Salatiga

Rahasia Jamu Jeng Ratu

IMG_20150806_225842

Rabu (5/8) Mahasiswa Komunikasi 2011 mengadakan talkshow bertema “Suewe ora djamoe”, acara ini bertempat di perpustakaan daerah Salatiga. Menurut Ridwan Martien, “Acara ini bertujuan untuk mengangkat kembali gengsi jamu tradisional agar kembali diminati terutama oleh kaum muda sebagai generasi penerus, lalu agar ibu-ibu rumah tangga mengenal khasiat jamu tradisional dan menjadikannya sebagai konsumsi sehat sehari-hari bagi keluarganya dirumah” ujar Ridwan selaku Ketua Panitia.

Acara tersebut dihadiri oleh Jeng Ratu dan dr.Yulia(Dikes). Sebagai pembicara, dr.Yulia mengaku bahwa orang-orang jaman modern ini lebih menyukai obat-obatan berbahan kimia dari pada obat-obatan tradisional seperti jamu. “Kadang pusing sedikit saja langsung diberi panadol, yang efek sampingnya besar dibandingkan dengan jamu, karena kita itu maunya instan, lima menit sembuh, padahal ini itu bukan sulap, jadi butuh proses”, tutur dr.Yulia. Untuk obat pusing, biasanya diolah dari Jahe yang di rebus kemudian diminumkan kepada penderita, jadi tidak harus mengkonsumsi obat-obatan berbahan kimia, dan takaran jamu pun harus sesuai dengan penderita, misalnya penderitanya adalah anak-anak, jamunya harus sesuai takaran genggaman si anak atau ruas jari si anak, jangan menggunakan genggaman atau ruas jari orang dewasa, karena akan overdosis.

Sedangkan Jeng Ratu yang sudah meracik jamu sejak tahun 2006, merasa prihatin dengan anak-anak usia SMP, SMA hingga mahasiswa yang tidak suka jamu “Mereka kalau sudah mendengar kata ‘Jamu’ biasanya sudah tutup telinga, tutup hidung duluan, padahal manfaatnya sangat banyak, tidak perlu keluar uang banyak, bebas dari efek samping, lebih awet muda dan sebagainya”, ujarnya

Jamu Jeng Ratu sudah dikenal di seluruh Indonesia bahkan sampai ke Luar Negeri, seperti Singapura dan Malaysia, rahasianya ialah Jamunya diolah dari tanaman organik, bebas dari prestisida, kemudian jamunya sudah ter-edukasi, artinya sudah melalui penelitian dari IPB, UGM, Kementrian Kesehatan dan Kementrian Pertanian untuk pasca panennya, dan jamunya berupa simplisia, artinya berupa potongan-potongan yang dikeringkan yang tidak mengandung serbuk. Jeng Ratu sendiri setiap harinya meminum jamu hasil racikannya agar tubuh menjadi sehat dan terhindar dari penyakit, lain halnya dengan Jefri Anugrah, mahasiswa Komunikasi yang baru mencoba jamu saat itu juga dan tidak ingin meminumnya lagi, “Rasanya seperti semriwing-semriwing saat berada di rongga mulut, dan saat tertelan rasanya anget-anget aneh gitu..”, ujarnya seusai meminum jamu gratis.

Berita oleh Hanny Yunita, jurnalis LPM Lentera. Mahasiswa Fiskom UKSW 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s