Kampus

Guyon Serius Kampung Sebelah

Pertujukan Wayang Kampung Sebelah, di Lapangan Basket UKSW (Foto: Andri Setiawan).

Pertunjukan Wayang Kampung Sebelah, di Lapangan Basket UKSW (Foto: Andri Setiawan).

“Pak Polisi di situ, maling ada di sini, rumah kami di situ, rumah kami disini.” Itulah sedikit bait lagu pembuka dengan iringan musik dangdut melayu yang memecah malam di kampus Satya Wacana. “Dok dok dok dok,” palu kayu bergeming, dalang mulai berucap.

Belum lama mulut sang dalang ber-komat-kamit, musik melayu kembali berdendang. Lagu Selayang Pandang ditabuh, dalang mulai memainkan wayang berbaju lorek, Cak Dul namanya. Puas menari, Cak Dul mulai memperkenalkan dirinya dengan logat khas Madura.

Rupa-rupanya, kali itu Desa Bambujiwo sedang mengadakan pemilihan Kepala Desa. Cak Dul pun mempersilahkan salah satu calon untuk berkampanye. Dendang lagu kembali mengiringi kedatangan satu lagi tokoh wayang. Kali ini lagu Pemilihan Umum mengiringi Pak Klungsur, calon Kepala Desa Bangunjiwo. Pertunjukan wayang kali ini banyak diselingi musik yang enerjik. Ya, memang sudah ciri khas Wayang Kampung Sebelah.

Wayang Kampung Sebelah (WKS) merupakan seni wayang kontemporer yang dibuat oleh kelompok seniman dari Surakarta, yang menarik dari WKS adalah kemasan wayangnya yang tidak seperti wayang kulit klasik. WKS menyuguhkan berbagai macam karakter yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti Hansip, Polisi, Lurah, Modin, serta warga biasa. Bentuknya pun lebih moderen. Sendi kaki dan leher bisa digerakkan.

Cerita yang dibawakan sang dalang, Jlitheng Suparman pun tak jauh dari cerita di kehidupan sehari-hari. Diselingi humor-humor sederhana, penonton dibuat larut dalam tawa. Tak ayal penonton pun bisa ikut menimpali cerita. Lakon-lakon kocak dan gaya bicara yang cukup unik dari tiap tokoh wayang begitu mengena ditelinga.

Pertunjukan kali ini digelar oleh Kekancan Management di Lapangan Basket UKSW, Jumat (27/11). Acara kelompok mahasiswa Fiskom angkatan 2012 yang mengambil mata kuliah Manajemen Pertunjukan tersebut bertajuk Salatiga Wayang Project. “Wayang itu identik dengan orang tua dan kuno, sedangkan kita segmentasinya mahasiswa. Bagaimana caranya wayang dan mahasiswa itu bisa nyambung. Kemudian kita pakai Wayang Kampung Sebelah,” ujar Anggy Triyasyanti, Ketua Kekancan Management.

Anggy menambahkan, “Wayang Kampung Sebelah menyampaikan sesuatu yang serius dengan cara yang tidak serius. Anak muda sendiri kalau diberikan humor lebih dapat tersampaikan pesannya dari pada to the point.”.

Suara Kok Dihitung

Sebut saja Mbah, entah siapa namanya, tak disebut oleh dalangnya. Bisa dibayangkan sebagai seorang kakek tua dengan suara serak melengkingnya, kadang kolot dan menyebalkan, kadang pula bijaksana. Juga Paijo dan Sodron, hansip desa yang jenaka dan banyak bicara. Mereka pun menghitung suara hasil pemilihan kepala desa Bangun Jiwo.

Yang menarik adalah sang dalang memasukan kritik terhadap demokrasi. Ketika si Mbah mencari papan tulis untuk menghitung suara, seorang bocah botak pun berujar. “Nggak logis, nggak masuk akal, nggak rasional, nggak ilmiah. Suara kok dihitung, menghitungnya gimana? nggak masuk akal. Dalam demokrasi itu, suara bukan hitung-hitungan. Namanya demokrasi, kedaulatan ditangan rakyat. Suara itu bukan dihitung tetapi untuk didengarkan, untuk disimak aspirasi rakyat, kemudian dijadikan kebijakan.” Sontak penontonpun bertepuk tangan meriah.

Si bocah botak pun menambahkan, bahwa rakyat tidak menjadi subyek tapi hanya menjadi obyek kemenangan. Akhirnya suara rakyat hanya sebagai angka kemenangan, bukan subyek yang harus diperhatikan suara dan aspirasinya. Itu kesalan demokrasi saat ini. Tepuk tangan penonton kembali riuh rendah di muka panggung.

Lanjut cerita, terpilihlah Pak Somad sebagai Kepala Desa yang baru. Pak Somad pun berpidaato atas kemenangannya. Dalam pidatonya yang bertele-tele dan tidak berisi, si Mbah pun mempertanyakan kredibilitas Pak Somad. Ternyata memang Pak Somad terpilih karena memberi sogokan kepada warga desa. “Lurah ki nek nyeket ewu yo koyo ngene, menang mergo kowe sing do coblosan entuk duwit skeet ewu,” ujar si Mbah. Artinya, lurah kalau lima puluh ribuan ya seperti ini, memang karena kalian peserta pemilu mendapat uang 50 ribu (-red).

Kata Pak Polisi

Pesta kemenangan Pak Somad digelar meriah, para warga berbondong-bondong mengunjungi rumah Pak Somad. Adalah Kampret dan Lik yang ditilang polisi ketika dalam perjalanan menggunakan motor tua si Kampret. Sedikit berbasa-basi si Kampret mengulurkan uang kertas 20 ribu kepada Pak Polisi. Namun dengan sigap Pak Polisi pun menolaknya.

“Polisi itu harus menegakkan hukum,” ujar Pak Polisi.

“Lha kenyataanya pada mau di sogok gitu kok,” sahut Kampret.

“Itu namanya oknum, ojo di gebyah uyah (jangan di sama ratakan -red),” jawab Pak Polisi

Pak Polisi menambahkan, memang banyak oknum yang mau di sogok, tapi masyarakat sendiri juga sering memancing terjadinya penyogokan. Dengan memberikan uang damai, masyarakat sudah memancing penyimpangan. Jadi yang salah bukan hanya aparat, tetapi masyarakat juga harus sadar telah melakukan penyimpangan.

“Masyarakat banyak yang belum tau. Sebernarnya, masyarakat sendiri bisa melaporkan jika aparat melakukan kesalahan atau penyimpangan. Ada lembaga yang namanya Ombudsman Republik Indonesia (ORI). Gratis, tidak dipungut biaya apapun,” tambah Pak Polisi.

Lawan!

Di halaman rumah Pak Somad, pesta kemenangan sudah dimulai. Mulai dari pedangdut Koma Ramarimari, plesetan Roma Irama yang membawakan lagu Sahabat. Juga Syahmarni, plesetan Syahrini membawakan lagu Pusing Pala Berbie, dengan goyangannya yang pencilakan memecah tawa penonton. Bob Marna, plesetan Bob Marley menyanyikan lagu Sayidan. Ada lagi Minul Darahtinggi, plesetan Inul Daratista yang membawakan lagu Liku sambil ngebor.

Ketika Minul sudah selesai tampil, tiba-tiba seorang laki-laki naik keatas panggung dan meminta agar acara dibubarkan. “Panggung ini harus dibubarkan, sebab Somad menang dengan curang. Dia menang dengan money politic. Ini telah mencederai demokrasi, jadi Somad harus diturunin dari Lurah. Kita harus memperjuangkan kebenaran. Lawan!”.

“Mbelgedes, tak usah ngomong kebenaran, bagiku kebenaran cuma satu, Dangdut!” tegas Kampret.

Mungkin bagi Kampret, sebagai rakyat kecil yang tidak paham politik, yang penting bisa makan dan mendapat hiburan rakyat seperti dangdut, itu sudah cukup.

Akhirnya terjadi kericuhan di atas panggung antara pihak yang pro dan kontra.

Lagu tempo cepat dan riuh pun mulai menggema. Namun sesaat berhenti dan bunyi seruling bambu terdengar. Lagu lirih dinyanyikan, “Ono cecak nguntal cagak, nduwur penak ngisor di tekak, Indonesia adil makmur…”.

Pertunjukan malam itu selesai dengan nasihat dari si Mbah. “Mlarat keno ning ojo pekok. Lha wong mereka itu orang-orang yang mencari selamat kok kamu minta mereka untuk menyelamatkan rakyat. Inilah pentingnya kita mawas diri. Perlu kita merubah paradigma, bangkit membangun kedaulatan, kemandirian, dan kepribadian. Agar bangsa tidak bubar.”.

Lagu semangat pun kembali menggema. Lirik-lirik perjuangan menutup acara bersamaan dengan ditancapkannya gunungan wayang.

Liputan oleh Andri Setiawan, Staf Penelitian LPM Lentera, mahasiswa Ilmu Komunikasi -Jurnalistik angkatan 2014, Fiskom UKSW.

Penyunting: Galih Agus Saputra

Iklan Lentera 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s