Salatiga

Perempuan Rentan Perubahan Iklim

Kekeringan yang melanda pati (Foto : patinews.com).

Kekeringan yang melanda pati (Foto : patinews.com).

Ahmad Badawi, Direktur Yayasan Lingkar Studi Kesetaraan Aksi & Refleksi (YLSKAR), menyatakan bahwa kelangkaan air mempengaruhi perempuan, karena perempuan membutuhkan lebih banyak air ketimbang laki-laki. “Mereka (perempuan –red) membutuhkan air untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan memandikan anak. Selain itu, air sangat penting untuk kesehatan reproduksi mereka saat menghadapi menstruasi dan kelahiran,” ujar Badawi dalam Sosialisasi Lembar Kebijakan, Sabtu (14/11).

Sosialisasi yang berlangsung selama empat jam tersebut membahas mengenai ‘Advokasi Kebijakan Hak & Kesehatan Seksual & Reproduksi dan Perubahan Iklim di Jawa Tengah’. Sosialisasi yang bertempat di pendopo YLSKAR, Blondo Celong, Salatiga, diselenggarakan atas kerjasama Arrow, Yayasan Jurnal Perempuan dan Pusat Penelitian & Studi Gender UKSW. Berbagai elemen dari LSM, mahasiswa dan instansi pemerintahan di Jawa Tengah turut menghadiri sosialisasi tersebut.

Sosiliasasi Lembar Kebijakan HKRS dan Perubahakan Iklim di sekretariat YLSKAR (Foto : Bima Satria Putra).

Sosiliasasi Lembar Kebijakan HKRS dan Perubahakan Iklim di sekretariat YLSKAR (Foto : Bima Satria Putra).

Perempuan dan Bencana Alam

Bercermin pada kasus tsunami Aceh, terlihat bahwa perempuan juga sangat rentan dalam menghadapi bencana alam. “Perempuan tidak bisa dan tidak terbiasa untuk berenang. Sebab di Aceh, berenang masih dianggap sebagai kerjaan laki-laki,” ungkap Badawi. Akibatnya, tsunami Aceh menelan korban perempuan dan anak yang cukup besar.

Gempa Yogyakarta yang memakan banyak korban perempuan juga sempat menjadi bahan diskusi. Laki-laki bekerja ke sawah atau di luar rumah, sementara perempuan bekerja di rumah. Ketika gempa terjadi, banyak perempuan tewas tertimbun bangunan dan alat rumah tangga.

Oleh karena itu, pemerintah perlu untuk lebih menyiapkan manajemen resiko bencana yang menekankan perlindungan dan peran aktif perempuan. Ketika bencana terjadi, pemerintah dan relawan perlu mengantisipasi kebutuhan perempuan, misalnya pembalut dan susu anak.

Dewi Candraningrum, Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan menekankan pentingnya menginformasikan Hak & Kesehatan Seksual & Reproduksi dan perubahan iklim kepada publik. “Selain itu, aliansi penelitian dari universitas perlu dibangun untuk memperbarui penelitian mengenai perempuan dan perubahan iklim,” tekannya.

Setiap peserta dari berbagai perwakilan organisasi diminta komitmennya untuk terlibat aktif dalam melakasanakan tujuan dari aliansi tersebut. Tujuan utamanya adalah mendorong kebijakan perubahan iklim yang sensitif gender. Hal ini dapat dicapai misalnya dengan memasukan pendidikan seksual yang komprehensif ke dalam kurikulum sekolah atau judical review UU 1/1974 tentang Perkawinan.

Berita ini ditulis oleh Bima Satria Putra, Pemimpin Redaksi LPM Lentera.

Penyunting Tamu : Arya Adikristya Nonoputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s