Salatiga

Legislatif Usul Salatiga Sesuaikan Batas Wilayahnya

12244386_1080020462022413_8460262397328983060_o

Pasar Raya di Kota Salatiga (Foto : Andri Setiawan).

Sulistya, Kabag Pemerintahan Setda Kota Salatiga, menepis isu bahwa enam wilayah Kabupaten Semarang akan diambil Kota Salatiga. “Tidak ada pencaplokan (pemekaran -red). Tetapi ada kemungkinan kalau penyesuaian batas wilayah.  Ini masih wacana dari legislatif, karena eksekutif belum memutuskan apa-apa,” ujar Sulistya, Kamis (12/11). Menurutnya, Pemkot Salatiga saat ini lebih fokus kepada pelayanan publik dan peningkatan SDM.

Undang-Undang 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah telah mengatur mengenai penataan daerah sebagaimana di dalam pasal 31, ayat 1 mengenai pembentukan daerah dan penyesuaian daerah. Pembentukan atau pemekaran daerah adalah pemecahan atau penggabungan daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota menjadi dua atau lebih daerah baru dengan memenuhi berbagai persyaratan.

Sedangkan penyesuaian daerah dapat berupa perubahan batas wilayah daerah, perubahan nama daerah, pemberian nama dan perubahan nama bagian rupa bumi, pemindahan ibu kota dan atau perubahan nama ibu kota. Biasanya penyesuaian terjadi karena adanya peluberan fasilitas yang banyak dipakai daerah yang berdekatan. “Jadi antara pemekaran sama penyesuaian daerah itu berbeda. Jangan sampai salah persepsi, nanti bikin kacau kayak di media-media,” celetuk Sulistya.

Penyesuaian diwacanakan sebagai bentuk antisipasi Salatiga pada 2020 yang diprediksi akan kesulitan mendapatkan lahan pertanian dan lahan untuk membangun rumah. Sehingga dibutuhkan perluasan wilayah secara geografis, salah satunya dengan penyesuaian yang secara kultural telah menyatu dengan wilayah-wilayah Salatiga.

Tim Pusat Kajian Kependudukan dan Pemukiman (PKKP) dari UKSW melihat ada beberapa wilayah di Kecamatan Tuntang, Getasan, Pabelan, Suruh, dan Tengaran, yang dapat masuk ke wilayah Salatiga. Wacana penyesuian wilayah Salatiga disebabkan oleh beberapa hal. Antara lain karena banyaknya fasilitas Kota Salatiga yang dipakai oleh masyarakat luar kota Salatiga, seperti pendidikan, kesehatan, dan perdagangan. Kemudahan akses fasilitas di Salatiga dan kedekatan teritorial menjadi pilihan utama.

Selain itu, Sulistya menjelaskan bahwa masalah gengsi juga menjadi alasan penyesuaian wilayah tersebut. “Coba saja jika orang Kopeng ditanya asal wilayahnya, pasti jawabannya ‘ya orang Salatiga’. Tapi itu saja tidak cukup, karena urusannya dengan administrasi kependudukan,” imbuh Sulistya.

Berita ini ditulis oleh Arista Ayu Nanda, Pemimpin Umum LPM Lentera, mahasiswa Sosiologi Fiskom UKSW.

Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan Lentera 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s