Salatiga

Pasar Kecil di Trotoar Jalan

_MG_1401

Dyah sedang menata dagangannya.  Foto : Agus Handoko

Panas udara sore terasa begitu menyengat,  ibu bertubuh agak tambun sedang menata dagangannya. Isi kardus dia keluarkankan, berisi kue-kue kering, jajanan, minuman botol, dan toples berisi rokok. Ukurannya kardus yang besar membuatnya sedikit kerepotan untuk memindahkan barang dari mobil ke meja ditrotoar. Sedikit ganjil, sekeliling pasar sudah dipagari zeng yang menyisakan trotoar untuk penjalan kaki.

Spanduk bertuliskan “Pedagang Pasar Rejosari Salatiga Pindah Ke TPS Belakang Pasar”. Tampaknya Dyah tidak mau ambil pusing, dibantu makelar angkot dengan enteng menggelar dagangan. “Buat tambah-tambah penghasilan, kalau cuma ngandelin dibelakang (tempat relokasi –red) tidak cukup,” begitu komentar perempuan bernama Dyah, Sabtu(11/9).

Setelah mengorek keterangan dari beberapa pedagang memang sejak 1 september 2015 pedagang sudah mengosongkan pasar dan berpindah ke tempat relokasi. Memang wajar kalau ada pedagang yang setuju dan tidak setuju dengan berpindah tersebut, dengan berbagai macam alasan. “Penghasilan tidak sebeberapa ditambah kebutuhan untuk uang sekolah anak dan makan keluarga sedikit. Kalau tidak begini mau makan apa,” begitulah tutur ibu separuh baya, tampak matanya yang berkaca-kaca.

Perpindahan pedagang berjualan di depan sendiri hanya terjadi pada sore hari dan kembali berjualan ke areal TPPS paginya, larangan tegas aparat agar tidak berjualan ditrotoar jalan pada pagi hari. “Tidak boleh pagi, nanti digusur Satpol-PP. Kalau sore boleh setelah jam 4, tidak menganggu lalu lintas,” ujar Dyah. Ternyata Dyah tidak sendiri, ada beberapa pedagang yang memilih berjualan dua kali bahkan ada yang berhenti berjualan karena keuntungan menurun drastis.

Dengan padatnya arus lalu lintas bang jo pasar Sapi, mereka mencoba peruntungan untuk mendongkrak nilai omsetnya yang terpuruk. Pada akhirnya para pedagang sangat berharap proses revitalisasi ini belangsung dengan cepat agar perputaran ekonomi Pasar Rejosari, Salatiga kembali stabil. “Biar kita bisa jualan lagi, di tempat yang layak. Tidak seperti ini, di jalanan,” tandas Dyah.

Penulis : Agus Handoko, Jurnalis Foto dan Ilustrator Lentera.

Foto : Agus Handoko

Penyunting : Arista Ayu Nanda

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s