Uncategorized

Mewujudkan Satya Wacana yang Egaliter

123

Pernah menonton film Accepted (2006)? Film ini mengisahkan tentang mahasiswa di Amerika Serikat yang mendirikan kampus sendiri, atas dasar akumulasi rasa muak mereka terhadap perguruan tinggi di sana. Mereka juga sering kali ditolak perguruan tinggi tempat mereka mendaftar.

Beberapa mahasiswa baru 2015 yang diwawancarai oleh Lentera juga mengaku bahwa dirinya ditolak kampus lain, lalu mendaftar di UKSW. Misalnya, beberapa ditolak di UGM, Unair dsb. Memang, kami tidak bermaksud untuk menggeneralisirkan, karena memang tidak semua mahasiswa baru adalah mahasiswa yang tidak diterima di kampus lain. Namun, kami hanya bermaksud untuk dapat memberikan gambaran yang mendalam mengenai isu tersebut. Demikian, hasil yang kami temukan adalah UKSW memang menjadi kampus pelarian bagi mereka yang tidak diterima oleh kampus lain. (Lihat : Ditolak Kampus Lain, Tetap Bangga di UKSW)

Satu asumsi yang dapat kita lempar adalah, UKSW memang jarang menjadi kampus idaman oleh para lulusan SMA sederajat di Indonesia. Termasuk saya. Entah karena sarana dan prasarananya, atau mutu akademik dan prestasi yang pernah diraih. Lha wong, UKSW diliput media saja jarang.

Banyak yang perlu kita evaluasi dari penyelenggaraan pendidikan di UKSW. Namun demikian, saya pernah mendengar bahwa sekolah itu hanya untuk orang bodoh (school for fool). Karena saya bodoh, maka saya sekolah. Sebagai sebuah institusi pendidikan, UKSW harusnya mendidik orang-orang bodoh macam saya agar menjadi pintar. Bukankah memang demikian fungsi sebuah perguruan tinggi?

Kita tidak perlu meniru kampus lain yang tertutup dan terkesan elitis karena menerima mahasiswa-mahasiswa khusus, pintar dan berprestasi. Kenapa? Itu sebuah pengkhianatan terhadap fungsi pendidikan itu sendiri. Itu bertentangan dengan tut wuri handayani. Mereka bisa saja berhasil bukan karena penyelenggaraan pendidikannya, tapi karena memang mahasiswanya sudah pintar dari sononya.

Karena itu, UKSW harus terbuka bagi segala golongan dan kelas. Terlepas dari apakah mereka berniat masuk ke dalamnya atau tidak. Terlepas apakah mereka pintar atau tidak. Terlepas dari kepentingan pihak kampus akan pemasukan yang besar dari mahasiswa yang mendaftar (sehingga semuanya diterima), atau tidak.

Alangkah menyenangkan jika UKSW berhasil bukan karena mendidik orang-orang pintar, tetapi karena mendidik orang-orang bodoh. Jadi, mari kita sambut mahasiswa baru dengan tangan terbuka. Selamat datang saudaraku di kampus Satya Wacana.

Editorial oleh Bima Satria Putra, Pemimpin Redaksi LPM Lentera dan mahasiswa jurnalistik 2013 Fiskom UKSW.

Penyunting : Galih Agus Saputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s