Forum

Feminim, Maskulin dan Korban Stigma Gender

36579_10150846712897862_503102861_9559828_1420983096_n

Sering kali ada kekeliruan cara pandang laki-laki dalam melihat pergerakan feminis. Anggapan bahwa pergerakan feminis adalah pergerakan perempuan yang ingin menjadi setara dengan laki-laki, harus dibuang jauh-jauh. Pergerakan feminis dilatarbelakangi oleh ketidakadilan dan kekerasan yang mengatasnamakan seks atau gender. Hal tersebut bisa saja terjadi di dunia pendidikan, ketenagakerjaan, keluarga, dan kehidupan bermasyarakat. Menurut Linda Gordon, salah seorang feminis Amerika, feminisme juga berarti suatu analisis terhadap subordinasi perempuan untuk tujuan mencari tahu bagaimana mengubahnya. Bagi Gordon, feminisme juga berarti berbagai dorongan dalam hati untuk meningkatkan kuasa dan otonomi perempuan, komunitas, dan masyarakat.

Jadi perjuanganya, bukanlah menjadi setara dengan laki-laki namun memperjuangkan haknya sebagai manusia seutuhnya dengan hakikat yang sama dengan apa yang diterima laki-laki. Kebudayaan patriarki mendistorsi perempuan sampai titik batas, yang mana perempuan hanya dianggap sebagai obyek dan laki-laki sebagai subyek, sehingga melegitimasi berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan. Namun benarkah laki-laki dengan legitimasi kebudayaan tidak mengalami opresi? Atau sebenarnya opresi yang terjadi karena kebudayaan yang diciptakannya sendiri?

Perempuan dalam budaya partiarki

Gender menjadi garda depan adanya pembagian status dan peran dalam masyarakat antara perempuan dan laki-laki, yang menimbulkan adanya hierarki hubungan keduanya menjadi benih kekerasan dan ketidakadilan yang dialami perempuan. Mungkin kita bingung dengan apa yang membedakan gender dengan seks. Secara sederhana, seks adalah jenis kelamin yang ada di antara dua kaki yang artinya menjadi kodrat yang tidak dapat diubah oleh manusia. Sedangkan gender adalah apa yang ada di dalam kepala seseorang yang akhirnya menimbulkan persepsi dan pola perilaku masyarakat yang dikaitkan antara laki-laki ataupun perempuan.

Pendiskriminasian terhadap salah satu seks atau gender berawal dari pemikiran bahwa yang mengatakan bahwa manusia utuh adalah mahluk yang menggunakan rasio. Sedangkan perempuan, karena lebih banyak menggunakan perasaan maka dianggap tidak rasional, sehingga anggapan perempuan sebagai manusia yang setengah (a half human) atau manusia yang tidak sempurna. Demikian juga, filsuf sejak ribuan tahun yang lalu, misalnya Aristoteles, menyebarkan ajarannya yang mengatakan bahwa laki-laki menguasai perempuan karena jiwa perempuan memang tidak sempurna. Immanuel Kant juga sulit dipercaya bahwa perempuan punya kesanggupan untuk mengerti prinsip-prinsip. Schopenhauer menjelaskan bahwa perempuan dalam segala hal terbelakang, tidak sanggup berpikir dan berefleksi. Pendapat Spock, menyebutkan bahwa perempuan pada hakikatnya hanya dapat mengerjakan sesuatu yang diulang-ulang, pekerjaan tidak menarik, merasa bahagia kalau tidak agresif tidak hanya secara seksual namun juga dalam kehidupan sosial, pekerjaan, dan tugasnya sebagai ibu.

Ide bahwa perempuan lebih ’lemah’ dari laki-laki disebarkan juga melalui agama-agama besar dunia.

Ide bahwa perempuan lebih ’lemah’ dari laki-laki disebarkan juga melalui agama-agama besar dunia. Budiman memberi contoh tentang ajaran yang mengatakan perempuan terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Bahkan ada doa pagi dari penganut agama tertentu yang isinya pujian dan ucapan syukur pada pencipta karena tidak dilahirkan sebagai perempuan. Contoh lainnya adalah agama tertentu mengajarkan pula bahwa laki-laki lebih berkuasa dari wanita karena sifat-sifat yang diberikan Tuhan pada mereka memang demikian adanya dan banyak lagi pendapat yang melemahkan posisi perempuan dalam berbagai ajaran agama. Dengan begitu perempuan dianggap tidak bisa memimpin, tidak boleh sekolah, dan dikekang oleh kuatnya kebudayaan yang menambah ketidakberartian perempuan. Di Jawa perempuan hanya dianggap sebagai konco wingking atau teman belakang. Sedangkan di Batak anggapan anak laki-laki sebagai penerus marga membuat kehadiran anak perempuan tidak mempunyai arti banyak. Bisa dilihat kebudayaan sendiri telah melegitimasi kekuasaan partiarki sehingga semua dianggap biasa dan sah-sah saja.

Masalah gender adalah masalah kebudayaan dan cara pandang masyarakat yang mengakar kuat dalam nadi, sehingga kadang tidak disadari oleh mereka yang menjadi pelaku, bahkan korban. Ada banyak cerita dan kisah yang akhirnya mengutuk stigma masyarakat yang mengerikan terhadap perempuan, termasuk dalam masalah yang terkotak-kotak, yang mana ada batas-batas yang sangat jelas diantara laki-laki dan perempuan.

Seorang perempuan harus bertingkah sebagaimana perempuan pada umumnya. Mereka harus pandai mengurus rumah tangga, anggun, tidak banyak polah tingkahnya dan tunduk pada otoritas suami atau keluarganya. Sedangkan laki-laki harus menjadi seorang yang tangguh, pemimpin yang tegas, pelindung yang kokoh dan dinilai harus mampu menghidupi keluarganya nanti. Kedua bentuk di atas tidak bisa dicampur adukkan. Sebagai contoh, masyarakat kurang bisa menerima jika mempunyai pemimpin perempuan, karena itu bukanlah tugas perempuan.

Hal ini membawa perempuan pada beban sosial tersendiri di tengah budaya partiarki ini, yang selalu menyudutkan peran perempuan dalam masyarakat atau bahkan mendiskriminasi. Memang kondisi diskriminasi perempuan tidaklah sekentara dulu. Karena di era global ini nampaknya hal-hal yang dulu dianggap tabu bagi perempuan sekarang sudah terdobrak dengan kemajuan. Sebagai contoh, saat ini perempuan bisa dengan bebas mengenyam pendidikan, bekerja, menduduki beberapa tempat di partai politik dan menjadi pemimpin. Meskipun dalam hal kepemimpinan perempuan masih menjadi masalah yang serius di Indonsesia. Seperti halnya di dunia pekerjaan akan sangat risih apabila kita menemukan perempuan bekerja sebagai tukang batu, kondektur bis, atau kuli bangunan.

Tetapi kebebasan perempuan itu tetap dibarengi dengan tugas dan tanggung jawab sebagai perempuan. Perempuan memang diperbolehkan bekerja, namun harus tetap bertanggung jawab pada keluarga dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Memang dalam budaya ini, posisi perempuan tidak mendapatkan hak sepenuhnya atas hidup mereka, karena mereka tetap harus tunduk pada otoritas keluarga atau laki-laki.

Menelan Pil Pahit Maskulinitas

Budaya partiarki membawa dampak yang membuat laki-laki tidak dapat menunjukkan sisi kemanusiaannya atau pengungkapan rasa emosional dengan menangis.

Sering kita mendengar kata-kata bahwa laki-laki harus kuat dan tidak boleh menangis. Laki-laki tidak main boneka dan tidak main rumah-rumahan, tidak pakai baju pink, dan harus rambut pendek. Laki-laki harusnya berotot, tidak cengeng, harus berani, “ini lo cowok ntu kayak gini”. Ada banyak kata yang dapat mewakili sosok laki-laki yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Budaya partiarki membawa dampak yang membuat laki-laki tidak dapat menunjukkan sisi kemanusiaannya atau mengungkapkan emosionalitasnya dengan menangis. Karena kontruksi budaya tidak mengijinkan hal itu dilakukan oleh laki-laki. Menangis dianggap perilaku perempuan yang lemah.

Dengan begitu budaya partiarki telah mencetak laki-laki yang berkuasa, orang-orang yang melakukan kekerasan dan penindasan terhadap orang lain. Bertahun-tahun media telah menggembor-gemborkan maskulitas melalui iklan, film, dan sinetron. Sehingga setiap orang dapat melihat bahwa untuk menjadi laki-laki haruslah berkelahi, banyak perempuan, dan naik motor besar. Tanpa disadari, telah terbentuk kontruksi budaya bahwa begitulah caranya menunjukkan maskulinitas yang sudah dibelokkan oleh media. Para feminis akan menyebutnya dengan konsep maskulinitas tradisional, yang mengedepankan konsep maskulinitas dengan kekerasan, dominasi, dan intimidasi orang lain.

Konsep maskulinitas tradisional banyak disemai dan dibudidayakan oleh kebudayaan dan agama. Tidak dapat dipungkiri kebudayaan dan beberapa agama memang menempatkan perempuan sebagai nomor dua, dengan hak yang dikesampingkan. Sedangkan laki-laki yang ditempatkan pada nomor satu memiliki beban sosial yang sama beratnya dengan perempuan, dengan anggapan bahwa laki-laki tidak boleh memegang perkerjaan rumah membuatnya begitu ketergantungan dengan perempuan sehingga tidak mampu untuk hidup sendiri.

Dengan begitu ego patriarki telah mematikan pertahanan hidupnya sendiri, mengedepankan maskulinitas membuat laki-laki, dan banyak mengabaikan sisi kemanusiaannya. Hanya untuk sesuatu yang dianggap “normal” bagi laki-laki seperti itu, bahkan mungkin tidak sesuai dengan hati nuraninya sendiri. Salah satu organisasi yang berjuang untuk melakukan hal itu adalah Men of Strength Club (MOST Club). Mereka telah merintis program pencegahan kekerasan yang memberikan para pemuda di sekolah menengah, sekolah tinggi, dan perguruan tinggi yang mendukung pembangunan definisi individual maskulinitas untuk mempromosikan hubungan antar-gender yang lebih sehat.

Peran laki-laki dalam perjuangan feminis

Seiring berjalannya waktu nampaknya sudah ada banyak laki-laki mengalami pencerahan akan adanya ketidakadilan gender, yang menitikberatkan perjuangannya dalam membongkar budayanya sendiri yaitu partiarki.

Terasa wagu memang kalau melibatkan laki-laki dalam perjuangan feminis. Seperti yang banyak diketahui, perjuangan feminis hanya melihat aspek perempuan, sama sekali tidak ada unsur laki-laki. Laki-laki dianggap sebagai kelompok orang yang menikmati kebudayaan partiarki yang menguntungkan posisinya dan melegitimasi segala tindak opresi terhadap perempuan. Begitu sulit untuk menyadarkan laki-laki dalam gerakan feminis karena budaya partiarki menguntungkan dan memapankan posisi sebagai laki-laki dalam masyarakat.

Pendefinisian laki-laki dan maskulinitas yang dikontruksi oleh masyarakat dalam beberapa hal tertentu telah menyebabkan ketidakseimbangan hubungan laki-laki dan perempuan. Seperti  laki-laki yang harus rasional, tidak menyentuh pekerjaan rumah tangga, atau pun tidak mengasuh anak. Paling anti dikatakan ‘banci’ (keperempuan-perempuanan). Karena pada kenyataannya seseorang memiliki kualitas feminin dan maskulin yang berbeda. Konstruksi ini pada akhirnya menyebabkan lahirnya hirarki kekerasan, yang dilahirkan oleh laki-laki sebagai pemegang kekuasaan.

Seiring berjalannya waktu nampaknya sudah ada banyak laki-laki mengalami pencerahan akan adanya ketidakadilan gender yang menitikberatkan perjuangannya dalam membongkar budayanya sendiri, yaitu partiarki. Munculnya aliansi laki-laki baru yang mana mereka menyadari perjuangan feminis adalah perjuangan kebudayaan yang membutuhkan laki-laki dalam melakukan pendobrakan terhadap budaya yang menekan kedua jenis kelamin ini.

Namun dalam perjuangan pembebasan perempuan, perlu adanya keterlibatan laki-laki yang menghormati perempuan secara totalitas. “Semakin anda peduli, semakin anda laki-laki,” inilah slogan Aliansi Laki-Laki Baru yang dibentuk untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan dan keadilan gender. Sebagai bentuk keterlibatan laki-laki dalam perjuangan feminis, dengan melihat perempuan dari perspektif laki-laki yang menghormati perempuan.

Kalau perjuangan feminis adalah untuk membebaskan perempuan dari budaya partiarki, maka laki-laki harus menjadi bagian dalam perjuangan tersebut. Dengan melibatkan laki-laki dalam pendobrakkan budaya, memberi ruang bagi perempuan untuk menjadi otonom. Sehingga laki-laki yang menjadi bagian tersebut, tidak membingkai negatif bagi perempuan inovatif dan reformis, maka dibutuhkan penyadaran secara massif. Sehingga perempuan mempunyai kekuatan dan kesempatan untuk melawan penindasan dan ketidakadilan gender yang dibuat oleh masyarakat.

Forum ini ditulis oleh Arista Ayu Nanda, Pemimpin Umum LPM Lentera. Mahasiswa Sosiologi Fiskom UKSW.
Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan Lentera 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s