Kampus

Dilema Kunjungan Media

Ruang kontrol stasiun televisi (Foto: politico.com).

Ruang kontrol stasiun televisi (Foto: politico.com).

Dewi Kaes : Bangkitkan Keingintahuan Mahasiswa

Kanfak Fiskom seperti tidak pernah libur. Suara dimana-mana. Dari teriakan mahasiswa, jerit frustasi para dosen, hingga canda tawa pegawai tata usaha. Sedikit terasa berlebihan, tetapi itu yang kami dengar beberapa hari belakangan. Hal semacam ini mungkin sudah sering terjadi. Hanya saja kami saat itu masih terlalu malas untuk peduli.

Tanda tanya besar bagi kami mengenai kunjungan media adalah penetapan status wajib ikut serta bagi seluruh mahasiswa komunikasi 2013 dan konversi kegiatan tersebut dengan beberapa mata kuliah seperti hukum media massa, visualisasi dan copywriting, grafis jurnalistik, serta tata cahaya dan artistik.

Menanggapi hal tersebut, Mbak Dewi, Kaprodi Ilmu Komunikasi mengungkapkan bahwa semua itu dilakukan fakultas demi kebaikan mahasiswa. “Awal diadakannya kunjungan media memang agar mahasiswa melihat langsung seperti apa media di luar sana. Diharapkan dengan itu, mahasiswa bisa belajar dan membuka mata mereka tentang kondisi media saat ini. Sehingga mahasiswa kita tidak tertinggal karena tantangan yang akan mereka hadapi tidak hanya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi seluruh Indonesia melainkan juga Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),” ujarnya.

Mbak Dewi menyayangkan antusiasme dan keinginan mahasiswa untuk melihat realita media dari tahun ke tahun mulai menurun. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk mewajibkan kunjungan ini bagi mahasiswa Fiskom angkatan 2013. “Awal mula kunjungan media sebenarnya dari keingintahuan mahasiswa sendiri yang begitu besar sehingga mereka merasa perlu untuk belajar dan melihat media di luar seperti apa. Namun lambat laun keingintahuan yang besar itu tidak kami dapatkan kembali pada mahasiswa,” jelasnya.

Membahas soal kunjungan media, kami teringat pada obrolan singkat kami dengan beberapa mahasiswa yang saat itu sedang menunggu kelas. Kami bertanya pada mereka tentang apa yang mereka tahu tentang kunjungan media. “Menurutku sih kegiatan itu sah-sah saja. Lagipula kan kita bisa tahu media di luar sana seperti apa,” ujar Rio Hanggar Dhipta, Mahasiswa Fiskom 2014.

Namun di balik dukungannya terhadap kunjungan media, Rio merasa sedikit keberatan dengan peraturan yang mewajibkan kunjungan media bagi mahasiswa. “Kalau diwajibkan sih agak gimana ya… kan kasihan teman-teman yang ngga bisa ikut karena ngga ada biaya,” tambahnya.

Sementara itu, Bima Satria Putra mahasiswa Jurnalistik angkatan 2013 yang tidak mengikuti kunjungan media tahun ini menyatakan bahwa kunjungan media baginya dirasa tidak perlu. “Aku sudah punya gambaran mengenai kantor dan manajemen redaksi seperti apa. Lagipula, aku sudah pernah mengunjungi media-media lain. Tetapi alasan utama aku tidak ikut kunjungan media adalah karena aku ragu kalau aku bakal menguasai grafis jurnalistik dan hukum media massa hanya dengan mengikuti kunjungan media,” jawabnya ketika dihubungi melalui Facebook.

Wajib, tapi…

“Komunikasi dibagi menjadi tiga jurusan yakni jurnalistik, periklanan, dan penyiaran. Biasanya mahasiswa belum tahu mengenai kriteria untuk memilih jurusan, karena dunia ini itu masih abu-abu. Dengan adanya kunjungan media mereka mendapatkan gambaran mengenai jurusan yang akan mereka tuju nantinya,” ujar Sampoerno salah satu dosen Fiskom dengan tatapan tajam penuh ketegasan.

Sampoerno berharap bahwa kunjungan media itu wajib agar mereka memperoleh bayangan industri dunia media. Dengan catatan, lembaga yang dikunjungi bukan asal lembaga dan bisa dipertanggungjawabkan. Sebabnya, pada kali ini mahasiswa yang memilih ingin pergi kemana dan agen yang akan digunakan.

Lelaki itu adalah Alex, mahasiswa fiskom angkatan 2013 yang merupakan Ketua Panitia Kunjungan Media. Alex mengatakan bahwa, mahasiswa 2013 telah diberitahu mengenai kunjungan media dan diminta untuk menabung karena kunjungan media ini penting. “Kemudian teman-teman angkatan mengatakan, jika ini memang acara fakultas, mengapa mahasiswa tidak dibantu saja dengan subsidi?” ucap Alex. Akhirnya, mahasiswa mengadakan pertemuan dan memutuskan bahwa tujuan kunjungan media adalah ke Surabaya dan Bali.

Alex mengaku kesusahan menyatukan pendapat peserta kunjungan media. “Karena kita membawahi 102 mahasiswa yang memiliki beragam karakter, maka banyak pula keluh kesahnya. Bahkan ada yang mengganggap bahwa kunjungan media ini hanya main-main, sehingga lebih baik membuat talkshow saja. Akan tetapi dosen menolak hal tersebut karena fakultas sudah menghadirkan praktisi tiap tahunnya. Permasalahan juga timbul ketika memilih biro perjalanan dan lokasi hotel,” curhat Alex dengan nada pelan dan kening yang mengerut.

Menanggapi hal tersebut, Anggun Wulandari, mahasiswi Fiskom angkatan 2011 sangat mendukung tindakan fakultas yang mewajibkan kunjungan media bagi mahasiswa. Sebab menurutnya, uang tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengalaman yang didapat selama mengikuti kunjungan media. “Itu kalau mereka benar-benar mengikuti kunjungan media dengan serius. Bukan cuma jalan-jalan doang,” ucapnya diiringi tatapan jahil.

Ditulis oleh Rahayu Pawarti dan Billiam Simon, mahasiswa Fiskom UKSW 2014.

Penyunting: Andri Setiawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s