Kampus

Hadapi MEA, Fiskom Siapkan Kurikulum Pengembangan Mahasiswa

Fiskom mengadakan jumpa alumni dan praktisi untuk mempersiapkan kurikulum baru (Foto : BPHL UKSW).

Fiskom mengadakan jumpa alumni dan praktisi untuk mempersiapkan kurikulum baru (Foto : BPHL UKSW).

Dewi Kartika Sari, Kaprodi Ilmu Komunikasi, Fiskom, UKSW, siap sesuaikan kurikulum baru untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi. Kurikulum tersebut rencananya mulai diterapkan pada semester genap tahun ajaran 2015-2016, untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). “Pemerintah juga sudah mempersiapkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), itu yang perlu diimplementasikan,” ujar Dewi, Rabu (11/11).

Seperti yang termaktub dalam Perpres No 8/2012 tentang KKNI, dijelaskan bahwa KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja, serta pengalaman kerja. Hal tersebut dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor.

Tidak hanya di prodi Ilmu Komunikasi, Daru Purnomo, Dekan Fiskom UKSW, mengakui bahwa prodi Sosiologi dan Hubungan Internasional juga sedang melakukan restrukturisasi kurikulum. “Sebagai lembaga pendidikan, mempersiapkan SDM agar siap menghadapi MEA adalah suatu kewajiban,” tambah Daru.

Sebagai gambaran yang lebih konkret, Daru juga menjelaskan bahwa sifat kurikulum yang hendak diterapkan nantinya lebih banyak memberi pengalaman kerja untuk mahasiswa. Alasanya, agar aspek teoritis dan praktis berjalan seimbang.

“Misalnya, magang yang biasa dijalani selama dua atau tiga bulan nanti akan kita ubah. Selain itu, SKS-nya pun juga akan kita ubah, tidak hanya empat atau enam SKS, melainkan sekitar delapan hingga 12 sks. Mahasiswa akan magang selama enam bulan,” tambah Daru.

Seperti yang diberitakan Tempo, pada Senin (4/5), I Gusti Agung Wisakapuja, Dirjen Kerja Sama Asean Kemenlu RI, menganggap bahwa Indonesia memiliki kekurangan dalam menghadapi MEA. “Indonesia tidak mempunyai daya saing yang bagus, itu kerugiannya,” kata Gusti.

Untuk MEA di awal 2016, seperti yang diberitakan Antara, pada 13 November 2015, Syarif Hidayat, Sekjen Kementrian Perindustrian mengungkapkan bahwa, Indonesia perlu mempersiapkan kompetensi dan sertifikasi dibidang jasa. “Agar tenaga kerja kita memenuhi standar dan bisa diakui di negara ASEAN lainnya,” ujar Syarif.

Berita ini ditulis oleh Galih Agus Saputra, staf Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) LPM Lentera. Mahasiswa Jurnalistik Fiskom UKSW 2014.

Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s