Laporan Khusus

Gerilya Pena Fakultas

Awak redaksi LPM Ascarya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UKSW (Foto : Mariska Yosandra)

Awak redaksi LPM Ascarya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UKSW (Foto : Mariska Yosandra)

ALEXIO ALBERTO CESAR, HANNY YUNITA, SEPTI DWI ASTUTI & PRISKILA EFATANIA

Sejarah mencatat bahwa paling tidak semenjak 70’an, UKSW memiliki beberapa pers mahasiswa. Masing-masing memiliki karakternya sendiri. Misalnya Grafis dari Fiskom, buletin Sketsa dari FKIP, buletin Biota dari Fakultas Biologi, buletin Agronomi dari Fakultas Pertanian, majalah Rekayasa dari Fakultas Hukum, majalah Elka dari Fakultas Teknik, majalah Dian Ekonomi serta buletin Syalom dari Fakultas Theologi. Semuanya sudah mati.

Walau demikian, beberapa fakultas tetap melahirkan penerbitan mahasiswa yang baru. Beberapa di bawah naungan Senat Mahasiswa, atau langsung dibina oleh fakultas, sementara ada pula yang lahir dari mahasiswa sendiri. Fakultas Biologi misalnya melahirkan Media Informasi Biologi (MIB), sementara di Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) lahir buletin Agricola. Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) bahkan terdapat dua penerbitan, yaitu Acces di bawah naungan fakultas dan Powers di bawah naungan SMF. Selain itu juga ada Mafia.edu dari FSM, Ascarya dari FEB, serta Edu News dari FKIP. Mereka aktif bergerilya di aras fakultas.

Memilih Bertahan

Lima tahun yang lalu, tepatnya pada Mafia.edu lahir di Fakultas Sains Matematika (FSM). Namanya merupakan singkatan dari Matematika, Fisika, Kimia dan Edukasi. Periode 2014-2015 ini dipimpin oleh Ruth Rinentahansi.

Seperti banyak masalah klasik pers mahasiswa, Ruth menjelaskan bahwa Mafia.edu punya masalah dengan kurangnya minat baca yang dimiliki oleh mahasiswa FSM.

“Dulu Mafia.edu sudah menyebarkan berita melalui situs jaring (website) maupun Facebook, namun tidak ada respon dari mahasiswa FSM. Karena itu saya membuat mading agar mahasiswa FSM tahu bahwa KBM ini tetap ada dan terasa bagi mahasiswa FSM,” jelas Ruth.

Tak berhenti di situ, upaya terus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan jurnalistik awak redaksi, dengan cara mengadakan pelatihan penulisan. Dengan mendatangkan pembicara dari luar ataupun dosen-dosen yang ada di UKSW, serta memberikan bukti nyata dengan langsung mempraktekan hasil pelatihan tersebut. Mafia.edu sempat mengundang Scientiarum pada 2014 lalu untuk pelatihan jurnalistik.

Pada periode lalu (2013-2014), Mafia.edu berjalan tertatih karena hanya digerakan hanya oleh tiga orang saja. Mereka yang mengumpulkan dana, mereka yang menulis, mereka yang mencetak, mereka pula yang menyebarkan. Hal ini menjadi pengalaman tersendiri bagi Mafia.edu.

Paling tidak, Mafia.edu dapat bernafas lega karena kini telah beranggotakan 12 orang. Ruth berharap agar mahasiswa FSM tidak kudet dengan informasi yang ada. “Juga muncul minat baca di kalangan mahasiswa,” harap Ruth. Mafi memilih bertahan.

Lebih Dari Sekedar Majalah

Ketua dan kolumnis majalah Access milik Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UKSW, yakni Ruth Victoria Ima mengatakan bahwa Access itu lebih dari majalahnya FBS. Karena konten pemberitan tidak hanya melulu seputar FBS, tapi menghadirkan konten dari luar juga. Access juga memiliki rubrik “All About University”. Rubrik tersebut mengangkat berita tentang seputar universitas. “Misalnya, kami menulis tentang OMB tanpa drumblek,”ujarnya

Bagi Ima, penerbitan majalah adalah salah satu prestasi.  “Majalah Access milik FBS itu keren banget, jadi sayang kalau tidak terbit setiap semesternya, karena ini adalah salah satu wahana untuk menuangkan ide-ide dari para anggota Access,” tutur Ima.

Karena Access terbit satu semester sekali, Access kesulitan dalam menyajikan berita yang aktual. “Kita selalu mencari berita yang fresh dan in, tapi  terhambat  dengan penerbitan, sehingga berita sudah tidak fresh lagi,” ujar Ima.

Sekarang Access memiliki 11 orang. “Sembilan orang kolumnis, satu penata letak, satu ilustrator, dan itu mereka sudah termasuk BPH (badan pengurus harian –red),” katanya.

Ima juga memiliki rencana agar Access kedepannya membuat situs jaring. “Agar tidak hanya anak-anak FBS saja yang membaca, tetapi juga dari luar FBS, sehingga mereka dapat membagi kritik dan saran kepada kami,” mantap Ima.

Tampil ke Depan

Ascarya, itulah sebutan KBM Jurnalistik milik FEB UKSW yang berdiri pada 2002 ini. Awalnya, bernama Gita Suara Mahasiswa, kemudian pada 2009 menerbitkan majalah pertamanya dan langsung berganti nama menjadi Ascarya, dari bahasa sansekerta yang berarti tampil kedepan.

Diketuai oleh Gracia Beta Chatarina, Ascarya sekarang beranggotakan 12 orang yang terdiri dari sembilan fungsionaris dan tiga anggota.

Gracia mengungkapkan, sejak 2009 sampai 2011, Ascarya rutin menerbitkan satu majalah setiap tahunnya. Namun pada 2012, penerbitan diubah menjadi dua kali dalam setahun, khusus untuk kalangan FEB. “Ada juga majalah dalam bentuk digital yang dimuat dalam web ascarya.komunitas.uksw.edu yang kapanpun dapat dikunjungi oleh mahasiswa FEB,” ujar Gracia.

“Kalau masalah internal sesama anggota saya rasa bukan masalah yang cukup berat, jadi seperti organisasi pada umumnya ada perbedaan pendapat, perbedaan sikap, dan kurangnya tanggung jawab masih bisa ditangani, dan kalau masalah eksternal itu setahu saya tidak pernah ada konflik yang besar, paling hanya koreksi-koreksi”, ujar Gracia saat menjelakan permasalahan di Ascarya.

Harapan Gracia Ascarya, ”anak-anak Ascarya lebih kreatif, lebih kritis dalam mencari berita dan isu-isu serta lebih banyak menampung mahasiswa FEB khususnya di bidang jurnalistik.”

Ganti Periode, Ganti Pengurus

FKIP di UKSW, memiliki KBM Jurnalistik, Edu News namanya. Pemimpin Umumnya sekarang adalah Meinita Yesi Anugrahini, dari Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) 2013.

Edu News sudah berdiri sejak tahun 2009. Pada awalnya Edu News dipimpin oleh salah satu mahasiswa Prodi PKN, yakni Andit.

Mei mengatakan bahwa pekerjaan rutin Edu News adalah menerbitkan dua majalah dalam satu periode dan menerbitkan buletin setiap minggunya. Majalah yang diterbitkan ini bernama Zona Informasi FKIP (ZIP).

Sulit mengumpulkan anggota, pengumpulan tenggat waktu berita, kurangnya minat mahasiswa dalam membaca menjadi permasalahan Edu News.

Untuk periode 2014-2015, Mei menuturkan jumlah pengurus Edu News ada 26 orang, diantaranya 21 orang berstatus anggota dan lima BPH.

Majalah Edu News hanya berisi mengenai pendidikan dan berita-berita seputar FKIP.  “Walaupun ada sastra seperti pantun, puisi, dan cerpen, tetapi sebagian besar hanya membahas mengenai pendidikan dan seputar FKIP,” ucap Mei.

Berbeda dengan pers mahasiswa pada umumnya, Edu News tiap periode selalu berganti pengurus, macam panitia. Akibatnya, Edu News selalu memulai program kerjanya dengan orang-orang baru, tanpa pendampingan seniornya.

“Jarang sekali ada yang menjabat selama lebih dari 1 tahun,” ungkap Mei. Walau demikian, Mei mengungkapkan bahwa anggota baru Edu News selalu mendapat pelatihan dari Biro mahasiswa dan Dosen FKIP yang berkompeten tiap dua periode.

Mei berharap Edu News bisa keluar dari skopa fakultas, dan menyasar universitas dan seputar Salatiga. Mei juga berharap bisa mengembangkan berita lewat situs jaring. “Situs jaring Edu News sendiri sudah lama mati dan jarang dibuka karena tidak ada yang mengunjungi situs jaring tersebut,” ujar Mei. •

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s