanpa berani memberitakan berita yang nyata, apa adanya. Berita tersebut pada akhirnya tidak jadi terbit.

Lentera kemudian menghampiri Berta, dekan Psikologi waktu itu, di ruangannya di ‘gedung ungu’. Berta menolak memberikan keterangan apapun kepada Lentera. “Saya tidak berani berkomentar apa-apa. Tanya yang lain -dosen- saja ya,” ujar Berta kepada Lentera.

Selain pernah mendapatkan pelarangan menerbitkan suatu berita, Psychophrenia pernah dibuat bingung dengan statusnya. Ketika itu, Evan menjabat sebagai Pemimpin Umum Psychophrenia pada 2011-2012. Rencananya, Psychophrenia akan dipindah dari yang sebelumnya di bidang 3 Inforkom ke bidang 2 Professional Skills. Pemindahan yang tidak jelas itu mengakibatkan kinerja dari redaksi sendiri terhambat. Tentu saja kejadian tersebut menimbulkan banyak pertanyaan, sebenarnya kenapa harus ada pemindahan bidang?

“Waktu itu perwakilan dari LK mengatakan Psychophrenia untuk menghindari tulisan-tulisan yang terkesan anti dengan fakultas,” seperti diakui Evan.

Psychophrenia pernah pula menurunkan opini tentang pelecehan verbal dosen kepada mahasiswa.“Salah satu dosen waktu itu mempermalukan seorang mahasiswa di depan kelas, karena cara berpakaiannya seperti orang desa. Pakaian dan sendalnya dikomentari,” jelas Evan. Karena tekanan dari banyak pihak, dosen yang bersangkutan angkat kaki.

Asa Tanpa Realitas
Menurut Evan, mundurnya Aditya selaku Pemimpin Umum Psychophrenia (2012-2013) membuat awak redaksi seperti anak ayam kehilangan induknya. Evan menjelaskan bahwa waktu itu anggota Psychophrenia sudah mulai kehilangan semangatnya. Beberapa senior yang sebelumnya pernah aktif sebenarnya sudah berusaha untuk menghidupkan kembali Psychophrenia. Namun kurang mendapatkan sambutan yang baik dari awak redaksi. Kehilangan asa sudah awak redaksi Psychophrenia.

“Harapanku, kalaupun tidak menjadi lembaga pers mahasiswa yang seutuhnya, Psychophrenia menjadi penyalur aspirasi mahasiswa untuk menyalurkan karya-karya tulisan mahasiswa untuk diterbitkan,” jawab Evan saat ditanyai Lentera jika Psychophrenia masih ada sampai sekarang.

Disinggung keberadaaan Psycophrenia pada periode lalu, Ketua SMF Fakultas Psikologi 2014-2015, Aholiab Januar Sanjaya menuturkan “selama saya menjabat, belum ada ide dari fakultas menudukung pers mahasiswa secara resmi. Kalau berbincang dengan Maria –dosen- sih ada, cuma belum ada realisasinya.”

Keterangan lebih lanjut dari laki-laki berambut gondrong yang kerap disapa Ian ini, SMF sedang dalam proses menghidupkan kembali Psycophrenia, meski tidak dalam bentuk pers mahasiswa.“Harapannya dengan mulai melatih orang-orang di senat, tahun depan Psycophrenia dapat hidup kembali,” ujar Ian.
***
Paling tidak, SMF periode ini sudah punya niat menghidupkannya kembali. Kata ‘merintis’ memang bukan satu hal yang mudah untuk dilakukan. Ibarat judi, perintisan tidak hanya menunggu peruntungan,tetapi juga strategi matang dari orang yang tepat. Berhasil atau tidaknya Psycophrenia bernyawa lagi, hanya waktu yang akan menjawab, pelan namun pasti.•

Liputan Khusus ini dikerjakan dan ditulis oleh Arista Ayu Nanda, Sabdo Nugroho dan Fachri Darmawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s