Opini

Rapor Merah Pendidikan : Refleksi terhadap Dehumanisasi di Perguruan Tinggi

Rapor Merah Pendidikan

“Dehumanisme dalam bidang pendidikan ditandai dengan berbagai kebijakan, dominasi, dan praktik pendidikan yang dilakukan pemerintah maupun kalangan swasta yang menghasilkan manusia-manusia yang dehumanis, baik dipihak guru maupun anak. Guru tidak lebih hanyalah pawang, komandan, instruktur, dan birokrat yang melaksanakan instruksi yang dikeluarkan birokrasi pemerintahan maupun oleh yayasan pendidikan. Kegiatan yang terjadi di ruang kelas bukanlah kegiatan belajar, melainkan kegiatan untuk mempertahankan ideologi “massa mayoritas”, baik ekonomi, politik, dan agama. Padahal pendidikan harus membebaskan dan memerdekakan. Siswa hanyalah kader-kader politik mini dan calon sumber daya manusia yang disiapkan untuk melaksanakan dan mendengarkan apa yang menjadi kepentingan pemerintah dan kaum usahawan melalui indokktrinasi dan pendidikan gaya bank.”

Satu paragraf yang saya kutip dari buku yang disusun oleh Mangunwijaya IX, “Menghargai Manusia dan Kemanusiaan : Humanisme Y.B. Mangunwijaya”. Buku yang dibuat untuk mengenang kembali sosok Romo Mangun yang meninggal pada tahun 1999, kembali mengingat pemikiran humanisnya. Humanisme Romo Mangun menitikberatkan kepada manusia yang dimanusiakan, maksudnya manusia yang memperlakukan manusia lain secara manusiawi, terlepas dari usia, status, ras, suku, golongan, perlakukan lintas dimensi kemanusiaan. Humanisme mampu mengandalikan dan meminimalisir tindakan tidak adil, keinginan untuk menguasai, mengekploitasi dan memanfaatkan, bahkan dari tindakan yang melanggar HAM. Menurut beliau humanisme adalah perjuangan yang tidak akan ada akhirnya, selalu menuntut pembaharuan kehidupan, pikiran, dan tindakan yang manusiawi dan menghargai kemanusiaan.

Mari kembali merefleksikan humanisasi Romo Mangun dengan dunia  kampus saat ini, seperti posisi dosen dan mahasiswa. Cara mendidik orde baru masih sangat terasa dalam bangku kuliah, yang akhirnya membentuk satu anggapan bahwa dosen mempunyai kewenangan penuh terhadap apapun yang terjadi didalam kelas. Mahasiswa hanya dianggap sebagai obyek didikan dimana superioritas dosen begitu menguasai seakan-akan kebenaran hanya di tangan dosen. Dosen menciptakan jurang pemisah antara mahasiswa yang diajar dengan dirinya sendiri, menciptakan jarak dengan rasa segan karena takut dengan nilai yang buruk yang akan diterima saat tidak sesuai dengan keinginan dosen. Kenapa saya mempunyai anggapan yang demikian? Sebenarnya pendapat saya ini berasal dari pengamatan saya selama saya berkuliah  4 semester,  ada satu kasus menarik yang menjadi dasar analisis saya.

Pada tanggal 7 Juli 2015 masa perkuliahan berakhir, yang berarti semua tugas akhir dalam bentuk paper, makalah, dan ujian tertulis sudah selesai. Mahasiswa dan mahasiswi bernafas lega karena semua beban perkuliahan sudah selesai, sehingga membuat kita bisa sedikit rehat, mengembalikan kembali semangat belajar sambil menunggu nilai dari dosen keluar. Hampir dua minggu kita menunggu nilai keluar, tepatnya batas input nilai dosen tanggal 20 Agustus 2015. Pada semester pendek/antara kita mengambil 15 SKS dengan mengambil 5 mata kuliah, satu persatu nilai keluar namun ada 2 matakuliah sampai jam batas akhir belum juga keluar bahkan keterangan dicantumkan DT yang artinya nilai ditunda. Beberapa dari anak-anak panik karena merasa sudah melakukan kewajiban yang dibebankan dari dosen yang mengampu tapi malah nilainya DT.

Peraturan Penyelenggaran Kegiatan Akademik Dalam Sistem Kredit Semester universitas tersebut mengatur tentang nilai DT, pada pasal 43 ayat 1 berbunyi “nilai ditunda (DT) hanya dapat diberikan kepada mahasiswa yang dengan alasan sah belum dapat mengikuti Tes dan/atau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen/asisten.” Jika mengikuti pasal 43 tersebut, berarti mahasiswa-mahasiswa yang mengambil kedua mata kuliah itu tidak berhak mendapat nilai DT.

Saat ditanyakan pada dosen yang bersangkutan, ternyata ada salah satu dosen yang belum masuk karena dalam menggajar menggunakan sistem team teaching (hampir 5 dosen), sehingga penilaian tidak dilakukan hanya satu orang saja. Dari hari jumat dosen meminta waktu sampai senin, sampai terlewat waktu yang dijanjikan nilai masih saja DT. Padahal kalau dilihat dalam pasal 42 tentang penilaian pada ayat ke 5, “keterlambatan nilai dari dosen : apabila dosen terlambat memasukkan nilai seluruh peserta matakuliah sampai batas waktu yang sudah ditentukan dalam kalender akademik, maka PR 1 melalui Kepala BAA akan mengeluarkan nilai A untuk seluruh mahasiswa peserta kuliah tersebut.” Namun jawaban dari dosen tersebut sangat mengagetkan. Melalui SMS ia mengatakan “masih ada waktu. Saya masih tunggu dari Pak ***.”

Entah sadar atau tidak beliau telah menyalahi aturan yang dibuat dari pihak kampus, dengan memberi nilai DT pada mahasiswa yang sudah mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan padanya. Mahasiswa tidak dapat memberi sangsi dengan kelalaian ini, namun jika mahasiswa yang melakukan kelalaian nilai E menanti, waktu batas akhir sudah ditentukan kelonggaran waktu juga sudah diberikan. Akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa gaya mengajar feodal masih dipraktekkan, dosen yang sudah menyalahi aturan masih saja merasa benar.

Mahasiswa hanya bisa mengeluh di belakang dengan ketidakadilan yang dialami, karena bisa dikatakan masa depannya ada di tangan dosen, Indeks Prestasi yang diterima dapat mempengaruhi pekerjaan yang nantinya dicari. Jadi siapa yang salah sebenarnya? Tidak ada! Tidak ada yang dapat disalahkan, politik pendidikan cetakan orde baru memang melahirkan orang-orang yang bergaya fasisme dan militerisme seperti yang diungkapkan Romo Mangun. Dengan orientasi pendidikan waktu itu hanyalah membentuk manusia pekerja, dengan mengabaikan satu proses menuju kemanusiaan itu sendiri.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki satu gaya mendidik yang feodal? Memang bukan hal yang mudah mengubah cara-cara yang sudah mendarah daging dalam diri manusia-manusia bangsa ini, gaya feodalisme, militerisme, ataupun warisan politik kolonial. Namun tawaran perubahan untuk itu adalah pertama, adanya proses penyadaran yang mengedepankan rasa kemanusiaan, proses penyadaran memerlukan satu sikap terbuka dengan kritik dan masukan dari pihak lain. Karena proses penyadaran ini akan dilakukan oleh orang lain yang cenderung menggurui. Terkadang dari orang-orang cetakan orde baru akan lebih sulit untuk berubah, terkadang pencerahan ini malah banyak terjadi di kalangan anak-anak muda. Pengaruh gaya feodalisme jawa yang meremehkan orang yang lebih muda, pendapatnya tidak didengarkan karena dianggap tidak berpengalaman. Sikap tersebut padahal akan menghambat kaum tua untuk berkembang, seperti yang dikatakan Anis Baswedan, bahwa orang tua yang begitu banyak pengalaman hanya menawarkan mimpi-mimpi masa lalu sedangkan anak-anak muda yang kurang pengalaman menawarkan masa depan.

Kedua, merubah cara pandang atau perubahan mental, perubahan ini dapat terjadi kalau proses penyadaran diterima. Perubahan dari ranah pengertian orang lain diadopsi menjadi pengertian diri sendiri. Disinilah proses perefleksian dan perenungan tentang humanisme terjadi, seperti contoh kasus yang saya ceritakan di atas. Kecenderungan pihak dosen yang melakukan tindak kesewenang-wenangan karena kekuasan memberi nilai apa saja yang dimiliki atas mahasiswanya. Menurut Driyarkara, salah satu orang memperjuangkan pendidikan humanisme menyatakan bahwa pendidikan adalah untuk “memanusiakan manusia”, melalui proses humanisasi, atau bisa disebut dengan pendidikan humaniora. Sama halnya dengan Romo Mangun, “setiap pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan citra-manusianya yang dianut, sehingga tidak pernah netral (Mangunwijaya, 1999d: 95).

Maka bagaimana sesorang memahami manusia dapat mempengaruhi bagaimana orang itu memperlakukan orang lain, karena pendidikan tidak dapat lepas dari orang-orang yang mendidik dan dididik. Setiap sistemnya dipenuhi dengan manusia-manusia yang memiliki kepentingan, sehingga humanisme mengendalikan tindak kesewenang-wenangan dari berbagai pihak, dosen ataupun dari pihak mahasiswa yang terkadang bersikap seenaknya dan tidak menghargai dosen.

Ketiga, berangkat dari penyadaran, refleksi diri, akhirnya akan mendarat menjadi tindakan yang humanis. Posisi egaliter antara mahasiswa dan dosen tidak hanya di luar kelas namun juga saat mengajar di dalam kelas, terutama memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan seperti hak untuk menerima nilai A saat dosen terlambat memasukkan nilai. Dalam kasus ini kesalahan tidak pada mahasiswanya, namun dosen mengakali dengan memberi nilai DT sehingga bisa menunggu nilai dari dosen lain. Kalau ditelisik dosen tidak mengikuti prosedur penilaian dari universitas sehingga sedang terjadi satu proses dehumanisasi. Jika humanisme dikedepankan, bukan jadi penghalang dosen untuk mengakui kelalaiannya dan jika dari pihak mahasiswa yang melakukan kesalahan dengan lapang dada maka menerima konsekuensinya.

Memang segala macam proses harus dilewati, tidak dapat menyalahkan satu dengan yang lainnya karena ini perjalanan panjang menuju manusia yang mampu memanusiakan manusia. Sehingga cita-cita pendidikan yang humanis dapat tercapai, hubungan yang saling menghormati antara dosen dan mahasiswa dapat tercipta. Sehingga proses belajar dan mengajar di kelas bukanlah satu proses dogmatisasi namun dialogis.

Romo Mangun dalam majalah Basis (Januari-Febuari, nomer 47, 1998) mengutarakan gagasan mengenai pendidikan yang komprehensi, pendidikan yang multidimensional. Sehingga pendidikan harus bersifat terbuka ke arah masa depan, mencerahkan dan mengembangkan kebaruan, melawan status quo atau reproduksi dan penerus ide-ide lama, yang oleh Romo Mangun disebut “sosialisasi”. Pendidikan harus mencerdaskan kehidupan dengan memberi kebebasan pada para anak didik. Mereka bukan “tabulasi rasa” yang harus diisi dengan komando, pendiktean, ataupun pendisiplinan top-down. Dimana-mana adanya penyeragaman, brainwashing, formal, dan birokratis dan kurang memberi ruang bagi kreativitas anak didik dan menekan kreativitas,ekplorasi, penyadaran dan kemampuan diri. Perlu adanya perbaikan sistem pendidikan, hubungan antara dosen dan mahasiswa harus diperbaiki dalam situasi kekeluargaan.

Kampus adalah tempat dimana para anak-anak muda, penerus bangsa dibentuk. Berbagai macam idealisme, karakter, dan pola pikir ada didalamnya, tugas dosen adalah melahirkan orang-orang yang memiliki nilai-nilai humanisme seperti yang dicita-citakan Romo Mangun dalam pendidikan humanistisnya, dengan nilai-nilai pendidikan mencetak manusia-manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, memiliki pemikiran yang merdeka, tidak ada ketakutan untuk berkreatifitas, memunculkan kepercayaan diri untuk berekplorasi, sehingga pendidikan di berbagai tingkat memang mencetak manusia-manusia yang manusiawi. Karena kepintaran tanpa rasa kemanusiaan sikap sadistis yang terlahir, dapat ditarik benang merah bahwa dosen perlu menyadari bahwa dirinya memegang peran penting dalam mencetak manusia lain, saat meperlakukan mahasiswa dengan rasa kemanusiaan maka anda sedang mencetak orang-orang yang humanis, bukan orang-orang pintar yang sadis, yang bisa memanfaatkan bahkan mengekploitasi orang lain dengan pengetahuan yang dimiliki. Sebenarnya ada beberapa sikap dari dosen yang seenaknya sendiri, namun cukup hanya satu yang saya ambil sebagai kasus untuk analisa saya. Tapi sekali lagi tidak ada pihak yang disalahkan. Kita perlu merefleksikan kembali setiap nilai-nilai kemanusian yang dipahami.

Opini ditulis oleh Arista Ayu Nanda, Pemimpin Umum LPM Lentera. Mahasiswa Sosiologi 2013 Fiskom UKSW.

Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan

2 thoughts on “Rapor Merah Pendidikan : Refleksi terhadap Dehumanisasi di Perguruan Tinggi

  1. Menarik. Kampus, dimana2, bukan hanya di Indonesia, telah berevolusi menjadi sebuah organisme dengan tujuan melestarikan agen-agen pendirinya sendiri, bukan lagi menjadi tempat persemayaman ide. Dengan demikian, terjadi relasi kekuasaan antara super sistem dan subsistem. Super sistem dikuasai menteri, rektor, dan dosen dengan mahasiswa dan pegawai sebagai sub sistem. Kedua sistem ini tidak dirancang untuk memajukan kemanusiaan melainkan hanya sekadar melestarikan sistem yang sudah ada.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s