Pelesir

Kawah Putih, Pesona Warna di Kota Kembang

Pemandangan di Danau Kawah Putih (Foto: anekatempatwisata.com)

Pemandangan di Danau Kawah Putih (Foto: anekatempatwisata.com)

Bandung merupakan suatu daerah yang memiliki berbagai macam tempat wisata keluarga. Mulai dari wisata alam, kuliner dan sebagainya. Namun kali ini, saya akan bercerita tentang salah satu tempat wisata, yang beberapa waktu lalu saya kunjungi, yaitu objek wisata alam Kawah Putih, di daerah Ciwidey.

Perjalanan menuju Kawah Putih menghabiskan waktu kurang lebih satu jam dari pusat kota Bandung. Jalannya nanjak karena berada di daerah dataran tinggi, atau tepatnya di bawah puncak Gunung Patuha, pada ketinggian 2090 MDPL. Wisatawan akan merasakan hawa dingin yang cukup membuat tubuh mengigil setibanya disana. Bau belerang yang cukup khas, pun cukup menusuk hidung.

Kawah Putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Wisatawan dapat berkunjung  ke sana menggunakan kendaraan pribadi, atau kendaraan umum yang disediakan oleh pengelola wisata. Setelah berkendara, pengunjung harus berjalan sejauh 400 M terlebih dahulu untuk tiba di danau tersebut. Tanahnya berwarna putih karena bercampur belerang, sedangkan air danau berwarna biru laut dan putih kehijauan. Danau Kawah Putih juga memiliki keunikan tersendiri, kadang kala airnya berubah warna, itulah pesonanya. Beberapa gua yang merupakan pusat belerang juga dapat kita jumpai di kawasan tersebut. Pepohonan hijau juga menjadi pemandangan yang luar biasa.

Apabila wisatawan berkunjung di musim kemarau, tentu akan lebih indah karena embun tak begitu tebal. Pemandangan lebih jelas dan pakaian pun tidak terlalu basah. Wisatawan disarankan untuk menggunakan masker agar tidak menghirup aroma belerang secara langsung, karena menghirup bau belerang terlalu lama cukup membuat pusing kepala. Meski demikian, banyak juga pedagang penjual belerang di sana. Belerang juga dipercaya memiliki berbagai macam khasiat untuk kesehatan.

Perjalanan dari gerbang wisata menuju ke Kawah Putih menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit, melewati kebun kopi dan hutan. Keselamatan berkendara harus dijaga karena jalan yang berkelok-kelok. Apalagi saat musim penghujan, kabut yang turun membuat jarak pandang semakin berkurang.

Liputan pelesir oleh Glovena Valentine Wijaya, wartawan magang di LPM Lentera. Mahasiswa Broadcasting Fiskom UKSW 2014.

Penyunting: Galih Agus Saputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s