Kampus

Silang Pendapat Fasilitas Berbayar

Kamera KampusKamis sore, matahari bersembunyi di balik awan mendung. Di depan kantor Fiskom, Lentera tengah menunggu Sih Natalia Sukmi untuk menanyakan tentang peraturan fasilitas Fiskom yang berbayar. Saat Natalia datang, Lentera  diajak berdiskusi ke kantornya.

Menurut Natalia, peraturan ini dibuat untuk menjamin perawatan alat yang ada di lab Fiskom. “Mahasiswa masih ngawur dalam menggunakan alat. Oleh karena itu, menjadi pertimbangan kami untuk meminjamkan kamera dengan berbayar, agar mereka dapat menghargai dan dapat menjaga alat tersebut,” ujar Natalia.

Pada dasarnya, lab digunakan untuk proses pembelajaran mahasiswa. Setiap kegiatan yang berbau pengajaran seperti kelas produksi, itu tidak berbayar. “Nah, lain jika itu di luar kegiatan perkuliahan, maka harus berbayar,” ucap Kepala Laboratorium Fiskom tersebut.

Selain itu, kebijakan tersebut diberlakukan karena KBM mendapatkan aliran dana dari SMF. “Asumsinya, setiap KBM telah diberi uang produksi. Lagi pula, keputusan ini adalah hasil Rapat Dinas Fiskom,” ujar Natalia.

Sebelumnya, fakultas telah melakukan studi banding ke Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) UKSW. Fakultas tersebut juga memberlakukan hal yang sama. “Fakultas berencana untuk membuat unit usaha. Kami sedang menuju ke sana,” jelas Natalia.

Peraturan ini masih dalam proses dan masih perlu disempurnakan. “Namun, bila ada KBM yang maju dalam perlombaan, maka akan difasilitasi,” ujar Natalia. Kebijakan ini akan disahkan pada Desember 2016. Walau demikian, kebijakan tersebut sudah diterapkan sejak dua bulan terakhir.

***

Lentera kemudian menemui Bryan Perdana, Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom). Bryan membuka obrolan dengan pernyataan ketidaksetujuannya mengenai peminjaman kamera yang dikenakan biaya. “Sangat, sangat, tidak setuju! Aku punya kamera, tapi belum tentu teman-temanku yang mau berkembang juga punya kamera,” ungkapnya.

Bryan mengetahui peraturan ini, saat dia dan teman-teman Cofila akan meminta izin untuk meminjam kamera kepada fakultas. Dirinya mendapatkan hal yang mengejutkan. Setiap kamera dikenakan biaya 100 ribu rupiah.

Pernyataan ketidaksetujuan juga keluar dari mulut ketua KBM Comic, Sandy Cornelius. Di sela-sela kesibukannya memimpin rapat Comic, Lentera menjumpainya di Lab Terpadu Fiskom. Bagi Sandy peraturan ini sangat memberatkan KBM-nya, karena Comic sangat membutuhkan kamera. “Kalau tidak ada kamera, Comic hanya melakukan sharing saja, bukan praktek. Jadinya malah menghambat perkembangan mahasiswa,” keluh Sandy. Sandy juga mengeluh karena fakultas kurang menyosialisasikan kebijakan ini.

Robertus Adi Nugroho, mahasiswa Fiskom, berharap agar fasilitas tersebut tidak perlu disewakan ke mahasiswa. Walaupun dipinjam, persyaratannya perlu diperketat. “Misalnya dengan surat pernyataan atau penahanan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM –red),” ujar Adi. Menurutnya, sudah menjadi konsekuensi fakultas jika kamera rusak karena proses belajar mahasiswa.

Berita ini ditulis oleh Windy Sulistiowati, Ruth Novita Lusiani dan Alexio Alberto Cesar.

Ilustrasi dikerjakan oleh Christian Adi Candra.

Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan

3 thoughts on “Silang Pendapat Fasilitas Berbayar

  1. Ping-balik: Mahasiswa Fiskom Tuntut Hentikan Komersialisasi Fasilitas | Lentera

  2. Ping-balik: Tri Tuntutan Mahasiswa Fiskom | Indonesian News Channel

  3. Ping-balik: Dekan Tolak Bertemu, Mahasiswa Fiskom Aksi Damai | Lentera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s