Litera / Ragam

Tan Malaka, Logika Mistika, dan Jembatan Keledai

Sampul Buku: #MADILOG medias

Sampul Buku: #MADILOG medias

Penulis : Tan Malaka
Penerbit : Narasi
Tahun : 2015 (Cetakan keempat)
Tebal : 566 Halaman

Naskah Madilog ditulis oleh Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka, seorang aktivis kemerdekaan, selama delapan bulan, pada 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943, di dekat sebuah pabrik sepatu di Kalibata, Jakarta. Madilog masuk ke dalam daftar 100 buku yang berpengaruh dan berkontribusi terhadap gagasan kebangsaan versi majalah Tempo.

Menurut Tan Malaka, butuh tiga tahapan untuk menjadi sebuah bangsa yang maju, yang dimulai dari tahap logika mistika, kemudian filsafat, dan ilmu pengetahuan. Nah, bangsa Indonesia ia nilai masih terbelakang dan tertinggal ketimbang bangsa lain. Ia melihat bangsa Indonesia masih memasuki tahap pertama dalam kemajuan peradaban manusia. Dalam tahap tersebut, bangsa Indonesia masih seringkali mengandalkan kekuatan-kekuatan gaib, mengadakan mantra, doa-doa, sesajen dan sebagainya untuk mengatasi suatu persoalan. Melihat kenyataan tersebut banyak terjadi di Indonesia, Tan Malaka kemudian menyusun Madilog.

Walau Tan Malaka adalah seorang marxis, Madilog bukanlah semacam ajaran partai atau ideologi proletariat. Buku ini merupakan cita-cita Tan Malaka untuk bangsa Indonesia, agar terbebas dari apa yang ia sebut sebagai logika mistika. Madilog sebagian besar mengikuti konsep materialistik-dialektik Fredrich Engels, dan terbebas dari buku-buku Marxisme-Leninisme yang menuntut ketaatan pembaca terhadap Partai Komunis.

Madilog sebagaimana dimaksud oleh Tan Malaka, merupakan cara berpikir berdasarkan materialisme, dialektika, dan logika. Hal tersebut berfungsi untuk menelaah ‘sebab akibat,’ yang notabene berdiri diatas bukti empiris, yang diperoleh berdasarkan kajian.

Ada satu hal yang saya senangi dari Madilog, Tan Malaka mempopulerkan teknik mengafal yang kemudian disebutnya sebagai ‘jembatan keledai.’ Proses kelahiran ‘jembatan keledai’ erat kaitannya dengan perampasan yang dilakukan oleh polisi terhadap pustaka yang dimiliki oleh Tan Malaka, semasa pergerakannya di berbagai daerah. ‘Jembatan keledai’ adalah teknik menghafal berdasarkan beberapa pengertian (mirip akronim). Madilog juga merupakan salah satu contoh ‘jembatan keledai’ buatan Tan Malaka, yang terdiri dari kata Materialisme, Dialektika, dan Logika.

Tan Malaka juga beranggapan bahwa ‘jembatan keledai’ itu penting sekali untuk pelajar di sekolah, maupun seorang pemberontak-pelarian. Bagi Tan Malaka, seorang pelarian politik itu mesti ringan bebannya. Mereka tak boleh diberatkan oleh benda-benda, seperti buku atau pakaian. Pun hatinya tak boleh diikat oleh anak istri, keluarga serta handai tolan. Demikian, lanjut Tan Malaka, seorang pemberontak haruslah seperti “marsuse,” setiap detik harus siap sedia meninggalkan apa yang bisa mengikat dirinya lahir batin.

Madilog disusun berdasarkan “jembatan keledai” Tan Malaka, bahkan dapat dikatakan magnum opus tersebut dikerjakan berdasarkan hafalan, yang sengaja ia penjara dalam otaknya selama bertahun-tahun. Kalau begitu, sepertinya sah-sah saja, bila ada literatur yang luput atau ada yang tidak tersampaikan perihal pengertian tentang materialisme, dialektika, dan logika.

Walau demikian, karya Tan Malaka yang satu ini merupakan panduan berfikir yang sangat istimewa dan layak ketahui oleh siapa saja. Publik perlu mengkonsumi Madilog, karena persoalan itu seharusnya konkret, sistematik, beralur, dan dapat diuji kesahihannya. Di samping itu, yang paling penting adalah cara berpikir yang ditawarkan Tan Malaka cukup membantu khalayak agar terbebas dari kungkungan realitas yang serba kabur.

Resensi Buku oleh Galih Agus Saputra, staf Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) LPM Lentera. Mahasiswa Jurnalistik Fiskom UKSW 2014.

Penyunting: Bima Satria Putra

Iklan Lentera 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s