Bincang / Ragam

May Lan : Pers Mahasiswa Korban Kapitalisasi Pendidikan

A

Beda generasi, beda pula dinamika mahasiswanya, dan itu berdampak pula pada pers mahasiswanya. Begitu kira-kira May Lan, dosen tamu Sosiologi Komunikasi di Fiskom UKSW, menjelaskan dinamika pers mahasiswa saat ini. Dulu, May sempat singgah sejenak di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil, Unika Soegijapranata. Kemudian ia banting setir ke Fakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris, Undip. Selama empat tahun (1992-1996) di Undip, May bergabung dengan pers mahasiswa fakultas sastra, Hayamwuruk dan pers mahasiswa tingkat universitas, Nafiri.

Setahun menjadi penerjemah dan penyunting buku ilmu pengetahuan populer di sebuah penerbit di Semarang, May melanjutkan studi S2 di Fisipol Jurusan Sosiologi UGM (1997-2000). Selama menempuh studi sempat menjadi penerjemah dan penyunting lepas di sebuah penerbit di Yogyakarta. Dinamika kehidupan anak jalanan dan kesenian tradisional di kota Gudeg turut memperkaya pemahaman dan pemaknaan terhadap kehidupan. Turut merasa mengantongi sejarah ketika berada dalam long march sejuta rakyat Yogyakarta, sehari sebelum berakhirnya rezim Orde Baru. Pada 2002, May menelurkan satu buku berjudul Pers, Negara dan Perempuan. Beruntung, May berkenan diwawancarai Lentera. Berikut wawancarannya.

***

Menurut May, dimana posisi dan peran pers mahasiswa pasca-Orde Baru?

Saya kira pers mahasiswa sekarang berbeda dari pers mahasiswa sebelum reformasi. Perbedaan tersebut tidak terlepas dari tantangan jaman yang berbeda. Masa Orde Baru, pers mahasiswa –bersama dengan para aktivis  mahasiswa, aktivis pers, dan aktivis LSM—menghadapi musuh bersama, yaitu pemerintahan otoriter Orde Baru. Jadi, resistensi kami terhadap pemerintah sangat kuat waktu itu. Saya bergabung dengan Hayamwuruk, pers mahasiswa Fakultas Sastra Undip, yang boleh jadi saat itu menjadi salah satu barometer pers mahasiswa di Jawa Tengah dan mencoba untuk selalu bersikap kritis. Meskipun pers mahasiswa,  kami menjalankan  kerja-kerja jurnalistik laiknya pers pada umumnya. Satu hal penting, kami mencoba untuk menjalankan peran pers sebagai pilar keempat demokrasi. Kami mencoba setia untuk berpihak pada kebenaran dan hati nurani. Bisa jadi pers mahasiswa pada masa Orde Baru memainkan peran strategis seiring dengan dinamika pergerakan mahasiswa di  kampus. Peran itu sepertinya belum dimainkan secara cantik oleh pers mahasiswa dewasa ini.

Apa permasalahan utama pers mahasiswa sekarang?

Permasalahan utama pers mahasiswa sekarang tidak terlepas dari konteks sistem kapitalisasi pendidikan yang begitu mewarnai wajah pendidikan di negeri kita. Pasca-Orde Baru, kalau militer mengalami kondisi back to barrack, maka saya kira mahasiswa juga  mengalami hal yang sama, terpenjara dalam “menara gading”. Selain itu, jaringan  antar-mahasiswa dan antar-kampus sekarang begitu lemah. Jaringan yang lemah itulah yang menjadi kendala bagi mahasiswa, khususnya pers mahasiswa, untuk menjalankan peran strategis, apalagi untuk menjadi pilar keempat demokrasi di kampus.

Apa penyebabnya?

Seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Kapitalisasi pendidikan dan lemahnya jaringan antar-mahasiswa dan antar-kampus menjadi penyebab “kemandulan” pers mahasiswa untuk bersikap kritis dan memiliki bargaining position dalam dinamika  kehidupan di kampus.

Bagaimana cara mengatasinya?

Saya ingat ucapan Martin Luther yang menyebutkan bahwa freedom is never  voluntarily given by the oppressor, it should be demanded by the oppressor. Artinya, kita tidak pernah bisa mengharapkan pihak lain untuk memberi ruang kebebasan yang memadai untuk kita, selain kita sendiri yang mengusahakan ruang tersebut. Kalau teman-teman pers mahasiswa merasa terbatas dalam menjalankan peran sebagai pilar keempat demokrasi di kampus, maka unveil our mind, membuka selubung pemikiran merupakan langkah awal yang dapat  ditempuh untuk menuju ke sana. Berangkat dari kesadaran bahwa memang ada yang tidak beres dengan kondisi kampus yang seolah-olah “menjinakkan” mahasiswa, memang tidak semudah membalik telapak tangan.

Apa harapan May terhadap pers mahasiswa saat ini?

Saya berharap pers mahasiswa semakin mengenali posisi, peran, dan tanggung jawab sesuai dengan konteks jaman. Setiap generasi, saya percaya, memiliki tantangan yang berbeda. Tugas teman-teman pers mahasiswa adalah mengenali dan menanggapi berbagai tantangan, yang saya pikir, tidak kalah seru dengan tantangan yang harus dihadapi oleh teman-teman pers mahasiswa era sebelumnya. Dari situ akan memicu perubahan-perubahan, yang menyitir ucapan mendiang Loekman Soetrisno, pada momentum yang tepat. Semoga! •

Iklan Lentera 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s