Forum

Pengaruh Televisi terhadap Realitas Sosial : Analisis Kultivasi George Gerbner

bunch_of_05

Semenjak runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998, industri penyiaran berkembang cukup pesat di Indonesia. Data Ditjen PPI  menunjukan bahwa terjadi peningkatan stasiun televisi yang signifikan, dari enam stasiun televisi pada 2006 menjadi 62 stasiun televisi pada 2012. Televisi merupakan salah satu media komunikasi massa yang sangat diminati masyarakat. Bahkan, Nielsen Audience Measurement pada tahun 2014 mencatat, pemirsa televisi -usia di atas 5 tahun- mencapai 49 juta jiwa untuk sepuluh kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin).

Dibanding radio atau media cetak (misalnya; koran dan majalah), televisi lebih mudah diterima masyarakat karena lebih mudah dipahami dengan sifatnya yang pandang dengar (audio visual). Khalayak tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk berpikir saat membaca artikel kemudian merefleksikan tulisan tersebut secara mendalam, atau mendengarkan secara seksama kemudian memahami maksud dari informasi atau berita yang disampaikan penyiar berita radio.

Namun, kita menjadi bertanya-tanya bila menilik beberapa kejadian di masa lampau. Misalnya, sejumlah anak luka, patah tulang, bahkan meninggal dunia setelah meniru adegan gulat ‘Smackdown’ yang disiarkan salah satu stasiun televisi di Indonesia pada tahun 2000-an. Bagaimana mungkin anak-anak tersebut berperilaku sedemikian rupa? Mengapa anak-anak tersebut berperilaku demikian setelah melihat acara tersebut? Bagaimana anak-anak tersebut bila menyaksikan acara televisi lainnya, yang sarat akan hedonisme belaka, seperti kisah-kisah dalam sinema elektronik (Sinetron) belakangan ini?

Penulis dalam artikel ini tidak bermaksud mengkaji beberapa pertanyaan di atas. Akan tetapi penulis berusaha untuk membahas sebuah teori yang berangkat dari pemikiran George Gerbenr (dalam West, 2008), yang mungkin dapat menjadi alat dalam analisis tayangan televisi dalam mempengaruhi pandangan individu terhadap realitas sosialnya.

Gerbner telah mengkaji analisis kultivasi (cultivation analitycs) sejak 1960-an. Kala itu, minat terhadap dampak media massa, khususnya televisi sangat tinggi. Lyndon Baines Johnson, Presiden Amerika Serikat ke-36 pengganti John F. Kennedy yang tewas terbunuh pada Jumat, 22 November 1963, memerintahkan untuk membentuk ‘Komite Nasional mengenai Sebab dan Pencegahan Kekerasan (National Commission on The Causes and Prevention of Violence) pada 1967 . Tidak hanya itu, pada 1972 kalangan medis atau dokter angkatan bersenjata di Amerika Serikat (Surgeon General) juga membentuk ‘Komite Penasihat Ilmiah mengenai Televisi dan Perilaku Sosial (Scientific Advisory Committee on Television and Social Behaviour). Gerbner, adalah seorang ilmuwan sosial yang terlibat dalam dua kelompok tersebut, ia menggunakan istilah kultivasi pada tahun 1969.

Gerbner bertugas untuk menghasilkan indeks kekerasan (violence index), indeks tersebut berisi seberapa banyak kekerasan dalam prime-time siaran televisi, yang dikemas dalam analisis tahunan. Sebelum dikenal sebagai analisis kultivasi, awalnya Gerbner membuat argumen kausal (causal argument) -televisi sebagai penyebab konsepsi realitas sosial-. Secara garis besar, pemikiran Gerbner tentang Analisis Kultivasi mengacu pada komunikasi massa yaitu, televisi yang mengkultivasi keyakinaan tertentu, yang dianggap sebagai keyakinan umum oleh khalayak atau konsumen komunikasi massa. Seperti yang telah diamati Gerbner, apa yang kita ketahui, atau apa yang kita anggap tahu, sebenarnya tidak pernah kita alami secara pribadi, melainkan kita mengetahui setelah mengalami proses yang begitu panjang. Proses tersebut tentu juga melibatkan persepsi, pemahaman dan keyakinan suatu individu secara mendalam terhadap segala sesuatu yang diperoleh melalui media. Hal tersebut hampir sama dengan perumpamaan yang dikemukakan oleh seorang filsuf dari Yunani, murid Sokrates yang juga guru dari Aristoteles, yaitu Plato.

Perumpamaan Gua Plato terdapat dalam salah satu karya besarnya yang berjudul Politeia ‘negeri’. Perumpamaan tersebut menggambarkan beberapa orang tawanan yang tinggal di dalam gua seumur hidupnya. Mereka di ikat dan tak bisa pergi kemana-mana, bahkan sekedar menengok ke mulut gua pun tak sanggup, yang mereka lihat hanya tembok gua dan bayangan yang dipantulkan melalui kobaran api. Para tawanan hanya dapat melihat bayangan dan mendengar suara-suara yang menggema kedalam gua. Suatu saat, salah satu tawanan lepas kemudian keluar gua dan akhirnya dapat melihat relitas yang sesungguhnya (misalnya; Matahari). Tawanan itu kemudian kembali kedalam gua untuk membebasakan tawanan lainnya, namun mereka menolak, bahkan mereka tidak percaya dengan segala sesuatu yang telah dilihat oleh tawanan yang bebas tersebut, mereka lebih meyakini realitas yang selama ini terlihat dalam bayang-bayang karena demikian yang mereka ketahui seumur hidup.

Hal yang lebih penting lagi dari Analisis Kultivasi adalah ‘Perspektif transmisional’ dan ‘Perspektif ritual’. Perspektif transmisional memandang media sebagai pengirim pesan ke segala penjuru ruang. Sedangkan perspektif ritual memandang media sebagai perepresentasi keyakinan yang dimiliki bersama. Catatan penelitian Gerbner memberikan contoh metode baru untuk menguji premis dasar dari analisis kultivasi. Teori ini sejak awal memang ditujukan pada televisi. Demikian, adalah tiga asumsi dasar dalam Analisis Kultivasi.

Asumsi Dasar

Pertama, televisi berbeda dengan media lainnya secara esensial maupun fundamental. Televisi tidak membutuhkan kemampuan membaca seperti halnya media cetak, tidak juga seperti radio. Televisi merupakan media yang mampu mengkombinasikan gambar dan suara.

Kedua, televisi menentukan hubungan antar masyarakat dan membentuk pola pikir. Asumsi ini lebih erat kaitannya dengan dampak penggunaan televisi. Gerbner setuju dengan pendapat koleganya. Walter menganggap bahwa pada dasarnya orang hidup dalam sebuah kisah. Namun Gerbner menyatakan bahwa, sebagian besar kisah yang terdapat dalam masyarakat berasal dari televisi, yang nantinya akan membentuk pengarusutamaan (mainstream).

Ketiga, analisis kultivasi menganggap bahwa dampak dari penggunaan televisi sifatnya adalah terbatas. Pergeseran temperatur beberapa derajat mengakibatkan zaman es, demikian adalah apa yang dimaksud dengan analogi zaman es (ice age analogy). Gerbner dan koleganya menganggap bahwa pengukuran dampak jauh lebih tidak penting ketimbang kontribusi televisi terhadap masyarakat, yang sifatnya berkelanjutan.

Produk Analisis Kultivasi

Jika kontribusi televisi terhadap masyarakat sudah berkelanjutan, masyarakat memandang realitas sosial dalam dua cara yaitu, pengarusutamaan (mainstrean) dan resonansi (resonance). Dalam pengarusutamaan maupun resonansi juga terdapat dampak yang terbagi menjadi dua level, yaitu dampak tingkat pertama (first order effect) dan dampak tingkat kedua (second order effect).

Pengarusutamaan merupakan perilaku penonton kelas berat yang cenderung sama dengan penonton lainnya, akan tetapi perilaku tersebut pada dasarnya tidak sesuai dengan realitas sesungguhnya, karena realitas yang mereka yakini adalah realitas dalam kisah televisi. Sedangkan resonansi merupakan, kesamaan antara realitas seseorang -saat ini atau yang sedang dijalani- dengan realitas yang sedang mereka saksikan dalam televisi.

Kemudian, adanya dampak pada tingkat pertama lebih kepada pembelajaran fakta. Misalnya, semula anak-anak melihat tinju bebas ‘Smackdown’, kemudian muncul rasa ingin tahu, bagaimana caranya meninju atau menendang. Contoh lain, semula anak-anak melihat sinetron yang sarat akan hedonisme, kemudian muncul kehendak untuk memperoleh suatu hal secara instan. Akhirnya, dampak pada tingkat kedua merujuk kepada asumsi dan nilai yang ada dalam realitas sesungguhnya, bahkan bisa saja muncul pertanyaan, mengapa, bagaimana atau apa itu media?

Daftar Pustaka :

West. Richard & Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta. Salemba Humanika.

Kominfo.go.id/index.php/content/detail/3464/konvensi+RSKKNI+Produser+TV/O/berita_satker. Diakses pada 10 Agustus 2015 pukul 23.00 WIB.

http://www.nielsen.com/id/en/press-room/2014/nielsen-konsumsi-media-lebih-tinggi-di-luar-jawa.html. Diakses pada 10 Agustus 2015 pukul 23.53 WIB.

Artikel ilmiah ini ditulis oleh Galih Agus Saputra, staf Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Lentera. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fiskom UKSW 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s